Saturday, June 12, 2010

PENDERITAAN MENURUT AGAMA BUDDHA: SEBUAH TINJAUAN KRITIS DARI PERSPEKTIF KRISTEN (Oleh: Ev. Bedjo Lie, M.Div.)

PENDERITAAN, SEBUAH FAKTA UNIVERSAL
Banjir lumpur, gempa bumi, tsunami dan kemiskinan, mungkin itulah yang kita pikirkan ketika berbicara tentang penderitaan di Indonesia. Kita hidup dalam konteks bangsa yang sedang mengalami krisis multidimensi plus tertimpa banyak bencana baik yang alami maupun ”buatan”. Dalam kondisi seperti ini, terkadang kita tergoda untuk berpikir bahwa hidup di Indonesia sungguh tidak mengenakkan. Lalu pikiran kita menerawang dan berimajinasi untuk tinggal di negara-negara maju seperti Amerika Serikat atau Jepang dan berpikir bahwa kondisi disana akan jauh lebih baik. Tetapi, pikiran demikian tentu tidak benar. Itu adalah mitos dan bukan fakta. Yang terjadi adalah, penderitaan merupakan bagian dari umat manusia dimanapun ia berada, di negara maju, maupun yang kurang maju, kecil maupun besar, komunis maupun kapitalis, agama maupun sekuler. Hanya bentuk, tingkatan dan penyebabnya saja yang berbeda-beda. Penderitaan adalah fakta universal!
Penderitaan juga melampaui horison waktu, ia ada dulu, sejak zaman dahulu kala sampai sekarang dan juga di masa mendatang. Penderitaan adalah fakta yang tidak hanya universal tetapi juga “seolah-olah” abadi. Justru karena itulah, berbicara mengenai penderitaan merupakan hal yang menarik, paling tidak bagi orang yang punya keprihatinan dan mau berkontemplasi tentang kehidupan.
Sidharta Gautama (563-483 S.M.) adalah jenis orang seperti itu. Sebagai seorang guru, pendiri agama Budha, ia adalah orang yang dianggap memiliki banyak hikmat dan kebijaksanaan. Akan tetapi jikalau kita memperhatikan pengajarannya yang utama, maka kita akan segera menemukan tema sentral PENDERITAAN dalam pengajarannya. Kebenaran-kebenaran mengenai penderitaan ini terangkum dalam pengajarannya yang disebut Empat Kebajikan Kebenaran (Four Noble Truth).
Dalam tulisan ini, kita akan memberikan tinjauan kritis atas pengajaran Budha tentang penderitaan yang terdapat dalam Empat Kebajikan Kebenaran. Oleh karena itu, maka tulisan ini akan mengalir sebagai berikut. Pertama, sejarah singkat kehidupan Budha sampai dengan masa ia mengalami pencerahan. Hal ini penting untuk menyediakan konteks lahirnya pemikiran Buddha tentang penderitaan. Kedua, pemaparan mengenai konsep penderitaan dalam Empat Kebajikan Kebenaran. Selanjutnya, tinjauan kritis atas konsep Empat Kebajikan Kebenaran tersebut dari sudut pandang Kristen.1) Terakhir, sebuah kesimpulan dan aplikasi.

PERGULATAN SIDHARTA GAUTAMA MENCARI KEBENARAN
Sidharta Gautama adalah seorang pangeran kerajaan, dibesarkan dalam istana yang mewah di perbatasan Nepal. Tetapi aneh, hatinya justru terpaut pada realitas di luar. Ia menengok ke luar dari dirinya sendiri dan menemukan orang-orang, realita-realita yang membuatnya berempati, simpati dan kemudian mengambil aksi. Orang-orang yang bagaimana itu? Realita apa saja yang ia temui? Jawabannya menyedihkan! Ia menyaksikan orang-orang yang menderita, dan menemukan realita-realita penderitaan dalam berbagai bentuk. Orang miskin yang terkapar di jalan, yang hari demi hari mengejar kebutuhan hidup yang tak kunjung terjangkau, orang yang tertimpa penyakit yang tak kunjung sembuh, dan akhirnya orang-orang yang menangis meratapi kematian saudara mereka. Bagaimana dengan orang kaya? Mereka pun mengalaminya. Rasa tak puas, was-was dan gelisah, kecewa dan murung karena dihantui berbagai macam penyakit yang setiap waktu dapat membawa ke liang pahat. Itulah sebagian dari penderitaan bagi orang-orang kaya.2) Bukankah itu semua tidak kurang sedikit dibandingkan orang miskin?
Sang pangeran yang berumur 29 tahun itu merenung. Ia sadar bahwa penderitaan adalah jalan dari semua orang. Tetapi bagaimana cara melepaskan diri dari fakta ini. Ia masuk ke dalam pencarian akan kebenaran, suatu kebenaran yang filosofis sekaligus praktis. Sidharta muda lalu memutuskan untuk meninggalkan kerajaan, ia ingin belajar akan kebenaran. Tanpa uang, dengan meninggalkan keluarga, ia pergi dan belajar pada guru terkenal Alara dan Uddaka, tetapi ia tidak puas pada pengajaran mereka. Masa selanjutnya dari pengembaraannya ditandai dengan tindakan asketis yang ekstrem. Ia tinggal di hutan belantara, tubuhnya kurus kering karena makanan yang terbatas. Tetapi ia akhirnya menemukan, asketisisme yang demikian adalah ilusi belaka, tidak membawa pada jalan realisasi diri.3)
Dalam pencarian kebenaran selanjutnya, suatu kali ia duduk dibawah pohon berdaun lebar dan berbuahkan semacam buah pir yang sarat dengan segala macam biji 4), pada saat itulah ia merenungkan berbagai macam teka-teki kehidupan. Semalam suntuk ia merenung dan pagi harinya ia tersentak karena ia telah menemukan kebenaran, Sidharta telah mendapat “Enlightenment” bagi pergumulannya mengenai kehidupan. Mulai saat itulah orang menyebut ia “Budha” atau “ orang yang mendapat penerangan”.
Pada saat itu, umurnya menginjak 35 tahun. Sisa umurnya yang 45 tahun dipergunakannya berkelana di sepanjang India Utara, menyebarkan filosofinya ke banyak orang dan akhirnya pengaruhnya pun dengan cepat meluas. Saat dia wafat pada tahun 483 S.M. sudah ratusan ribu orang menjadi pemeluk ajarannya. Kemudian tradisi oral mengenai ajarannya pun diwariskan dari generasi ke generasi.5) Kekayaan dari ajaran Budha yang terutama ini disebut Empat Kebajikan Kebenaran.

EMPAT KEBAJIKAN KEBENARAN (THE FOUR NOBLE TRUTH) 6)
Pencerahan yang dialami Budha telah membawanya pada kebenaran-kebenaran tentang kehidupan. Apabila diringkaskan maka pengajaran Budha dapat dibuat dalam empat proposisi utama yang memiliki tema sentral “penderitaan”. Penderitaan ini dapat dikatakan menjadi orientasi dasar dari Budhisme sepanjang masa dan dimana saja.
Pembahasan kita mengenai penderitaan akan mengikuti alur berikut: masalah (The Disease), penyebab (The Cause), penyembuhan/penghentian (The Cure) dan terakhir jalan keluar (The Medicine).7)

Masalah/penyakit: Penderitaan (Dukkha)
Dukkha adalah “penderitaan” itu sendiri. Hidup ini dipenuhi oleh realitas penderitaan sejak dari lahirnya manusia sampai pada kematian menjemputnya.8 Bagi Budha, lahir adalah penderitaan, menjadi tua adalah penderitaan, sakit adalah penderitaan, mati adalah penderitaan, kesedihan, ratapan, kesakitan dan ketidakbahagiaan, semuanya itu adalah penderitaan. Fakta penderitaan ini disadari oleh Budha sebagai bersifat universal, artinya semua orang mengalaminya, tidak peduli orang kaya, miskin, tua, muda, dst.9)
Konsep dukkha dalam pengajaran Budha dapat dibagi dalam tiga jenis. Pertama, penderitaan sebagai rasa sakit (pain). Ini adalah “self-evident suffering”. Ketika kita berada dalam sakit mental ataupun fisik, jelaslah bahwa terdapat dukkha. Bahkan ketika kita sedang menikmati sesuatu atau pada saat tidak ada sesuatu yang secara khusus membuat kita tidak bahagia, hal-hal selalu bisa berubah: apa yang kita nikmati dapat segera berlalu atau sesuatu yang tidak menyenangkan dapat muncul begitu saja. Inilah yang disebut dukkha sebagai perubahan. Selanjutnya, Budha juga berbicara mengenai dukkha sebagai kondisi. Dalam pengertian ini, Budha berbicara mengenai natur dari dunia yang bersifat tidak stabil dan tidak tetap. Dunia ini pada dasarnya berisi kesakitan dan kesenangan, penderitaan dan kebahagiaan, semuanya
saling kait-mengait dan membentuk realitas.10)

Penyebab penderitaan: Keinginan/kehausan (Tanha)
Budha sangat menekankan mengenai tanggungjawab manusia atas penderitaan yang dialaminya dalam dunia. Ia menyatakan bahwa pada umumnya keinginan atau “kehausan”11) dapat dianggap sebagai penyebab kepedihan hidup. Hal ini terjadi karena keinginan ini sendiri adalah sesuatu yang tidak dapat dipuaskan secara tuntas. Keinginan ini dapat digolongkan ke dalam tiga kategori: (1) keinginan untuk kesenangan sensual atau inderawi, misalnya: menginginkan benda-benda; (2) keinginan untuk eksistensi dan menjadi sesuatu, misalnya ingin menjadi seseorang dengan karakteristik tertentu atau ingin hidup kekal; (3) keinginan untuk noneksistensi. Artinya, kadangkala kita ingin untuk mati, dan kalau bisa memilih, maka kita memilih untuk tidak lahir di dunia ini.12) Keinginan-keinginan inilah yang menjadi penyebab dari adanya penderitaan.
Penghentian penderitaan: nirwana Dalam kehidupan sehari-hari, biasanya kita selalu berusaha untuk memenuhi dan memuaskan “keinginan” kita agar mencapai kebahagiaan. Akan tetapi, ketika kita melakukan hal ini maka kita sedang melekatkan diri kita pada hal-hal yang sebenarnya tidak dapat dipercaya, tidak stabil, berubah terus menerus dan tidak permanen. Sepanjang kita selalu berusaha untuk melekatkan diri pada hal-hal ini, sebenarnya kita sedang melestarikan penderitaan. Oleh karena itu, jikalau kita ingin melepaskan diri dari penderitaan, jalan menuju kepada hal itu adalah dengan cara melepaskan, atau membiarkan segalanya berlalu. Ini adalah solusi yang radikal dan sekaligus sangat sederhana. Jikalau “keinginan” adalah penyebab penderitaan, maka jalan penghentian penderitaan adalah dengan cara meninggalkannya, melepaskannya atau membiarkannya pergi. Inilah yang sebenarnya merupakan tujuan dari jalan Budha, pelepasan dari penderitaan, pencapaian kebahagiaan tertinggi, Nirwana.13)
Nirwana ini pada dasarnya berbicara mengenai “Extinction of Thirst” atau “padamnya keinginan”. Akan tetapi harus disadari bahwa Nirwana merupakan konsep yang jauh lebih rumit dan abstrak dari sekedar padamnya keinginan.14) Yang penting untuk diketahui adalah bahwa agama buddha percaya bahwa nirwana ini dapat dicapai manusia selagi ia masih hidup (sopadisesa nibbana) ketika seorang buddhis telah mampu melepaskan keinginnanya. Selain itu, Nirwana tentu juga bisa diraih ketika seseorang sudah meninggal (anopadisesa nibbana).15)

Jalan penghentian penderitaan: Jalan Tengah.
Jalan menuju pada penghentian penderitaan ini disebut Jalan Tengah (Middle Way) karena ia menghindari dua ektrem: ekstrem yang satu ialah mencari kebahagiaan melalui kesenangan dari indera yang bersifat “rendah, umum, tidak menguntungkan dan menjadi jalan bagi orang-orang pada umumnya” ; jalan lain adalah mencari kebahagaian melalui “self-mortification” dalam berbagai bentuk asketisme yang bersifat “menyakitkan, tidak layak dan tidak menguntungkan”. Sebenarnya Budha telah mencoba kedua ekstrem tersebut sampai akhirnya ia menyadari bahwa kedua jalan yang ekstrem tersebut adalah tidak berguna, dan hanya jalan tengah yang dapat membawa pada pencerahan, Nirwana. Jalan tengah ini biasanya juga disebut delapan jalan kebajikan (Noble Eightfold Path) karena terdiri dari delapan kategori atau pembagian yaitu:16)



TINJAUAN ATAS KONSEP PENDERITAAN DALAM “EMPAT KEBAJIKAN KEBENARAN”

Penderitaan (Dukkha)

Kecermatan Budha dalam melihat penderitaan sebagai fenomena yang perlu mendapatkan perhatian dalam pengajarannya adalah sesuatu yang tepat. Sesungguhnya, justru karena ia berbicara mengenai tema yang membumi inilah maka banyak orang mengikutinya. Siapakah yang tidak ingin lepas dari penderitaan? Siapakah yang tak ingin mendapatkan kebahagaian? Tentu saja semua orang menginginkannya. Maka dari itulah ajaran Budha mampu menarik simpati banyak orang.17)
Walaupun demikian, ada beberapa hal yang perlu kita tanggapi dari pemikiran Budha mengenai penderitaan atau dukkha ini.
1. Budha menganggap bahwa kelahiran manusia ke dalam dunia itu sendiri adalah suatu penderitaan, demikian pula proses menjadi tua, dan kematian. Bagi penulis, konsep demikian adalah konsep yang tragis dan tidak perlu dimiliki oleh manusia18, apalagi orang Kristen. Sebagai orang Kristen kita percaya bahwa hidup adalah suatu anugerah dari Tuhan, oleh karena itu, kelahiran anak adalah berkat bagi orang tua, dan kesempatan yang indah bagi manusia yang lahir itu untuk hidup bahagia dalam rencana Tuhan. Proses menjadi tua dan kematian juga tidak perlu dipandang secara pesimis sebagaimana diajarkan Budha. Memang benar bahwa, dalam prsoes menjadi tua biasanya terdapat ketakutan, kelemahan-kelamahan fisik yang makin meningkat dan masalah-masalah lain. Akan tetapi hal ini tidaklah berarti bahwa proses itu sendiri bukanlah sesuatu yang baik. Paulus dalam Flp. 1:21-22 bahkan ingin segera meninggalkan tubuh yang fana ini untuk bertemu dengan Tuhan Yesus. Proses menjadi tua dan kematian bagi orang Kristen adalah proses mendekati surga dengan segala kepenuhannya, tidak ada ratap tangis dan duka di dalamnya, hanya ada sukacita. Dengan pemahaman demikian ini maka seharusnya orang Kristen tidak perlu menilai proses menjadi tua ataupun kematian itu sendiri sebagai sesuatu yang buruk.19)
2. Berikutnya, pemahaman Budhisme mengenai dukkha sebagai perubahan. Konsep Budha mengenai perubahan segala sesuatu (impermanence) menyatakan bahwa hal-hal yang dapat menyebabkan kesukaan bagi kita saat ini dapat sewaktu-waktu meninggalkan kita dan berubah menjadi sesuatu yang tidak menyenangkan. Ini adalah adalah suatu pengajaran yang positif dan realistik. Heraclitus, sang filsuf Yunani juga mengajarkan bahwa “kita tidak dapat memasuki sebuah sungai yang sama dua kali”. Ada aliran yang senantiasa membuat perubahan dalam segala sesuatu. Sebenarnya Alkitab juga membicarakan tentang “kesementaraan” dari harta-kekayaan / materi dalam Mat 6:19. Kesementaraan ini membuat kita tidak layak untuk bersandar atau meletakkan kebahagiaan kita pada hal-hal yang fana seperti harta, dll. Akan tetapi, selain hal-hal diatas, jelas bahwa Alkitab juga menyatakan tentang beberapa hal yang tidak berubah misalnya : (1) Firman Allah yang tidak berubah selama-lamanya (Mat 5:18); (2) Tuhan tidak berubah (Mal. 3:6).
3. Dalam konsep dukkha sebagai kondisi, maka kita dapat sependapat dengan Budha yang menyatakan bahwa realitas penderitaan adalah fakta yang terjadi dalam dunia dan hadir disamping realitas kebahagiaan. Akan tetapi perlu dicatat bahwa realitas penderitan ini hadir sebagai sesuatu yang diijinkan Allah dan ini tidak bersifat kekal akan tetapi bersumber pada kejatuhan manusia dalam dosa (Kej. 3).

Keinginan/kehausan (Tanha)
Ada beberapa tanggapan yang bisa kita berikan mengenai konsep Budha atas “kehausan” atau keinginan yang kuat sebagai penyebab penderitaan.
1. Kontradiksi mengenai “keinginan” dalam pengajaran Budha. Di satu sisi Budha menganggap bahwa keinginan pribadi untuk suatu pemenuhan tertentu adalah jahat, akan tetapi sebaliknya Budha juga mendorong orang untuk memiliki keinginan dan mencari pencerahan pribadi. Menurut pengajarannya, seseorang seharusnya menginginkan untuk diselamatkan atau dibebaskan dari sikap berpusat pada diri sendri (selfishness) karena sikap inilah yang menyebabkan penderitaan. Akan tetapi kontradiksi moralnya ialah: seseorang harus menginginkan untuk dapat diselamatkan dari keinginan atau selfishness. Sementara itu, menginginkan untuk menyelamatkan diri sendiri adalah sama egoisnya dengan tindakan-tindakan lain yang pada akhirnya ditujukan untuk kepuasan diri sendiri. Jadi, jikalau seserorang ingin mendapat pencerahan ia tetap harus “ingin”, sedangkan “ingin” itu sendiri adalah suatu kesalahan yang justru mencegah pencerahan.20 Disinilah kita melihat adanya problem kontradiksi dalam pengajaran mengenai jalan pembebasan dari penderitaan.21)
2. Mengapa Sidharta Gautama, sang Budha sendiri justru memasuki Nirwana? Bukankah dengan demikian ia bertindak egois? Para biarawan biasanya menjawab dengan mengatakan bahwa pertanyaan diatas tidaklah relevan karena Budha bukanlah manusia saja melainkan juga memiliki sifat ilahi. Menurut mereka, Budha adalah manifestasi dari esensi ilahi yang ada/hadir di bumi. Dia bukanlah daging dan tubuh. Hanya nampaknya saja ia adalah manusia, sesungguhnya ia adalah ilusi, sebuah penampakan. Orang-orang berpikir bahwa mereka melihat dan mendengar seorang manusia, padahal bukan. Sidharta Gautama adalah Allah yang menunjukkan dirinya kepada dunia untuk memberitakan mengenai pencerahan.
Dalam pengajaran diatas, sebenarnya terlihat bahwa konsep inkarnasi mulai berkembang.
Budha adalah khayalan belaka, sebuah ilusi. Dan oleh karena ia bukan manusia maka ia dapat memasuki Nirwana. Dengan memberikan pengajaran sedemikian ini sebenarnya para pengikut Budha atau agama Budha sudah mengadakan penyesuaian besar (revisi) yang kedua dari pengajarannya yang mula-mula.22) Disinilah kita melihat kembali bahwa memang setiap masalah dari pengajaran agama Budha ini akhirnya dapat dicarikan jalan keluarnya oleh para pengikutnya. Akan tetapi mereka melakukannya dengan cara mengubah dan mengadakan revisi atas pengajaran Budha yang mula-mula. Pengikut Budhalah yang telah mengajarkan konsep bahwa Budha adalah Allah yang menjelma menjadi manusia, Budha sendiri tidak pernah dicatat mengajarkan hal yang demikian.23)
3. Tidak ada penjelasan yang memadai mengenai penderitaan fisik yang diluar kontrol manusia seperti bencana alam, terbunuh secara tidak sengaja, dll. Budha tampaknya kurang membedakan berbagai kategori penderitaan. Budha mengenai menyatakan bahwa penderitaan adalah akibat dari mengingini sesuatu secara kuat. Dengan ini sebenarnya Budha sedang berbicara mengenai penderitaan eksistensial akibat dari keinginan yang tidak terpenuhi atau terpenuhi sementara namun tidak terus menerus. Akan tetapi kita bertanya sekarang, bagaimana dengan penderitaan akibat bencana alam, tertabrak oleh pengemudi yang mabuk dan tertembak peluru nyasar. Kita tidak mengingini apapun tetapi penderitaan itu datang dengan sendirinya. Penderitaan dalam hal-hal diatas tidak datang akibat dari keinginan kita. Tetapi mungkin Budha akan menjawab, “terimalah itu semua sebagai realita hidup, dukkha adalah realita hidup manusia dan kondisi manusia”. Tetapi kita dapat bertanya mengenai sumber dari penderitaan yang demikian, mengapa ada bencana alam, mengapa ada dukkha sebagai realita hidup dan kondisi ? Disini Budhisme tampaknya tidak memiliki jawaban yang tuntas. Buku-buku mengenai budhime tidak menjelaskan darimana atau mengapa terjadi hal-hal yang demikian dalam hidup manusia. Budha hanya menyatakan bahwa itu merupakan realita dan kondisi dunia. Berbeda dengan itu, teologi Kristen memberikan jawaban yang memiliki koherensi di dalam banyak dokrtin untuk menjawab hal ini. Berikut ini adalah penjelasan Alkitab untuk penderitaan fisik (The Problem of Physical Pain/Evil).
1) Adam dan Hawa telah jatuh ke dalam dosa (Kej 3), dan semua manusia turut berdosa di dalam Adam (Rom. 5:12).
2) Konsekuensi dari dosa adalah kematian (Kej 2 dan Rom 6:23). Tetapi kejatuhan Adam dan dosa bukan hanya mengakibatkan adanya kematian, melainkan juga terkutuknya bumi (Kej. 3 dan Rom. 8). Dalam kutukan terhadap bumi ini inklusif di dalamnya ada bencana alam, kelaparan, dll. Kutukan terhadap bumi ini tidak akan berlalu sebelum
kedatangan Kristus yang kedua kali (Wahyu 21-22).
3) Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa fenomena bencana alam pun dapat dijelaskan oleh teologi Kristen dalam kaitannya dengan kehendak bebas manusia. Pilihan kehendak bebas Adam yang tidak taat kepada Allah, itulah yang mengakibatkan terkutuknya bumi sehingga terdapat problem penderitaan fisik.
Dengan pemahaman demikian, kita melihat bahwa teologi Kristen memberikan suatu
worldview yang lebih komprehensif dan lengkap dalam menjelaskan penderitaan fisik akibat bencana alam, dll.24)

Jalan Tengah: Delapan Jalan
Dalam pengertian tertentu, kita harus mengakui bahwa Budha sungguh adalah orang yang pandai dan bijak ketika mencetuskan jalan tengah ini. Seringkali memang, jalan di antara dua ekstrem merupakan jalan yang baik. Aristoteles, filsuf Yunani yang hidup setelah Budha juga mengatakan bahwa “jalan tengah” adalah pilihan yang baik. Ia memberikan contoh mengenai kemarahan. Bagi Aristoteles, tidak pernah marah sama sekali, dan sering marah adalah dua ekstrem yang buruk. Yang tepat untuk dilakukan oleh manusia adalah marah dengan alasan yang tepat, pada waktu yang tepat, terhadap orang yang tepat dan dengan cara yang tepat. Bukankah ini merupakan konsep yang baik? Pemikiran seperti ini tentu saja patut untuk kita hargai dan acungi jempol.
Selanjutnya, Budha mengajarkan mengenai “Delapan Jalan” yang sebenarnya dapat dirangkumkan dalam tiga kategori: (1) Kebijakan, termasuk di dalamnya, pengetahuan dan kehendak yang benar; (2) perilaku, termasuk di dalamnya adalah kata-kata, tindakan dan pekerjaan yang benar; (3) meditasi, termasuk di dalamnya usaha, pikiran dan konsentrasi yang benar. Apabila kita mengamati apa yang diajarkan Budha tersebut, sebenarnya kita juga melihat banyak kesejajaran konsep yang diajarkannya dengan pengajaran Alkitab yang tersebar dalam Pl maupun PB, misalnya: buah Roh dalam Galatia 5:22-23 dan Flp 4:8 tentang mengarahkan pikiran kepada segala sesuatu yang benar, mulia, adil, suci. Walaupun demikian, segera nampak bahwa masalah dengan apa yang diajarkan oleh Budha melalui “Delapan Jalan” ini adalah mengenai sumber kekuatan untuk melakukannya. Seperti kita ketahui, Budha mengajarkan bahwa manusia dengan kekuatan dan usahanya sendiri harus melakukan “Delapan Jalan” tersebut agar dapat melepaskan diri dari penderitaan. Disini kita melihat sisi humanis dari agama Budha.25) Akan tetapi dapatkah semua hal tersebut dicapai oleh manusia yang penuh dengan nafsu ini? Jikalau mungkin, sampai pada taraf mana? Sempurna atau sebagian?
Dari perspektif Kristen, jelas bahwa usaha dan kekuatan manusia untuk berbuat baik selalu akan mengalami hambatan. Pada dasarnya semua manusia berada dibawah hukum dosa yang membuat ia selalu cenderung untuk berbuat dosa dalam pilihan bebasnya (Rom. 6:1-14). Hal ini menyebabkan adanya hambatan internal dalam diri manusia yaitu nafsu dan kedagingan manusia itu sendiri yang cenderung berbuat jahat. Inilah yang sulit sekali untuk dikalahkan dan memang merupakan bagian dari pergumulan semua manusia termasuk orang Kristen sepanjang hidup.26) Namun demikian, kita patut bersyukur karena Allah telah mengaruniakan Roh-Nya kepada orang percaya sehingga Roh Allah itu akan memampukan kita untuk hidup menurut Roh dan menghasilkan kehidupan yang berkenan pada Allah (Rom. 8: 9-17; Bdk. Gal. 5:16-26). Berbeda dengan Budha yang mendorong usaha pribadi untuk mencapai kehidupan yang lepas dari penderitaan, Alkitab mendorong usaha kita untuk mengusahakan kekudusan secara terus menerus, tetapi bukan bersandar pada kekuatan sendiri saja, melainkan dengan bantuan dan pertolongan Roh Kudus.27)
Pertolongan dari Roh Kudus inilah yang akan memampukan kita untuk menempuh jalan yang dikehendaki Allah. Apabila Budha mengajarkan konsep “Delapan Jalan” maka sebagai orang Kristen kita memiliki “Tiga Jalan” yaitu “Iman”, “Pengharapan”, dan “Kasih”.28) Permulaan dari jalan Kristiani adalah penerimaan anugerah penyelamatan Allah dalam Yesus Kristus melalui iman (Saving faith). Melalui iman ini kita dibenarkan dihadapan Allah (Justification) dan dilayakkan menjadi anak-Nya (Adoption). Sebagai anak Allah kita layak untuk mendapatkan warisan kehidupan kekal di surga kelak. Ini adalah pengharapan kita yang pasti di masa mendatang (Glorification). Untuk itu selama hidup dalam dunia ini, kita harus terus menerus meresponi kasih Allah yang menyelamatkan kita tersebut dengan cara hidup dalam
kasih. Kasih adalah pemenuhan hukum Taurat, dan hidup dalam kasih akan membawa kita pada perilaku hidup yang diperkenan Allah, hidup dalam kekudusan (Sanctification). Dengan ini sebenarnya juga perlu ditegaskan bahwa perjuangan orang Kristen yang terutama adalah menaklukkan dosa dan segala ekspresinya, dan bukan melenyapkan penderitaan.29)

PENDERITAAN, SEBUAH PERGUMULAN UNIVERSAL
Agama Budha telah berusaha untuk memberikan solusi terhadap fenomena universal yaitu penderitaan. Bagi pengikut Budhisme, melepaskan diri dari keinginan dan menghidupi jalan tengah adalah jalan keluar untuk mencapai Nirwana, pembebasan dari penderitaan. Akan tetapi kita telah melihat bahwa solusi yang ditawarkan tersebut bukanlah tanpa masalah. Secara filosofis, kita melihat ada kontradiksi dalam konsep pembebasan dari keinginan ini. Secara teologis kita melihat bahwa manusia secara pribadi, tanpa pertolongan Roh Kudus adalah manusia berdosa yang terikat dengan hukum dosa yang bekerja dalam dirinya. Inilah yang menyebabkan bahwa usaha manusia pribadi akan gagal dalam mencapai kondisi “tanpa keinginan” yang dicita-citakan pengikut Budhisme.
Dengan tinjauan terhadap konsep Budha atas penderitaan yang terdapat dalam “Empat Kebajikan Kebenaran” ini tidak berarti bahwa tulisan ini telah memberikan jawaban atas problem penderitaan secara tuntas. Masalah penderitaan yang menjadi sub bagian dari Problem of Evil ini sebenarnya merupakan suatu masalah yang sampai saat ini masih menjadi pergumulan penting dari teologi dan apologetika Kristen.30) Berbagai pembelaan/teodise telah coba diberikan, akan tetapi formulasi jawaban yang tuntas belumlah ditemukan. Penulis berharap agar melalui tulisan ini, terdapat suatu kesadaran bagi orang percaya untuk mempelajari masalah ini dan dapat memberikan suatu apologia yang persuasif bagi orang yang tidak percaya. #

--- --- ---
DAFTAR PUSTAKA
Anderson, Sir Norman, ed. The World’s Religions. Grand Rapids: Eerdmans dan Leicester: IVP, 1987.
Braswell, Jr. George W. Understanding World Religions. Nashville: Broadman and Holman, 1994.
C. George Fry, James R. King, Eugene R. Swanger dan herbert C. Wolf. Great Asian Religions. Grand Rapids: Baker, 1984.
Ellis, Albert. Feeling Better, Getting Better, Staying Better. Jakarta: PT Elex Media Kompotindo, 2002.
Frame, John. Apologetika bagi Kemuliaan Allah. Surabaya: Momentum, 2000.
Gaer, Joseph. How The Great Religions Began. Chicago: Signet Book, 1956.
Geisler, Norman L. Baker Encyclopedia of Christian Apologetics. Grand Rapids: 1999.
Geisler, Norman L. Philosophy of Religion. Grand Rapids: Zondervan, 1982.
Gethin, Rupert. The Foundations of Budhism. New York: Oxford University Press, 1998.
Hart, Michael H. Seratus Tokoh Yang Paling Berpengaruh Dalam Sejarah Jakarta: Pustaka Jaya, 1997.
Hick, John. “Ketidakmutlakan Agama Kristen” dalam Mitos Keunikan Agama Kristen, Eds. John Hick dan Paul
F. Knitter. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001.
Johnson, David L. A Reasoned Look At Asian Religions. Mineapolis: Bethany Hous Publisher, 1985.
McDermott, Gerald R. Can Evangelicals Learn from World Religions?. Illinois: IVP, 2000.
Moore, James R. “Some Weaknesses in Fundamental Budhism” dalam Evangelical Missions Quarterly Vol. 7/1.
South Pasadena: William Carey Library, 1970.
Mulyono, Djoko dan Santoso, Petrus. Studi Banding Agama Buddha dan Kristen. Indonesia: Free Prees, 2005.
Nash, Ronald H. Iman dan Akal Budi. Surabaya: Momentum, 2001.
Plantinga, Alvin C. God, Freedom, and Evil. Michigan: Eerdmans, 1974.
Rahula, Walpola. What The Budha Taught. New York: Grove Press, 1974.
Reymond, Robert L. A New Systematic Theology of the Christian Faith. Nashville: Thomas Nelson, 1998.
Smith, Huston. Agama-Agama Manusia. Jakarta: Yayasan obor Indonesia, 1999.
VaroMartinson, Paul. A Theology Of World Religions. Minneapolis: Augsburg Publishing House, 1987.
Vroom, Hendrick. No Other Gods. Grand Rapids: Eerdmans, 1996.
Zuck, Roy B. ed., Vital Apologetic Issues. Michigan: Kregel, 1995.
--- --- ---
FOOTNOTE :
1) Masalah penderitaan (The Problem of Pain) adalah topik yang menarik dalam apologetika Kristen dan biasanya dimasukkan sebagai sub kategori masalah kejahatan (The Problem of Evil) yang lebih luas sifatnya (bdk.Norman L. Geisler, Philosophy of Religion [Michigan:Zondervan, 1982] 327-330).
2) Lih. Michael H. Hart, Seratus Tokoh Yang Paling Berpengaruh Dalam Sejarah (Jakarta: Pustaka Jaya, 1997) 48. Bdk. Joseph Gaer menggambarkan penderitaan yang disaksikan oleh Gautama dalam bentuk dialog, How The Great Religions Began (Chicago: Signet Book, 1956) 29-30.
3) Ed. Sir Norman Anderson, The World’s Religions (Grand Rapids: Eerdmans dan Leicester: IVP, 1987) 171.
4) Juga disebut pohon Bo, atau pohon Bodhi. Ibid, 171.
5) Lih. Hart, Seratus Tokoh 49.
6) Pembahasan yang panjang lebar mengenai topik ini terutama dalam dua buku yaitu : Rupert Gethin, The Foundations of Budhism (New York: Oxford University Press, 1998) 59-79, dan Walpola Rahula, What The Budha Taught (New York: Grove Press, 1974) 16-45. Buku-buku lain yang bersifat introduksi dan tidak membahas secara mendetail tetapi meringkaskannya dengan baik adalah: George W. Braswell, Jr, Understanding World Religions (Nashville: Broadman and Holman, 1994) 52-55; Huston Smith, Agama-Agama Manusia (Jakarta: Yayasan obor Indonesia, 1999) 129-135; Anderson, The World’s 172; David L. Johnson, A Reasoned Look At Asian Religions (Mineapolis: Bethany Hous Publishre, 1985) 119-122; Norman L. Geisler, Baker Encyclopedia of Christian Apologetics (Grand Rapids: 1999) 788.
7) Mengikuti pembagian Gethin, The Foundations 59. Bdk. Pembagian yang mirip diberikan oleh Paul VaroMartinson, A Theology Of World Religions (Minneapolis: Augsburg Publishing House, 1987) 25.
8) Bagi Budha, hidup tanpa penderitan adalah istilah/kalimat yang berkontradiksi. Menurut Empat Kebajikan Kebenaran, sebenarnya mayoritas manusia mengalami penderitaan dalam sebagian besar waktu hidupnya di dunia (Eds. C. George Fry, James R. King, Eugene R. Swanger dan herbert C. Wolf, Great Asian Religions [Grand Rapids: Baker, 1984] 68-69).
10) Lih. Gethin, The Foundations 60-62. 10 Bdk. Rahula memberikan penjelasan yang lebih komprehensif mengenai dukkha sebagai kondisi (What The 19-20). Penulis Buddha lainnya membagi dukkha menjadi delapan jenis yaitu: kelahiran, proses penuaan, sakit, kematian, terpisah dari sesuatu yang anda cintai, berdekatan dengan
sesuatu yang anda benci, tidak memperoleh yang anda inginkan, siksaan pikiran yang disebabkan rasa sakit pada kelima organ indera (Djoko Mulyono dan Petrus Santoso, Studi Banding Agama Buddha dan Kristen [Indonesia: Free Prees, 2005] 65).
11) Ibid 29. Bdk. Gethin, The Foundations 70. Rahula dan Gethin menterjemahkannya “thirst” untuk menekankan suatu keinginan yang kuat seperti ketika kita kehausan. Lagipula ini merupakan terjemahan yang literal dari tanha. Kata kehausan ini mengkonotasikan keinginan yang kuat (strong desire). Walaupun demikian, demi kemudahan pengertian pembaca, penulis akan tetap memakai kata “keinginan” akan tetapi hal ini harus dimengerti sebagai suatu keinginan yang kuat.
12) Ibid, 70.
13) Gethin, The Foundations 74.
14) Rahula, What The 38. Nirwana ini biasanya dijelaskan dalam istilah-istilah negatif lain seperti Viraga:
ketiadaan keinginan, Nirodha: penghentian, dll. Dalam bagian selanjutnya, Rahula juga menjelaskan bahwa Nirwana ini bukanlah suatu tempat, situasi, kondisi atau wujud tertentu. Jadi istilah Budha masuk ke Nirwana setelah ia mati adalah sesuatu yang salah dan tidak ada di dalam teks kitab suci mereka (41).
15) Djoko Mulyono dan Petrus Santoso, Studi Banding 68.
16) Tabel diatas merupakan diadaptasi terutama dari Gethin, The Foundations 81 dan Rahula What The 48. Bdk. Penjelasan Smith, Agama-Agama 138-145. Penjelasan Smith tidak sistematis poin per poin akan tetapi disampaikan secara komunikatif.
17) Johnson, A Reasoned 130.
18) Bdk. Pendekatan psikologi modern juga menolak untuk mengakui penderitaan sebagai suatu fakta yang real yang di dalamnya manusia tidak dapat melakukan apa-apa untuk menolaknya. Albert Ellis, menekankan bahwa hal-hal yang terjadi hanya dapat menjadi penderitaan apabila kita secara aktif menghayatinya dan menerimanya demikian dalam hati, pikiran kita. Jadi, Ellis menekankan bahwa segala sesuatu yang buruk diluar diri kita hanya dapat menjadi penderitaan apabila kita memutuskan untuk menderita (Lih. Albert Ellis, Feeling Better, Getting Better, Staying Better [Jakarta: PT Elex Media Kompotindo, 2002] xi-xiii )
19) Selain kelahiran, proses menjadi tua dan kematian, Budha juga menganggap bahwa seseorang yang ingin melepaskan diri dari penderitaan harus pula memutuskan hubungan dengan dunia ini beserta segala rutinitasnya, termasuk di dalmnya adalah kehidupan keluarga dan hubungan seks. Pandangan ini tentu saja harus kita tolak sebagai orang Kristen. Yesus tidak pernah berbicara buruk mengenai hubungan seksual ataupun kehidupan keluarga, asalkan keduanya dijalani di dalam komitmen kasih, maka hal-hal itu adalah baik (Lih. Gerald R. McDermott, Can Evangelicals Learn from World Religions? [Illinois: IVP, 2000] 135-136). McDermott juga mencatat hal-hal positif yang dapat kita pelajari dari Budhisme (hal 154-156).
20) Memang ada usaha untuk menjawab hal ini dari para pengikut Budha. Misalnya, meeka mengatakan bahwa adalah mungkin untuk “ingin” sesuatu tanpa harus egois (selfish). Contohnya adalah kalau kita ingin diselamatkan agar dapat membantu orang lain (bukan hanya dirinya). Akan tetapi dengan menyatakan ini, sebenanrya mereka telah mengubah pengajaran Budha mula-mula kepada sesuatu yang baru dan berbeda
(Johnson, A Reasoned 131).
21) Lih. James R. Moore, “Some Weaknesses in Fundamental Budhism” dalam Evangelical Missions Quarterly Vol. 7/1 (South Pasadena: William Carey Library, 1970) 28. Moore berkata, “The contradicition appears full force if we say, ‘suppose we desire to eliminate desire’ ”
22) Johnson, A Reasoned 132.
23) Lih. John Hick, “Ketidakmutlakan Agama Kristen” dalam Mitos Keunikan Agama Kristen, Eds. John Hick dan Paul F. Knitter (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001) 52.
24) Norman Geisler, Baker Encyclopedia of Christian Apologetics (Michigan: Baker 1999) 222-223.
25) Jadi walaupun Budhisme disebut sebagai agama, namun ini adalah agama yang tidak dimulai dengan Allah dan menuju fase dimana pertolongan Allah juga tidak diperlukan. Oleh karena itu, Moore menyebut Budha sebagai agama dengan prinsip humanis. ( “Some Weaknesses in Fundamental Budhism” dalam Evangelical Missions Quarterly 31).
26) Penulis percaya progressive sanctification tetapi bukan perfectionism.
27) Proses pengudusan secara progresif ini disebut Divine-human activities oleg Robert L. Reymond, A New Systematic Of The Christian Theology (Nashville: Thomas Nelson, 1998) 767.
28) Hendrick Vroom, No Other Gods (Grand Rapids: Eerdmans, 1996) 41.
29) Vroom, No Other 40.
30) John Frame berkata bahwa problem ini mungkin merupakan keberatan terhadap Teisme Kristen yang paling serius dan paling kuat (John Frame, Apologetika bagi Kemuliaan Allah [Surabaya: Momentum, 2000] 192). Zuck menempatkannya dalam urutan pertama dalam bagian problem-problem dalam kekristenan (Roy B. Zuck ed., Vital Apologetic Issues [Michigan:Kregel, 1995]10-18). Bdk. Nash, Iman dan Akal 271.
--- --- ---

121 comments:

  1. wah bagus ini ...
    jadi ingt fiLgam ini aku ...

    ReplyDelete
  2. bodoh sekali...
    pembahasan yang gila

    ReplyDelete
  3. orang bilang A.
    km bilang C.

    ya jelas lah, kelahiran anak= berkat orang tua.
    tapi apakah ada anak itu selama nya senang? anak itu juga selama nya senang?
    makanya kalo baca itu ngerti o baik2, baru di bahas... tolol
    linda_guizal@yahoo.com

    ReplyDelete
  4. kalo nti anak nya itu ternyata cacat.
    atau anak itu ternyata anak durhaka.
    atau anak itu ternyata berkarir jadi teroris.
    kayak nya berkat juga dari tuhan allah...
    bersyukurlah atas berkat2 itu
    h0h0h0h0h0h0

    ReplyDelete
  5. Kajian yang bagus.
    Tapi mengapa harus mengkaji atau membahas di luar keyakinan anda? Mengapa kita tidak menjalankan keyakinan masing masing dengan bebas. Belum tentu anda yang benar.
    Keyakinan yg anda peroleh juga merupakan warisan dari nenek moyang yang bisa diperdebatkan kebenarannya.
    Saran saya buatlah tulisan tanpa harus menyinggung atau menyakiti perasaan saudara kita. Jesus juga tidak pernah mengajarkan permusuhan. GBU

    ReplyDelete
  6. Begini,
    Kenapa kita harus membahas di luar keyakinan? Karena hidup kita adalah untuk mencari Allah. Dan jika kita percaya bahwa Allah adalah kebenaran seperti yang dikatakan Yesus, maka dalam hidup kita harus mencari kebenaran.
    Dan tentunya sekarang kita harus mencari kebenaran di antara begitu banyak agama yang ada di dunia ini. Manakah yang benar? Manakah yang salah? Kita mempunyai akal budi untuk memikirkannya. Memang benar bahwa akal budi kita sangat terbatas, tentu saja kita semua bisa salah dalam mencari kebenaran tersebut. Namun untuk apa Tuhan memberikan kita akal budi? Tentu saja untuk berpikir, untuk mencari kebenaran.
    Jadi apakah karena akal budi kita terbatas, lantas kita tidak usah berpikir mencari kebenaran? Kalau memang demikian, seharusnya Tuhan tidak usah memberikan akal budi kepada kita. Yang harus kita lakukan adalah: berusaha semampu kita untuk mencari kebenaran, sambil berdoa mohon pimpinan Tuhan.
    Dan saat kita menemukan bahwa suatu agama itu salah, kita harus tetap menghormatinya. Itulah kerukunan antar agama yang benar. Menghormati dan menghargai agama lain tidak sama dengan mengatakan bahwa agama-agama lain tersebut juga benar.
    Sama seperti halnya Yesus sendiri yang dengan tegas mengecam orang farisi jika mereka mengajarkan hal yang salah, kitapun juga tidak boleh mengkompromikan kebenaran. Begitu juga dengan para nabi Israel yang bersuara menentang penyembahan berhala.

    Kebenaran tidak boleh dikompromikan sama sekali, meskipun seandainya itu berakibat permusuhan atau bahkan penganiayaan.

    Dan sebagai penutup, saya kutip kata-kata Rasul Petrus berikut ini:
    Kisah Para Rasul 4:11-12 "Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan--yaitu kamu sendiri--,namun ia telah menjadi batu penjuru. Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan."

    ReplyDelete
  7. 1. 'Kekacauan' dalam berfikir antara Tuhan YME sebagai Yang Maha Suci dan Yang Maha Pencipta (gak jelas hubungan Sidharta dengan Tuhannya, lebih kacau lagi Tuhan menjelma sebagai mahluk manusia sebagai Yesus), maka jalan yang terbaik adalah berani menyatakan bahwa konsep ke-tuhan-an seperti itu jelas ngawur, sesat dan menyesatkan.
    2. Akal diberikan utk berfikir secara runtut, analitik dan menuju ke satu titik kebenaran. Namun seperti asymtot yang tidak akan memotong garis sumbu, maka maka kebenaran yang diperoleh akal juga gak akan sampai pada kebenaran mutlak/haq/sejati. OLeh karena itu, harus ada respon dari TUHAN YME utk menjawab pengembaraan akal itu. Yang paling utama adalah Siapakah Tuhan itu? Bagaimana sifat2 utamanya?
    Ada berapa jumlah TUHAN?
    Siapa yang bisa menyampaikan informasi tentang TUHAN kepada manusia?
    Samakah status antara yang Mengutus dan yang diutus?
    3. Setelah informasi tentang TUHAN ini disampaikan, maka muncullah berbagai macam respon. Ada yang posistif, ada yang negatif, ada yang netral dan ada juga yang aneh2 yakni bikin konsep tandingan. Akhirnya, sekarang ini pola berfikir kita jadi kacau tentang konsep ketuhann ini, karena hati kita sudah tunduk.
    4. ISLAM datang dengan membawa informasi yang benar tentang konsep /eksistensi TUHAN YME, namun tetap saja ditolak. Semua agama yang masih ada saat ini, semua pengikutnya pasti memiliki objek penyembahan yang bisa dilihat oleh mata. Artinya, yang disembah itu sudah turun derajad menjadi bersifat benda, yang bisa dilihat, diingat dalam memori, disentuh, berwujud dan bisa rusak/nusnah. Hanya ISLAM yang TUHANnya benar2 TUHAN YME. Tdk bisa dilihat oleh mata, tidak bisa direkam dalam memori otak sadar, tidak diwujudkan dalam bentuk kebendaan. Dia yang tidak beranak, tidak dilahirkan, dan tidak ada sesuatu yang bisa menyamai DIA. Artinya, Dia adalah TUHAN YME, YMSuci dan YMTinggi. Kok masih ditolak juga?

    ReplyDelete
  8. Pada dasarnya, islam memang mengaku diri percaya pada Tuhan Yang Maha Esa dan Maha kuasa. Namun dalam kenyataannya, konsep ketuhanan islam tersebut sama sekali tidak mahakuasa. Tuhan dalam agama islam tidak lebih seperti raksasa dalam kisah jack dan pohon kacang. Raksasa tersebut tidak bisa berbuat apa-apa saat Jack mencuri barang-barangnya lalu kembali ke bumi. Begitu pula dalam islam. Tuhan dalam islam begitu mudah dipahami. Ia hanya 1 pribadi-1 hakikat. Ia tidak bisa turun menjadi manusia, bisanya hanya mengutus nabi-nabi. Ia tidak bisa bangkit dari kematian, dan sebagainya. Tuhan yang seperti itu begitu mudah dimengerti manusia. Padahal Tuhan yang mahakuasa seharusnya tidak bisa dimengerti akal manusia yang terbatas. Pikiran orang islam mengenai Tuhan hanyalah konsep yang sempit tentang Tuhan yang hanya berdiam di surga, kegiatannya hanya mengutus nabi-nabi atau berbicara dari surga tanpa bisa turun ke dunia.
    Kristen adalah agama yang konsisten dengan konsep Tuhan yang mahakuasa dan maha esa. Ia adalah 3 pribadi, 1 hakikat, sehingga Ia tetap maha esa. Ia terdiri dari 3 pribadi, sehingga tidak bisa dimengerti oleh akal. Ia sanggup melakukan perbuatan-perbuatan ajaib, bahkan membatasi kuasa-Nya sendiri dan masuk dalam dunia. Hanya Kristen sendiri yang begitu konsisten dengan kemahakuasaan Tuhan dan kemahaesaaan Tuhan tersebut.

    ReplyDelete
  9. Oh ya, 1 hal lagi.
    Anonim, sepertinya anda berpikir bahwa "Tuhannya islam adalah benar-benar Tuhan Yang mahaesa, mahakuasa, dsb karena Dia tidak memperanakkan atau diperanakkan, tidak menjadi manusia dsb".

    Memang begitu mudah untuk memahami Tuhan yang tidak pernah menjadi manusia, Tuhan yang tidak memperanakkan atau diperanakkan seperti konsep islam. Konsep tersebut tidak ada kerumitan sama sekali, mudah sekali memahaminya. Namun di sinilah masalahnya: Kok bisa Tuhan yang mahakuasa, yang tidak terbatas, begitu mudah dipahami oleh manusia yang terbatas ini?

    Konsep anda sudah terbalik, anonim: Anda mengatakan konsep Tuhannya islamlah yang benar karena begitu mudah dipahami, tidak ada kerumitan apa-apa. Padahal kalau memang Tuhan itu mahakuasa, sudah pasti ada kerumitan yang tidak terpahami oleh manusia.

    ReplyDelete
  10. terkadang anda harus berpikir lebih luas

    ReplyDelete
  11. Oh ya, 1 hal lagi.
    Anonim, sepertinya anda berpikir bahwa "Tuhannya islam adalah benar-benar Tuhan Yang mahaesa, mahakuasa, dsb karena Dia tidak memperanakkan atau diperanakkan, tidak menjadi manusia dsb".

    Memang begitu mudah untuk memahami Tuhan yang tidak pernah menjadi manusia, Tuhan yang tidak memperanakkan atau diperanakkan seperti konsep islam. Konsep tersebut tidak ada kerumitan sama sekali, mudah sekali memahaminya. Namun di sinilah masalahnya: Kok bisa Tuhan yang mahakuasa, yang tidak terbatas, begitu mudah dipahami oleh manusia yang terbatas ini?

    Konsep anda sudah terbalik, anonim: Anda mengatakan konsep Tuhannya islamlah yang benar karena begitu mudah dipahami, tidak ada kerumitan apa-apa. Padahal kalau memang Tuhan itu mahakuasa, sudah pasti ada kerumitan yang tidak terpahami oleh manusia.

    Karena Itu Adalah Kasihnya Dalam Islam karena muslim sadar jika dia benar mengenal allah dia pasti binasa karena keagungannya tetapi jika dia tidak mengenal allah lalu untuk apa semua keindahannya atas alam semesta, allah ya allah. dan andapun merasa sudah mengenal tuhan dengan mengenal tuhan yang diperanakkan dan yang mati dimana kekuasaan tuhan, Bukankah tuhan itu harus yang benar benar agung benar benar sempurna benar benar hebat. lalu andapun merasa bisa masuk surga tanpa ibadah ritual yang berat kapanpun dimana pun, apa karena dosa anda sudah ditebus sehingga anda berhak mencuri berzinah berjudi mabuk tidak dikhitan atau memang agama anda tidak memiliki syariat.

    ReplyDelete
  12. Justru sebaliknya. Kalau anda masuk sekolah teologi Kristen sekalipun, belajar sampai beratus-ratus sks sekalipun, anda tidak akan pernah bisa memahami sepenuhnya doktrin tritunggal. Bagaimana Allah memperanakkan, diperanakkan. 3 pribadi 1 hakikat. Itu sebuah misteri ilahi yang sampai kapanpun tidak akan pernah dimengerti sepenuhnya. Jelas berbeda dengan konsep islam yang begitu simpel.

    Mengenai ibadah ritual yang berat dsb, saya ingin bertanya: anda melakukan berbagai ritual itu untuk apa? untuk apa anda menghindari dosa, beribadah, berusaha hidup kudus dan sebagainya? Untuk masuk surga?
    Kalau anda masuk surga, siapa yang enak? Anda sendiri kan?

    Inilah perbedaan konsep Kristen dengan islam. Di Kristen, dosa kita sudah ditebus seluruhnya oleh Yesus, dengan pengorbanan yang luar biasa di Kalvari. Orang Kristen yang bersungguh-sungguh menerimanya, pasti akan tergerak untuk hidup kudus, untuk berbuat baik, untuk beribadah, demi membalas kebaikan Allah yang luar biasa itu. Bukan untuk masuk surga.

    Jadi,
    di Kristen: Kita berbuat baik untuk Tuhan
    di Islam: Kita berbuat baik untuk diri sendiri

    ReplyDelete
  13. ah anda mengkaji asal2an begitu. anda melihat agama lain dari sudut pandang agama anda dan membanding2 kan dengan pikiran yang mmg ada dikepala anda. sedangkan dikepala anda sudah jelas memihak. kalo mau mengkaji itu diharapkan dari sudut pandang netral dan melihat fakta. kalo mengkaji pake hati itu opini masing2. menurut saja anda cmn bisa copy paste, baca kalimat2 yang menurut anda salah, lalu asal tulis. tidak berbobot sama sekali. tp saya hargai anda sudah mau menghabiskan waktu anda untuk mengkaji. kalo anda masih punya banyak waktu dan mau memahami dan mempelajari fakta2 dalam agama buddha yang benar silahkan kontak guru2 spiritual, ikut dalam pembahasan dhamma. tp sebelumnya buka dulu pikiran anda.

    ReplyDelete
  14. 'Inilah perbedaan konsep Kristen dengan islam. Di Kristen, dosa kita sudah ditebus seluruhnya oleh Yesus..'
    dosa kita ditebus seluruhnya: bisa diperjelas lagi, gan?

    ReplyDelete
  15. @ryan: Ya jelas lah, silahkan perhatikan baik-baik judul artikel ini. Sudah jelas tertulis bahwa "dari perspektif Kristen". Memang sudah dari awal artikel ini dibuat dari sudut pandang Kristen, bukan dari sudut pandang objektif seperti yang anda harapkan.
    Karena itu artikel ini sebenarnya lebih ditujukan pada orang Kristen, bukan pada orang Budha.

    Mengenai ajakan anda untuk membuka pikiran, selama ini saya cukup banyak berdialog dengan orang-orang Budha. Bukan berdebat kusir atau menjelek-jelekkan, namun benar-benar berdiskusi mencari kebenaran. Kalau anda tidak percaya ya terserah.

    @anonim: Maksudnya, orang Kristen bisa selamat karena anugerah Tuhan. Tuhan mencurahkan anugerah-Nya pada manusia dengan menebus dosa manusia sehingga bisa memperoleh keselamatan. Sedangkan dalam Islam, kita selamat oleh perbuatan amal kita sendiri.
    Itulah perbedaannya: Kristen adalah agama anugerah. Keselamatan diperoleh karena anugerah Allah. Sedangkan Islam adalah agama perbuatan. Menurut islam, keselamatan diperoleh melalui usaha sendiri.

    ReplyDelete
  16. Tulisan ini merupakan sebuah kajian yang baik dan kritis yang sepatutnya diperhatikan oleh masyarakat luas, untuk memperkaya wawasan. Cara berpikir anda juga analitis dan logis. Ini terlihat dari bagaimana anda membahas berdasarkan refferensi tertentu. Untuk kemajuan blog ini, saya akan memberi beberapa masukan, semoga bermanfaat:
    1. Tulisan ini dapat mengarahkan pemahaman pembaca agar memandang ajaran budha sebagai ajaran yang berbasis pada penderitaan (pesimisme). Sepengetahuan saya, penderitaan bukanlah basis dari ajaran budha. penderitaan merupakan titik awal yang menggerakkan hati sidharta gautama untuk mencari jawaban atas hakikat kehidupan. Basis dan fokus dari ajaran budha lebih mengarah pada aktivitas sehari hari, dimana secara singkat dinyatakan sebagai berikut: jangan berbuat jahat, perbanyak perbuatan baik, sucikan hati dan pikiran.
    2. Nampaknya beberapa refferensi yang anda gunakan dapat diragukan validitasnya. Hal ini terlihat dari beberapa kalimat dalam tulisan tersebut seperti "sidharta merenung semalam suntuk", "delapan jalan kebajikan", dan beberapa istilah campuraduk termasuk juga tabel Noble Eightfold Path diatas dimana sepintas terlihat sama, namun deskripsinya tidak menyentuh pada inti yang sebenarnya. Mengenai refferensi, sebaiknya mengacu pada kanon berbahasa pali, karena itu satu-satunya sumber ajaran budha yang dibiarkan utuh dan tidak mengalami tambahan kalimat filosofis bermakna kiasan apapun. Salah satu sumber yang dapat dipercaya adalah situs berikut http://www.samaggi-phala.or.id/
    3. "Mengapa Sidharta Gautama, sang Budha sendiri justru memasuki Nirwana? Bukankah dengan demikian ia bertindak egois?..."
    Berdasarkan sejarah, budha tidak mencapai nirwana seorang diri, banyak orang yang mencapai nirwana pada masa itu, dan masa sesudahnya. Nirwana bukanlah alam yang "dimasuki" seperti surga, melainkan sebuah kondisi yang "dicapai".
    4. "Para biarawan biasanya menjawab dengan mengatakan bahwa pertanyaan diatas tidaklah relevan karena Budha bukanlah manusia saja melainkan juga memiliki sifat ilahi. Menurut mereka, Budha adalah manifestasi dari esensi ilahi yang ada/hadir di bumi. Dia bukanlah daging dan tubuh. Hanya nampaknya saja ia adalah manusia, sesungguhnya ia adalah ilusi, sebuah penampakan. Orang-orang berpikir bahwa mereka melihat dan mendengar seorang manusia, padahal bukan. Sidharta Gautama adalah Allah yang menunjukkan dirinya kepada dunia untuk memberitakan mengenai pencerahan...."
    Jawaban biarawan diatas adalah filosofi bermakna kiasan yang saya maksud. dalam agama budha terdapat banyak aliran dimana tidak semua aliran mengacu penuh pada sumber yang relevan.

    ReplyDelete
  17. 5. "tidak ada penjelasan yang memadai mengenai penderitaan fisik yang diluar kontrol manusia seperti bencana alam, terbunuh secara tidak sengaja, dll. Budha tampaknya kurang membedakan berbagai kategori penderitaan...."
    Dalam kalimat ini terlihat bahwa anda belum memahami konsep ajaran budha secara utuh (hanya sepotong-sepotong). terdapat 5 hukum alam dalam agama budha. penderitaan didalam kontrol diri manusia dijelaskan dalam hukum alam no.3 dan no.4 secara berkaitan. Sedangkan penderitaan diluar kontrol manusia yang anda maksud diatas, dijelaskan dalam hukum alam no 1-4 secara tak terpisahkan. hukum alam no 1 menjelaskan mengenai fisika-kimia-astronomi, hukum alam no 2 mengenai biologi, hukum alam no.3 mengenai perbuatan se hari-hari, hukum alam no 4 menjelaskan mengenai psikologi, dan hukum alam no 5 merupakan penjelasan tentang interaksi dari ke 4 hukum alam tersebut.

    6. Tuhan dalam islam tidak sesimpel itu. kita tidak dapat hanya berpatokan pada "tidak beranak dan tidak diperanakkan". itu hanya bagian kecil saja. al-quran adalah kalam allah. semua keterangan allah dalam al-quran merupakan penuturan allah tentang diri nya. sehingga untuk memahami esensi tuhan dalam islam, anda harus membaca ayat-ayat yang bersangkutan secara utuh penuh, dan seksama. untuk dapat melakukan studi konsep agama lain, anda harus bisa memposisikan mental anda dalam kondisi netral meskipun tulisan ini ditujukan bagi umat kristiani. hal ini sangat penting. karena, jika berada pada kondisi yang tidak netral, maka ketika anda membaca konsep agama lain, tanpa disadari pikiran anda akan melakukan perbandingan dengan konsep yang sudah tertanam dalam diri anda. merasa ada gejolak batin berupa penolakan pada apa yang anda baca? pasti. karena dalam proses perbandingan itu sudah pasti terdapat ketidaksamaan antara konsep dalam bacaan dengan konsep dalam pikiran. akibat ketidaknyamanan itu, hati anda tidak akan pernah terbuka untuk apa yang anda baca. anda membaca dalam tekanan mental "aku harus mengetahuinya". kalimat demi kalimat yang anda baca semakin menumbuhkan perasaan tidak setuju. sehingga terkadang ingin buru-buru menyelesaikan bacaan itu, bahkan mungkin buku itu sudah ditutup sebelum selesai terbaca dengan seksama. Mengapa netralitas itu penting? karena tulisan ini akan dibaca oleh orang lain, dan mempengaruhi pandangan orang itu terhadap ajaran agama lain. apabila tulisan ini memuat kekeliruan mengenai agama lain tsb, maka pemahaman keliru itulah yang akan diterima oleh pembaca, meskipun sebenarnya agama itu tidak seperti yang tertulis disini. bagaimana cara menguji netralitas mental kita? cukup mudah. bayangkan saja bahwa ternyata kepercayaan kita adalah suatu karangan besar yang fiktif belaka, apa yang kita yakini secara spiritual ternyata tidak pernah ada, bahwa ternyata kebenaran mutlak ada pada agama yang tidak pernah kita yakini sama sekali. bagaimana perasaan anda? ketika anda cukup tegar untuk menerima kenyataan itu, ketika itu juga anda telah siap untuk melakukan studi banding lintas agama.

    ReplyDelete
  18. (lanjutan..)
    Blog ini berisi materi yang berat, karena berkaitan dengan teologi. fakta bahwa teologi merupakan ilmu tak berujung masih berlaku hingga saat ini, karena lingkup yang dibahas merupakan unobservable area, dan ini sudah mematahkan kekuatan metodologi penelitian. jangankan bloger dan kaum awam, para pakar dengan title yang panjang lebar juga masih belum mencapai hasil yang dapat diterima secara universal. pada akhirnya akan kembali pada keyakinan tiap individu. keyakinan itu dapat dipahat melalui pengalaman hidup yang dikaitkan dengan kepercayaan masing-masing. kejadian diluar akal sehat yang berkaitan dengan keyakinan masing-masing merupakan salah satunya. kadangkala kejadian ini digunakan sebagai bukti ilahi bahwa agama mereka merupakan kebenaran. namun yang tak bisa luput adalah ternyata kejadian seperti itu juga terjadi di semua agama. sehingga semua agama merupakan kebenaran karena semua agama memiliki kejadian diluar nalar. namun tiap agama sangat berbeda secara konseptual dan hanya 1 konsep yang boleh menjadi kebenaran sejati, dengan demikian, kita akan kembali bertanya manakah yang merupakan kebenaran sejati.

    ReplyDelete
  19. Wah2 sepertinya anda mengatakan bahwa perspektif anda sendiri mewakili perspektif seluruh agama kristen kalo boleh saya anggap begitu? Saya acungi jempol kalau begitu pengetahuan dan iman anda sudah berada pada level yang tinggi kalo berani mengatakan demikian.

    Silahkan anda kaji secara perspektif kristen tidak masalah. namun kelihatannya sumber yang anda ambil tidak begitu valid dan tidak mewakili ajaran buddha sebenarnya. Beberapa bahkan jelas2 tidak sesuai dengan ajaran seperti yang sudah disebutkan oleh anonim diatas ini. Selain itu kajian yang sudah jelas2 tidak valid dikaji secara memihak. Apa yang demikian yang anda bilang kajian berbobot? Kajian yang anda buat dapat membuat orang2 kristen (anda mengatakan untuk kristen) yang membaca menjadi memahami ajaran buddha secara salah sehingga akan beranggapan buruk.

    Anda bilang anda sudah sering berdiskusi dengan orang2 yang beragama buddha. Permasalahannya agama buddha yang bagaimana? Dalam agama buddha pengetahuan bisa didapat dari nalar, analisa, pembuktian, praktek langsung, dsb. Jadi masing2 orang memiliki pengetahuan agama yang berbeda2 berdasarkan dia memahami dari segi apa mereka memahami. Apakah dari segi analisa iptek, praktek moral, analisa kitab dsb. Bisa dikatakan masing2 umat memiliki titik berat yang berbeda2 dalam memahami ajaran. Tidak bisa dipahami dengan semudah berdiskusi dengan "beberapa". Saran saya jangan mengkaji berdasarkan pengetahuan yang sempit dan sepotong2. Pahami secara keseluruhan topik dari sumber yang valid lalu kaji dan bandingkan secara transparan. Diakhir silahkan anda sisipkan pendapat anda. Dengan demikian tulisan anda bisa bermanfaat bagi perkembangan agama anda dan tidak menyinggung umat lain. Umat buddha selalu mendukung segala yang memajukan moralitas terlepas dari agama apapun itu.

    Semoga dengan demikian pengetahuan anda bertambah dan iman anda menjadi lebih kuat serta dapat mencapai tujuan yang dicita2kan oleh agama anda.

    ReplyDelete
  20. terima kasih sudah menjelaskannya,gan. aku pikir aku tidak akan ditanggapi (ternyata pemikiranku tak terbukti ^^ )

    'd. gautama: penderitaan yang dialami sejak lahir dikarenakan dosa orang tersebut dalam kehidupannya yang sebelumnya (sebelum reinkarnasi)
    Yesus: Penderitaan dialami karena manusia sudah memiliki natur berdosa sejak lahir.'

    '@anonim: Maksudnya, orang Kristen bisa selamat karena anugerah Tuhan. Tuhan mencurahkan anugerah-Nya pada manusia dengan menebus dosa manusia sehingga bisa memperoleh keselamatan.'

    kok sepertinya ada yg janggal ya,gan?

    ReplyDelete
  21. @anonim: terima kasih banyak buat masukan dan komentar anda. I really appreciate it.
    Dan sepertinya saya harus mengklarifikasi dulu bahwa pembuat artikel ini bukanlah saya. Artikel ini dibuat oleh salah seorang pendeta saya, Ev. Bedjo Lie. Karena saya merasa artikel ini bagus, saya memasukkannya ke blog saya ini.
    Tentang masukan anda, saya ingin menanyakan dulu:
    1. Justru dari diskusi-diskusi saya dengan orang-orang budha, dan juga hasil baca-baca mengenai agama budha; dari DVD tentang agama budha buatan BBC yang saya tonton; juga dari kuliah tentang agama budha di kampus saya; saya mendapati bahwa basis ajaran budha adalah penderitaan. Bukankah tujuan akhir dari agama budha adalah nirwana (keterlepasan dari penderitaan)? Gautama pergi berkelana untuk mencari cara melepaskan umat manusia dari penderitaan. Dia mencoba segala cara yang diajarkan, seperti bertapa, menyiksa diri, dan sebagainya. Dan pada akhirnya dia memperoleh pencerahan tentang cara lepas dari penderitaan itu, cara meraih nirwana. Basis ajaran budha bukanlah aktivitas sehari-hari seperti yang anda katakan. Buktinya, gautama pergi berkelana karena dia tidak setuju dengan ajaran hindu yang mengajarkan bahwa manusia hanya bisa berputar-putar di roda kehidupan (reinkarnasi). Padahal agama hindu juga sudah mengajarkan mengenai cinta kasih, moral dan sebagainya. Tapi Kenapa gautama menentang hindu? Karena yang dicari gautama adalah cara lepas dari penderitaan, bukan mengenai moralitas. Bagi gautama, cinta kasih dan moralitas itu hanyalah sarana untuk mencapai nirwana itu.

    2. Saya tidak begitu mengerti mengenai referensi-referensi tersebut karena bukan saya yang membuat artikel ini ^^

    3. Yap, benar bahwa nirwana itu bukan surga. Orang zaman sekarang banyak yang mengira nirwana=surga gara-gara pengaruh film kera sakti. Yang dimaksudnya dengan keegoisan gautama di sini adalah: bukankah gautama masuk nirwana lebih dulu daripada yang lain? Bukankah ia memasuki nirwana di saat murid-muridnya masih dalam tahap berjuang untuk mencapai nirwana? Bahkan salah 1 aliran terbesar agama budha mempercayai bahwa sampai sekarang hanya gautama sendiri yang sudah berhasil menjadi budha, mencapai nirwana.

    4. Benar bahwa dalam budha ada 36 aliran... tapi hanya 3 aliran terbesar yang ada.... yaitu teravadha, mahayana, vajrayana....

    ReplyDelete
  22. 5. Jika penderitaan yang di luar kontrol manusia itu juga sudah dijelaskan dalam agama budha, Bisa tolong anda jelaskan penyebab terjadinya penderitaan yang di luar kontrol manusia tersebut?

    6. Justru dari yang saya baca, orang-orang di amerika saat ini banyak yang masuk ke islam karena mereka menganggap bahwa agama islam jauh lebih simpel daripada agama Kristen yang mengajarkan doktrin tritunggal dan sebagainya.
    Benar bahwa netralitas itu penting, namun kemudian jika anda berpikir harus netral, lalu timbul pertanyaan: apakah yang menjadi standar kebenaran kita nantinya? apakah rasio kita? apa bisa rasio kita yang sangat terbatas ini menjadi standar kebenaran?

    ReplyDelete
  23. @ryan: pemikiran ini bukan mewakili seluruh perspektif Kristen, melainkan perspektif teologi Kristen. Ya tidak mungkin kalau tulisan ini diklaim mewakili seluruh perspektif Kristen. Kalau semua pendeta ternama Kristen disuruh membuat artikel tentang budha, saya yakin isinya tidak akan sama persis dengan artikel ini.
    anda mengatakan "beberapa referensi jelas2 tidak sesuai dengan ajaran seperti yang disebutkan anonim". Yang saya lihat, anonim sama sekali tidak mengatakan "jelas2". Anonim hanya mengatakan "dapat diragukan". Diragukan bukan berarti jelas2 salah.
    Lalu, bisa tolong anda sebutkan bagian mana dari artikel ini yang membuat orang-orang bisa memandang buruk agama budha? Sejauh yang saya lihat, tidak ada satupun bagian di artikel ini yang menghina atau menjelekkan agama budha.
    Bagi saya pribadi, agama budha adalah agama yang sangat indah. Gautama sungguh orang yang amat mulia, ia seorang putra mahkota yang meninggalkan segala kemuliaannya demi menolong umat manusia lepas dari penderitaan. Karena itu saya sangat menghargai ajaran budha, dan saya tidak akan menjelekkan ajaran budha. Namun menghargai agama budha bukan berarti saya menganggapnya sebagai kebenaran. Suatu agama tetap harus ditinjau secara kritis, betapapun indahnya suatu agama tersebut.
    Saya memang tidak pernah berdiskusi dengan rahib budha langsung, namun saya banyak berdiskusi dengan mahasiswa-mahasiswa yang juga mendalami teologi budha. Salah 1 teman diskusi saya adalah ketua UKM kerohanian Budha di kampus saya.

    Mengenai ajakan anda untuk memahami jangan sepotong-sepotong... well, justru menurut saya artikel ini sudah menjelaskan cukup banyak mengenai agama budha kan? Artikel ini menjelaskan mengenai 8 jalan kebenaran secara menyeluruh tanpa memotong-motongnya. Tolong anda perjelas apa maksud anda dengan mempelajari keseluruhan. Saya yakin rahib budha no.1 dunia pun tidak mungkin memahami keseluruhan ajaran budha. Karena kitab suci tripitaka itu panjangnya mencapai 70 kali ALkitab. Saya yakin sangat sedikit orang yang pernah mempelajari keseluruhannya itu.

    @anonim yang satunya: Janggal di mananya ya? Tolong perjelas pertanyaan anda, saya akan menanggapinya dengan senang hati ^^

    ReplyDelete
  24. iya,gan.
    1.
    Natur berdosa sejak lahir apakah maksudnya sudah berdosa sejak pertama kali kita keluar dari rahim ibu atau muncul ke dunia ini?
    kalimat berikut:
    'Tuhan mencurahkan anugerah-Nya pada manusia dengan menebus dosa manusia sehingga bisa memperoleh keselamatan'
    berarti kita sudah terbebas dari dosa, gan?

    ReplyDelete
  25. 1. Natur manusia sudah berdosa sejak lahir. karena itulah manusia cenderung berbuat dosa. Buktinya, bukankah tiap manusia sejak kecil selalu berbuat dosa? Bukankah sejak kecil manusia itu egois? Bukankah anak-anak selalu berbuat nakal dan ingin diperhatikan orang tuanya? Natur manusia itu berdosa sejak lahir, namun bukan berarti sejak lahir manusia sudah berbuat dosa.
    Analogi: Perhatikanlah ular. Anaknya ular juga pasti beracun kan? Karena natur ular adalah beracun dan membunuh binatang lain dengan racunnya itu. Karena itu, anak ular itu memang belum berdosa karena belum membunuh binatang lain. Tapi nantinya, anak ular itu pasti akan membunuh binatang lain juga, sehingga dia pasti akan berdosa.
    Begitu juga dengan manusia. Sejak lahir, natur manusia adalah berbuat dosa.

    Karena semua manusia itu berdosa, makanya Tuhan menebus dosa manusia tersebut dengan pengorbanan-Nya.... Dia sudah berkorban sampai mengalami derita yang sangat hebat karena sangat mengasihi manusia. Kalau manusia malah tidak mau menolak itu, padahal Tuhan sudah sebegitu mengasihi manusia.... Maka manusia tersebut tidak ditebus dosanya.

    ReplyDelete
  26. 1.
    Oh i see. Kita sejak lahir tidak berdosa, tapi memiliki sifat alami untuk berbuat dosa kelak seperti analogi ular itu.
    Apa pemikiran saya keliru, gan:
    Tuhan menciptakan natur dosa tersebut, tapi Tuhan juga menawarkan solusinya?

    ReplyDelete
  27. Logiskah ajaran kristen jika Adam dihukum amat sangat berat hingga ke anak cucunya menerima semua menerima warisan dosa hanya gara gara akibat Adam dibujuk oleh seekor ULAR saja untuk memekan sebutir buah larangan , sedangkan si ular ternyata hukumannya tidak seberat Adam

    Adam sebagai KORBAN BUJUKAN ULAR dihukum super berat, mulai diusir dari sorga , tanah menjadi tempat terkutuk , harus bersusah payah untuk hidup dan yang paling fatal adalah dosa gara gara makan buah larangan itu tidak pernah terampunkan sampai ke SEMUA anak cucunya ,

    Ular sang pembujuk hukumannya bisa dibava di Kejadian 1:14 Lalu berfirmanlah TUHAN Allah kepada ular itu: "Karena engkau berbuat demikian, terkutuklah engkau di antara segala ternak dan di antara segala binatang hutan; dengan perutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kaumakan seumur hidupmu

    walaupun pada kenyataannya postur ular yang tanpa kaki itu justru lebih sesuai untuk bergerak dan menelusup dengan cepat di semak semak dari pada postur semua makhluk lainnya , yang menjadikannya sebagai predator yang efisien dalam menangkap mangsa , Ular adalah predator , bukan pemakan debu tanah seumur hidupnya.

    Logika macam apa dalam ajaran kekristenan ???. Tuhan malah menghukum ADAM yang sebagai korban bujukan si Ular dengan amat sangat lebih berat dari pada si pembujuknya seekor BINATANG ULAR.

    Bukankah kekristenan justru telah berantakan dalam logika sejak awal pengajarannya ??

    ReplyDelete
  28. 1.
    Oh, jadi natur dosa itu bukan ciptaan Tuhan? Tapi kesalahan leluhur kita, Adam dan ular..Betulkah demikian? Hmm, jika betul, kedengarannya agak aneh.

    ReplyDelete
  29. @atas: saat Tuhan memberikan kehendak bebas dalam diri manusia, otomatis manusia punya peluang untuk memberontak pada Tuhan melalui kehendak bebas itu. Dengan kata lain, manusia tercipta dengan potensi untuk berbuat dosa, namun bukan berarti Tuhan yang menciptakan dosa.
    Di sinilah adam terjatuh dalam dosa, akibatnya semua manusia mendapat natur berdosa.

    @anonim satunya: Jadi anda berpikir bahwa manusia dihukum jauh lebih berat daripada ular?
    Coba anda pikirkan: seandainya anda boleh memilih, anda lebih memilih menjadi manusia (keturunan adam) atau menjadi ular (keturunan ular)?
    Anda pasti lebih memilih menjadi manusia kan? Karena jelas bahwa manusia hidup lebih enak daripada ular. Manusia sudah jelas-jelas tampil sebagai penguasa atas seluruh makhluk hidup. Singa, macan, beruang, buaya dan termasuk ular pun semuanya tunduk kepada manusia. Sedangkan ular, sampai kapanpun tidak akan pernah menang dari manusia. Lihat saja ular-ular yang dikurung di kebun binatang, ular-ular yang dijadikan percobaan di laboratorium. Apakah anda berpikir suatu saat ular akan berbalik mengalahkan manusia?
    Rasanya sudah sangat jelas bahwa ular justru hidup jauh lebih tidak enak dibanding manusia.

    Saya bisa memaklumi kalau anda mengalami banyak keberatan dalam doktrin-doktrin kekristenan yang sepertinya bertentangan dengan akal, namun semua itu sudah dijawab dengan penjelasan yang memadai oleh pemikir-pemikir Kristen. karena itu banyaklah belajar mengenai kekristenan, niscaya semua keberatan anda akan terjawab. Bacalah blog ini sebanyak mungkin. Anda boleh bertanya apa saja kepada saya dan saya akan menjelaskannya dengan senang hati. ^^

    ReplyDelete
  30. Kenapa anda malah membuat pertanyaan kalau boleh memilih jadi ular atau adam ??? bukankah anda seharusnya tahu bahwa kita tidak pernah bisa memilih milih jadi ular atau manusia ? jadi orang jawa atau cina saja kita tidak bisa memilih sendiri kok .

    Yang jadi pertanyaan berbasis logika adalah kenapa Adam yang sebagai korban bujukan seekor ular bisa dihukum jauh lebih berat daripada sang ular pembujuknya . Keadilan Hukum model apa yang diterapkan sang Tuhan itu ?

    Tidak biasakah anda berpikir sedikit lebih logis ? kalau pertanyaan seperti ini sudah dijawab pemikir kristen tentunya anda tinggal copas saja , bisa ditunjukkan dimana ada penjelasan tentang ini di blog anda ?

    jika anda berpendapat bahwa ular tidak pernah menang dari manusia menunjukkan bahwa logika kristen yang anda pakai hanya spatial spatial , semestinya anda tahu bahwa semua binatang apapun tidak ada yang menang melawan manusia

    Silakan beri jawaban logis atas model keadilan tuhan versi kristen kepada Adam kalau ada .

    ReplyDelete
  31. Lho justru itu yang saya tanyakan: kenapa anda beranggapan bahwa manusia dihukum jauh lebih berat padahal jelas-jelas manusia hidup jauh lebih enak daripada ular?

    Silahkan simak lagi ayatnya:
    Kejadian 3:14-15
    Lalu berfirmanlah TUHAN Allah kepada ular itu: "Karena engkau berbuat demikian, terkutuklah engkau di antara segala ternak dan di antara segala binatang hutan; dengan perutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kaumakan seumur hidupmu. Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya."


    Ular hanya dapat meremukkan tumit manusia, alias mencederai... Sedangkan manusia akan meremukkan kepala ular, alias membunuhnya. Manusia berkuasa atas ular. Manusia bisa menjinakkannya, membunuhnya, dan sebagainya. Dalam hal ini jelas manusia yang lebih beruntung.

    Anda mengatakan: Adam sebagai KORBAN BUJUKAN ULAR dihukum super berat, mulai diusir dari sorga , tanah menjadi tempat terkutuk , harus bersusah payah untuk hidup dan yang paling fatal adalah dosa gara gara makan buah larangan itu tidak pernah terampunkan sampai ke SEMUA anak cucunya ,


    Pikirkan lebih logis. Ular sendiri juga diusir dari sorga. Ular sendiri juga bersusah payah untuk hidup. Ular sendiri juga tidak terampunkan sampai ke semua anak cucunya. Apanya yang tidak adil?

    Maksud ular sebagai pemakan debu adalah: seumur hidup ular harus menjalar di tanah. Kepala dan mulutnya selalu menempel tanah, mengakibatkan debu-debu tanah selalu memasuki mulutnya tanpa terhindarkan. TIdakkan itu menyengsarakan?
    Begitu juga berjalan dengan perut.... Itu memerlukan tenaga yang sangat kuat dari otot perut, sangat melelahkan.

    Karena itu saya bingung dengan keberatan anda. Dilihat dari sudut manapun, sudah jelas ular yang dihukum jauh lebih berat daripada manusia.

    ReplyDelete
  32. 1. mengenai poin ini, nampaknya hanya merupakan kesalahpahaman bahasa. karena yang saya tangkap dari kata "basis ajaran" adalah hal hal mendasar yang diajarkan untuk dilaksanakan. sehingga sesungguhnya hal mendasar yang diajarkan untuk dilaksanakan bukanlah untuk menjadi orang yang pesimis akan penderitaan, melainkan untuk tidak berbuat jahat, perbanyak kebajikan, sucikan hati dan pikiran, dimana aplikasinya adalah pada kehidupan sehari hari. secara pribadi, mungkin saya lebih setuju dengan penggunaan kata "pokok masalah" daripada "basis ajaran". the four noble truth secara sederhana dapat dipandang sebagai sebuah riset seperti halnya skripsi, thesis, atau desertasi yang berlandaskan pada metodologi penelitian. dimana setiap riset selalu dimulai dengan "pokok masalah", dan seterusnya hingga berakhir pada kesimpulan dan rekomendasi. maka dari sini dapat dilihat tingginya sisi optimisme karena riset tersebut membuahkan hasil, tidak berhenti pada pokok masalah. mengenai hinduisme, budha tidak menolak sepenuhnya, dimana hal ini terlihat dari beberapa konsep yang memang sama. hanya beberapa praktik hunduisme saja yang ditolak, diantaranya adalah sistem kasta dan upacara kurban (caru-bali) karena konsep metta universal, yaitu cinta kasih tidak hanya pada sesama, namun pada semua makhluk hidup. pada praktik pemula, cinta kasih dan kebajikan dilakukan dengan harapan agar dirinya menerima suatu hal positif tertentu, sedangkan pada praktik yang sudah lebih mapan, perbuatan baik dilakukan demi perbuatan baik itu sendiri

    3. dalam kanon pali (kanon yang dijaga tetap utuh-theravada), gautama sndiri menyatakan bahwa dia bukanlah satu satunya yang mencapai nirwana. dan bukan yang pertama dan terakhir. mengenai hal ini, sebelumnya perlu dijelaskan bahwa dalam ajaran budha, planet, tata surya, galaksi, dan lainnya merupakan sesuatu yang terbentuk dalam jangka waktu yang amat sangat panjang, melalui berbagai reaksi kimia yang selebihnya telah banyak dijelaskan dalam ilmu pengetahuan. dan terus bergerak, dan mengalami perubahan, sehingga suatu saat akan mengalami perubahan dimana unsur unsur kimia pembentuknya mengalami penguraian kembali, atau dikenal dalam istilah "hancur" atau lebih populer dengan istilah kiamat. sistem yang lebih kecil (planet), mengalami siklus kiamat yang lebih cepat daripada sistem yang lebih besar (tata surya) dan yang lebih besar lagi (galaksi). untuk planet bumi yang sekarang ini, semenjak terbentuknya hingga sekarang, sudah terjadi "siklus" peradaban yang timbul tenggelam akibat bencana bencana besar. untuk satu masa bumi (dari terbentuk hingga hancur), akan muncul 4-5 budha. masing- masing pada rentang waktu yang sangat berjauhan. energi bumi hanya mampu menopang 1 kelahiran budha, sehingga tidak dimungkinkan untuk munculnya 2 budha dalam waktu bersamaan. ketika hal itu terjadi, maka bumi akan mengalami keruntuhan total. namun perlu ditegaskan disini, bahwa budha yang dimaksud adalah budha yang "paling spesial", dalam bahasa asing dikenal dengan sebutan "sammasambuddha". mengenai pencapaian nirwana, tidak ada perbedaan apapun, baik budha yg spesial, maupun dua jenis budha lainnya. penjelasan 3 jenis budha dapat dijumpai di berbagai situs dengan mudah. berdasarkan hal tersebut, maka masih ada 1 budha spesial yang akan muncul di masa bumi yang sekarang, dikenal dengan nama maitreya, namun berdasarkan kanon, masih terlalu lama untuk ditunggu kemunculannya. setelah itu barulah planet bumi ini akanmemasuki masa akhir, akan hancur total dan harus berproses hingga terbentuk kembali. demikianlah mengapa gautama bukanlah yang pertama dan terakhir.

    ReplyDelete
  33. 5. mengenai hal ini, butuh penjelasan yang panjang dan juga contoh contoh riil, agar dapat memahami cara kerja sistemnya. saya akan menjelaskan apabila terdapat waktu yang cukup.

    6. standar kebenaran seharusnya adalah kebenaran itu sendiri. sungguh sulit menentukan agama mana yang paling benar. misalnya kita menggunakan berbagai tolak ukur seperti doa yang terjawab atau terkabul, kejadian yang aneh, terasa seperti kebetulan dan ajaib, perubahan nasib setelah mengikuti agama tertentu, dan lain sebagainya, maka hampir dipastikan cara cara itu tidak bisa berhasil, karena ternyata hal itu terjadi di semua agama. hanya ada yang terungkap, terekspose, dan ada yang tidak. bagi para psikolog, pikiran manusia adalah barang eksperimental yang sangat mengasikan. tidak sulit bagi mereka untuk membuat pikiran manusia menyukai atau tidak suka,dan mempercayai atau menolak sesuatu dengan sangat kuat, dimana para korban tidak menyadari bahwa dirinya sedang dalam kondisi demikian, dan justru mengaggap wajar apabila dirinya demikian, contohnya adalah para pelaku bom bunuh diri

    ReplyDelete
  34. 7. saya rasa semua agama dapat menjelaskan mengenai segala fenomena kehidupan dalam versi masing masing. karena itulah banyak orang tetap bertahan dalam agamanya masing masing

    ReplyDelete
  35. Secara fisiologis Ular atau hewan apapun tidak akan mungkin menjadi predator jika menggerakkan badannya saja susah !

    jika menggerakkan badannya saja susah maka si ular pasti sudah punah sejak ribuan tahun lampau dimangsa predator lainnya

    Sebetulnya saya mengajak anda berdialog dari sisi religi bukan zoologi atas kasus Adam dan Ular . Tetapi nampaknya anda memiliki kecerdasan lebih dengan menghindari masalah religinya sebab saya yakin anda pasti telah tahu bahwa di sisi itulah doktrin kristen anda akan tumbang dari sisi logika.

    Anda menyataka si ular dihukum jauh lebih berat dari manusia ?

    setahu saya dalam kekristenan saking besarnya dosa Adam gara gara dibujuk ular memakan buah sorga , maka semua anak cucunya yang tak tahu apa apa ikut menanggung dosanya, dosa warisan Adam .

    Apakah si ular juga mengalami nasib seperti itu ? ternyata tidak !

    dan inilah keanehan lain alkitab kristen yang menyatakan jika Adam memakan buah sorga itu , maka akan langsung mati hari itu juga ,

    Kejadian 2:17 tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati."

    Dan kenyataannya Si Adam sehabis memakan buah itu ternyata tidak mati mati . Anda bisa melihat sendiri Level Kualitas Tuhan versi Kristen .

    ReplyDelete
  36. Ah, anda mengada-ada. Saya sama sekali tidak mempunyai kecerdasan lebih seperti yang anda sebutkan ^^

    Mengenai hukuman untuk ular, saya harus mengakui bahwa saya telah salah menjelaskannya. Saya memang belum pernah mempelajari secara mendalam tentang hal itu sehingga salah menjelaskannya.
    Untuk penjelasan yang benar, bisa anda baca di http://www.gkri-exodus.org/image-upload/KEJADIAN%203%20ayat%2014-19.pdf

    Dosa Adam memang dosa yang sangat besar. Sebab, Adam memberontak kepada pencipta-Nya, ia ingin menjadi sama seperti Allah.
    Kejadian 3:4-5
    Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: "Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat."

    Hawa memakan buah itu karena tertarik oleh perkataan ular bahwa dirinya akan menjadi sama seperti Allah.
    Kenapa anak cucu adam ikut menanggung akibatnya? Ada 2 analogi untuk menjelaskan ini. Kedua analogi ini saling melengkapi.
    1. Analogi ular. Seperti yang sudah pernah saya sebutkan di salah 1 comment di sini, natur keberdosaan manusia yang menurun dari adam adalah bagaikan seekor ular. Ular pasti mengandung racun, natur ular adalah membunuh binatang lain. Hal itu pasti menurun sampai ke anak cucunya. Nah, induk ular akan membunuh binatang lain, sehingga ia akan dianggap berdosa karena melakukan itu. Apakah anaknya juga akan dianggap berdosa karena perbuatan induknya itu? Tidak, itu adalah dosa induknya sendiri. Namun sebagai anak ular, anaknya itu juga suatu mewarisi natur ular yang beracun dan membunuh binatang lain. Anak ular itu suatu saat juga akan membunuh binatang lain.

    2. Analogi perwakilan. Misalnya suatu kali ada pertandingan sepakbola antara Indonesia VS Brazil yang berakhir 0-5. Esok harinya, di koran-koran seluruh dunia ditulis "Indonesia dikalahkan Brazil 0-5". Apakah anda akan memprotes begini, "Seenaknya saja kalian menulis. Kalian menulis seolah seluruh Indonesia kalah. Saya kan gak ikut main! Yang main hanyalah beberapa belas anak Indonesia, bukan seluruh Indonesia. Kenapa kalian menulis seolah seluruh Indonesia kalah?". Tentu itu protes yang salah. Seluruh Indonesia dianggap kalah karena yang kalah di pertandingan itu mewakili seluruh Indonesia. Begitu juga dengan dosa Adam. Adam adalah perwakilan umat manusia.

    Kedua analogi ini adalah pemikiran dari R.C. Sproul, seorang teolog Kristen.

    ReplyDelete
  37. Mengenai kenapa Adam tidak mati setelah makan buah itu, ini penjelasannya:

    Solusi terbaik adalah dengan membaca ulang peringatan di 2:7 secara lebih teliti dan apa adanya, tanpa merisaukan Kejadian 3 terlebih dahulu. Kata yang sering menimbulkan perdebatan dalam persoalan ini adalah kata “pada hari” (beyôm). Beberapa berusaha memahami dengan arti “ketika”, dengan alasan kata beyôm muncul di 2:4 dan 5:1 dengan arti yang sama. Yang lain memilih untuk menerima arti beyôm yang umum, yaitu “pada hari”.
    Dalam hal ini kita sebaiknya melihat frase “pada hari engkau memakannya, mati, pastilah engkau akan mati” secara keseluruhan dan tidak hanya memfokuskan pembahasan pada kata beyôm. Frase yang mirip dengan ini muncul di 1 Raja-raja 2:37 ketika Salomo memberi peringatan kepada Simei: “pada waktu [beyôm] engkau keluar dan menyeberangi sungai Kidron, pastilah engkau mati dibunuh dan darahmu akan ditanggungkan kepadamu sendiri”. Beberapa ayat sesudahnya (2:42) diceritakan bahwa tidak langsung mati pada saat ia melanggar peringatan tersebut. Ia baru mati setelah Raja Solomo memerintahkan Benaya bin Yoyada untuk memancungnya (2:46). Contoh lain adalah perkataan Firaun kepada Musa: “sebab pada waktu engkau melihat mukaku, engkau akan mati” (Kel 10:28). Ungkapan ini jelas dimaksudkan Firaun sebagai keseriusan untuk membunuh Musa apabila Musa berani menghadap Firaun lagi. Dari dua kisah di atas kita dapat menarik kesimpulan bahwa yang dipentingkan dalam frase “beyôm... môţ tāmûţ” bukanlah kesegeraan hukuman (dari sisi waktu), tetapi kepastian atau keseriusan hukuman.
    Seandainya yang dipentingkan memang bukan kesegeraan hukuman, melainkan kepastian dan keseriusannya, maka kita tidak akan memiliki kesulitan berarti untuk mengharmonisasikan peringatan di 2:17 dengan realisasi hukuman di pasal 3. Allah sungguh-sungguh menghukum manusia dengan kematian, baik kematian secara rohani (3:7-10; bdk. Ef 2:1) maupun secara fisik (3:19).

    Sumber: http://www.gkri-exodus.org/image-upload/KEJADIAN%202%20ayat%2015-17.pd

    ReplyDelete
  38. 1.
    '@atas: saat Tuhan memberikan kehendak bebas dalam diri manusia, otomatis manusia punya peluang untuk memberontak pada Tuhan melalui kehendak bebas itu. Dengan kata lain, manusia tercipta dengan potensi untuk berbuat dosa, namun bukan berarti Tuhan yang menciptakan dosa.'
    #A1:
    sayangnya kehendak bebas yg diberikan Tuhan mempunyai peluang membuat dosa sangat besar!
    lebih banyak mana: manusia Kristiani atau non Kristiani? Dari seluruh manusia Kristiani, lebih banyak yg masih berdosa atau yg sudah diampuni dosanya?
    #A2:
    Bukannya kehendak bebas sudah dimiliki si Adam,ya? sehingga si Adam bisa melanggar larangan-NYA.

    'Kejadian 3:14-15
    Lalu berfirmanlah TUHAN Allah kepada ular itu: "Karena engkau berbuat demikian, terkutuklah engkau di antara segala ternak dan di antara segala binatang hutan; dengan perutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kaumakan seumur hidupmu.'
    #B1:
    Ular kan banyak jenisnya, ini ular apa,ya? Apa ada bahasa latinnya?
    (atau ular tersebut juga berupa analogi saja)
    #B2:
    Apakah segala jenis ular dan turunannya memiliki leluhur yg sama yaitu ular terkutuk tersebut?

    '7. saya rasa semua agama dapat menjelaskan mengenai segala fenomena kehidupan dalam versi masing masing. karena itulah banyak orang tetap bertahan dalam agamanya masing masing'
    #
    wah kesimpulan yg sangat logis. seharusnya dengan kesimpulan ini segala diskusi dan perdebatan seharusnya selesai.. hehehehe (tentunya tanda tanya dan keraguan akan tetap disimpan dalam hati ^^ )

    ReplyDelete
  39. 1. Tahu dari mana kalau peluangnya sangat besar? Waktu itu larangan Tuhan hanya 1, yaitu jangan memakan buah dari 1 pohon itu saja. Yang lainnya boleh dimakan semua. Masa yang seperti itu anda anggap peluangnya sangat besar?

    2. Ular yang dimaksud di sini bukan binatang ular... melainkan iblis. Lebih jelas mengenai penafsirannya, baca di http://www.gkri-exodus.org/image-upload/KEJADIAN%203%20ayat%2014-19.pdf

    3. "saya rasa semua agama dapat menjelaskan mengenai segala fenomena kehidupan dalam versi masing masing. "

    Kesimpulan yang sangat logis? Sama sekali tidak. COntoh paling nyata: agama budha lahir dari ketidakpuasan gautama terhadap agama hindu, karena gautama menganggap agama hindu tidak memberikan solusi sama sekali atas masalah penderitaan umat manusia.
    Begitu pula agama Yahudi (yudaisme) tidak bisa memberikan solusi atas ketidakmampuan manusia untuk memenuhi seluruh hukum taurat.

    ReplyDelete
  40. Anda menyatakan dosa Adam sangat besar karena memberontak kepada Tuhan adalah kekonyolan logika yang lain, sebagai usaha menghindari kenyataan bahwa Adam adalah sebagai korban bujukan si Ular, dengan menutup mata atas kenyataan bahwa Adam adalah sebagai korban bujukan ular.

    Nenek moyang anda si Adam tidak pernah berniat memberontak dia adalah korban tipudaya ular.

    kekonyolan Logika Adam berdosa besar gara gara dibujuk memakan buah sorga kemudian anda susul pula dengan kekonyolan berikutnya dengan mengangap si ular adalah iblis , padahal Yesus hingga Paulus saja tidak pernah menganggap si ular adalah iblis ,Paulus tetap menyebut seekor binatang Ular sebagai penyebab kesalahan Adam silakan baca pernyataan Paulus di 2 Korintus 11:3 dan anda akan menemukan "ular" bukan "iblis"

    Dan semakin menggelikan logika anda atas ketidakmatian Adam sehabis makan buah dengan mengambil ayat Raja-raja 2:37 yang tentu saja sangat jauh korelasinya. Ahh, nampaknya andapun berusaha membuat tipudaya dengan ayat alkitab anda. Semestinya anda tahu bahwa kematian Yoab bukanlah karena menyeberangi sungai, tetapi karena Yoab melarika diri ke kemah tuhan dan memang ingin mati di sana , silakan baca mulai dari 1 Raja Raja 2:28 . Hari gini bukan masanya membuat tipudaya .

    Dan semakin lebih menggelikan lagi apologi anda dengan kisah Musa di Kel 10:28 . Anda kan tahu sendiri Musa tidak pernah bertemu Fir'aun sesudah itu. dimana padanan logikanya ? Tidak seperti halnya Adam yang memang telah benar benar memakan buah sorga. dan faktanya tidak mati .

    Apalagi kemudian Anda membela tuhan anda dengan mengatakan bahwa Tuhan menghukum semua manusia dengan kematian , tidak tahukah anda bahwa semua makhluk yang hidup di dunia ini juga mengalami kematian ? semua hewan dan tumbuhan mengalami kematian , bukan manusia saja yang mati ! Tidak terbayangkan bagaimana dubia ini seandainya tidak ada kematian. Lagi lagi anda memperlihatkan kekonyolan logika .

    Dan saya paham semua alasan yang anda buat buat tersebut untuk menutupi kekonyolan logika doktrin kristen yang dimulai dari awal kitab suci anda. sehingga sampai sampai membuat analogi asal asalan dengan natur ular dan sepakbola .

    Sebagai hewan predator tentu saja ular, macan, burung elang, ikan hiu , buaya hingga cicak otomatis adalah pembunuh mangsanya dan dari situ muncullah keseimbangan alam .

    Apalagi analogi sepakbola anda. Seandainya yang kalah PSSI sebagai wakil Indonesia tentu saja adalah konyol jika yang indonesia protes . Coba kalau yang kalah Persebaya , maka yang konyol adalah yang mengatakan "seluruh Indonesia kalah karena Persebaya kalah "

    Analogi Adam mewakili semua manusia adalah kekonyolan logika ,untuk menutupi ketidak logisan Kristen bahwa Tuhan memvonis berdosa seluruh manusia gara gara Adam yang tidak tahu apa apa , Adam yang justru sebagai korban tipudaya bujukan ular

    ReplyDelete
  41. @anonim yang satunya:
    maaf saya baru bisa menjawab poin-poin anda setelah saya memikirkannya dengan cermat selama beberapa hari ini.

    1. Meskipun anda menjelaskannya seperti itu, tetap saja bagi saya basis ajaran budha adalah penderitaan. Bukankah agama budha diawali dengan banyaknya penderitaan di dunia, dan diakhiri dengan lenyapnya penderitaan itu (nirwana)?

    3. Saya tidak begitu mengerti mengenai kanon pali, namun dari yang saya pelajari, konsep kitab suci budha itu sendiri bermacam-macam. Aliran theravada hanya mengakui tripitaka sebagai kitab suci, dan tidak bisa ditambah-tambah lagi. Sedangkan aliran mahayana menganggap tripitaka masih bisa ditambah lagi (lotus sutra dan prajna paramita). Sedangkan aliran vajrayana ada kitab suci kanjur dan tanjir.

    6. Benar sekali perkataan anda bahwa sangat sulit menentukan mana agama yang benar. Dan juga benar sekali bahwa standar kebenaran adalah kebenaran itu sendiri. Lalu bagaimana, bukankah kita juga sulit menentukan yang mana agama yang merupakan kebenaran? Memang demikianlah nasib manusia, seperti yang dikutip di Ayub 5:13

    "Ia menangkap orang berhikmat dalam kecerdikannya sendiri, sehingga rancangan orang yang belat-belit digagalkan."

    Pada akhirnya, memang Manusia memang tidak bisa mencapai kebenaran itu. Manusia hanya akan terus berkutat dalam lingkaran itu. Mencari kebenaran, namun tidak punya standar kebenaran. Karena itulah harus Tuhan sendiri yang turun ke dunia, menjelma menjadi Yesus, untuk menyatakan kebenaran itu pada manusia.

    Yohanes 8:32
    "dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu."

    Tidak masalah kalau anda tidak percaya konsep saya mengenai Yesus, karena kita mungkin berbeda keyakinan. Namun tetap saja anda harus mengakui bahwa kita tidak mempunyai standar kebenaran. Pada akhirnya, manusia harus kembali pada imannya masing-masing dan menjadikannya standar kebenaran. Islam menggunakan alquran sebagai standar kebenaran, budha menggunakan tripitaka sebagai standar kebenaran.
    Karena itu, bukankah sangat wajar kalau Ev. Bedjo menggunakan Alkitab sebagai standar kebenaran untuk meninjau ajaran agama budha?

    7. Sama sekali tidak. COntoh paling nyata: agama budha lahir dari ketidakpuasan gautama terhadap agama hindu, karena gautama menganggap agama hindu tidak memberikan solusi sama sekali atas masalah penderitaan umat manusia.
    Begitu pula agama Yahudi (yudaisme) tidak bisa memberikan solusi atas ketidakmampuan manusia untuk memenuhi seluruh hukum taurat.

    ReplyDelete
  42. 1.
    Saya agak bingung membaca penjelasan anda terhadap pertanyaan saya di atas, gan. Saya baca ulang lagi nanti pelan-pelan..

    ReplyDelete
  43. 1.
    #A1:
    sayangnya kehendak bebas yg diberikan Tuhan mempunyai peluang membuat dosa sangat besar!
    lebih banyak mana: manusia Kristiani atau non Kristiani? Dari seluruh manusia Kristiani, lebih banyak yg masih berdosa atau yg sudah diampuni dosanya?
    Jawaban agan Paulus:
    '1. Tahu dari mana kalau peluangnya sangat besar? Waktu itu larangan Tuhan hanya 1, yaitu jangan memakan buah dari 1 pohon itu saja. Yang lainnya boleh dimakan semua. Masa yang seperti itu anda anggap peluangnya sangat besar?'

    agan Paulus memang menjawab pertanyaan saya atau salah mengerti pertanyaan saya? (sy masih bingung, tuing? tuing? ..)

    ReplyDelete
  44. 1. benar, ajaran budha diawali dengan "penderitaan". sehingga "penderitaan" tersebut adalah pokok masalah, bukan basis ajaran.
    "jangan berbuat jahat"
    "tambahkah kebajikan"
    "sucikan hati dan pikiran"
    "inilah, ajaran para budha"
    demikianlah jika dikutip secara utuh.
    judul artikel ini adalah penderitaan, yang mana mengacu pada kata "dukha" dalam bahasa pali. namun, keliru apabila mengartikan dukha sebagai penderitaan, sebab tidak ada satu katapun yang dapat secara tepat untuk menterjemahkan kata dukha. namun inilah kira-kira kalimat yang mendekati arti dukha : kondisi dimana tidak memiliki kepuasan yang abadi.
    "penderitaan" hanyalah sebuah perwakilan arti, demi efisiensi kata. tentunya hal ini memiliki konsekuensi dimana budhisme seolah memandang hidup hanya berisi penderitaan semata. padahal didalamnya ada cintakasih dan kehangatan yang damai universal bagi semua makhluk yang hidup, tanpa ada pengecualian apapun.


    3. baiklah saya akan menjelaskannya, yaitu bagaimana hubungan dan kondisi kitab dari berbagai aliran agama budha. tripitaka kanon pali, adalah kanon dasar bagi seluruh aliran budhis. mengapa demikian? karena kanon pali adalah satu-satunya kanon yang paling dijaga keutuhannya, dalam arti tidak diperkenankan untuk ditambah, dikurangi, apalagi dirubah. isi dari tripitaka kanon pali tidak mengandung makna kias sehingga tidak memerlukan penafsiran tertentu. dengan demikian, dapat dijadikan sebagai acuan dasar untuk melihat ajaran budha yang utuh. dalam perkembangannya, berbagai aliran budhis bermunculan dengan kitabnya masing-masing. namun mengapa aliran tersebut dibiarkan berkembang begitu saja, walaupun memiliki kitab suci versi masing-masing? sederhana. karena kitab yang mereka miliki sebenarnya adalah hasil interpretasi dari ajaran yang terkandung dalam kanon pali. hanya saja dengan suatu tambahan atau perubahan tertentu, yang kadang bermakna kiasan. sebenarnya hal tersebut bukan sengaja untuk dirubah, melainkan hal tersebut adalah apa yang ditangkap dan dicerna oleh si penulis kitab, maupun cara guru besar masing masing aliran dalam mengajarkan ajaran budha kepada murid-muridnya. setiap orang memiliki pengetahuan serta karakteristik yang berbeda-beda, sehingga, untuk mengajarkan hal yang sama, terkadang membutuhkan cara yang berbeda pula. mengenai munculnya kitab-kitab dan kata-kata mutiara bermakna kiasan maupun hiperbola, dapat dimaklumi terutama pada kebudayaan cina, dimana memiliki budaya filosofis permainan kata yang tinggi, sehingga sering menjadi salah pengertian bagi yang tidak benar-benar memahaminya. contoh nyata yang ada di masyarakat adalah mengenai sosok budha maitreiya versi cina (budha gendut tertawa). hal ini bukan permasalahan besar bagi yang memahami keadaan sebenarnya. dimana seorang budha sesungguhnya memiliki ciri fisik yang sempurna (32 tanda manusia agung), dan tidak mungkin gendut dan tertawa seperti demikian. budha maitreiya yang gendut dan tertawa tersebut merupakan lambang harapan bagi rakyat cina yang pada jaman itu dilanda perang dan krisis hidup berkepanjangan. sehingga merindukan kemakmuran yang dilambangkan dengan gendut, serta kebahagiaan yang dilambangkan dengan tawa. demikian. untuk sejarah yang lebih detail dapat di googling dengan mudah.

    ReplyDelete
  45. 6. sebenarnya, budha tidak mengajarkan bahwa tripitaka adalah standar kebenaran. karena budha sendiri tidak menganjurkan agar orang-orang percaya kepadanya begitu saja, tanpa ada upaya untuk menyelidiki, belajar banyak hal secara teliti, serta membuktikan kondisi dunia ini sebagaimana adanya. tripitaka tidak memiliki sifat memaksa dan mengikat,melainkan hanyalah pedoman praktis dalam menjalani kehidupan siapapun. apabila tidak bermanfaat bagi kehidupan, sesungguhnya tidak ada yang mempersoalkan apabila tripitaka ditinggalkan. hingga saat ini, tripitaka tetap bertahan bukan karena dipertahankan, tapi karena perkembangan dalam berbagai bidang ilmulah yang membuatnya semakin diperhatikan. sehingga, salah satu cara agar tripitaka berhenti berkembang adalah dengan menghentikan penelitian di berbagai disiplin ilmu, terutama psikologi, kimia, fisika, biologi, dan astronomi. salah satu cara dalam melihat standar kebenaran tiap orang, adalah dengan bertanya kedapa orang tersebut: apa yang membuatnya yakin bahwa suatu agama tertentu adalah agama yang paling benar jika dibandingkan dengan agama lain. meskipun demikian, biasanya orang-orang menggunakan fakta dan bukti sebagai argumen dalam menentukan kebenaran.


    7. kondisi dunia yang dimaksud disini adalah fenomena kehidupan. setelah saya mempelajari banyak hal, memang demikianlah adanya. fenomena kehidupan adalah menyangkut pertanyaan pertanyaan umum. seperti siapa yang menciptakan semesta, siapa yang menciptakan pencipta, mengapa ada yang terlahir baik dan cacat, mengapa ada yang menderita seumur hidup dan sering berbahagia, mengapa sebagian dari mereka tidak mendapatkan pekerjaan yang layak, pasangan hidup, mengapa ada banyak agama. mengapa seseorang tidak kuat menghadapi tekanan hidup sehingga bunuh diri, mengapa jaman dahulu banyak terdapat orang-orang yang mampu melakukan hal diluar nalar, yang dalam bahasa umum disebut mukjizat (menciptakan objek fisik, berjalan diatas air, terbang, merubah wujud fisik diri, menyembuhkan penyakit hanya dengan sentuhan, dll) dan pertanyaan umum lainnya. karena semua ini mampu dijelaskan dalam konsep agama masing-masing, maka setiap orang tetap bertahan dalam agama mereka, apalagi jika penjelasan tersebut dapat masuk ke dalam akal mereka. mengenai lahirnya ajaran budha, berbeda dengan "melengkapi" atau "menggenapi" sesuatu, seperti konsep yang ada dalam agama tertentu. gautama sama sekali tidak memiliki pikiran puas atau tidak puas terhadap agama hindu (sebenarnya belum hindu, melainkan veda). ajaran budha terlihat "menggenapi" semata mata karena beberapa konsep memang sama dengan ajaran veda meskipun ada beberapa pula yang benar-benar berbeda. namun kesamaan tersebut bukan berarti meniru atau melengkapi. misalnya hukum gravitasi. gravitasi adalah sesuatu yang benar-benar ada. sehingga apabila seorang guru mengajarkan cara kerja gravitasi kepada muridnya, bukan berarti guru tersebut meniru ajaran guru pendahulu mengenai gravitasi, melainkan karena gravitasi tersebut memang demikian adanya.

    ReplyDelete
  46. saran saya, alangkah baiknya jika anda perdalam agama buddha dulu sebelum posting seperti ini. Karena menurut saya banyak hal yang tidak sesuai dengan yan anda pahami. ehipasiko = datang dan alami sendiri :)
    salam

    ReplyDelete
  47. "Budha bukanlah manusia saja melainkan juga memiliki sifat ilahi."
    Salam Damai Pak
    Saya setuju dgn sdr.Anonim yg ada di atas saya.
    Menurut saya kan sangat baik bila Bapak belajar Agama Buddha dulu baru berpendapat , dan akan lebih baik lagi bila kita tidak perlu "ikut campur" agama orang lain.
    Quote dari Bapak di atas jelas2 menggambarkan bahwa Bapak tidak tahu sama sekali tentang agama Buddha.
    Thx

    ReplyDelete
  48. Salam damai juga.

    Saya juga punya saran pada anda untuk membaca dulu keseluruhan tulisan orang sebelum seenaknya berkomentar dan memberi tuduhan "tidak tahu sama sekali tentang agama Buddha" yang tidak berdasar sama sekali tersebut.

    Silahkan anda baca dalam konteks apa kalimat yang anda quote tersebut muncul di artikel.

    "Para biarawan biasanya menjawab dengan mengatakan bahwa pertanyaan diatas tidaklah relevan karena Budha bukanlah manusia saja melainkan juga memiliki sifat ilahi. Menurut mereka, Budha adalah manifestasi dari esensi ilahi yang ada/hadir di bumi. Dia bukanlah daging dan tubuh."

    Jelas yang mengatakan itu bukanlah penulis artikel, melainkan para biarawan budha sendiri.

    Saya sendiri berkeyakinan bahwa menurut ajaran budha sendiri, budha hanyalah manusia biasa semata, karena di tripitaka sendiri gautama tidak pernah mengajarkan dirinya memiliki sifat ilahi.

    Dan silahkan anda sendiri yang mempelajari dulu mengenai agama budha. Anda akan mendapati bahwa aliran teravadha memang mempercayai bahwa gautama adalah manusia biasa, namun aliran mahayana mempercayai bahwa budha memiliki sifat ilahi. Apakah anda tidak tahu hal ini?

    Silahkan dipikirkan kembali siapa sebenarnya yang tidak tahu apa-apa tentang agama budha.

    ReplyDelete
  49. Oke thx saya memang pemula Pak :-D
    Menurut saya , akan ada baiknya kalau Bapak ke Vihara dulu , saya liat Vihara2 sekarang cukup maju , banyak kelas tentang Tripitaka. Agama Buddha memang sangat "riwet" sehingga cukup banyak orang , mungkint termasuk saya - atau anda yang salah paham mengenai arti Dhamma itu senidri.
    Akan ada Baiknya bila Bapak membaca Sutta2 asli,karena disitu tdk ada campur tangan opini/cara pandang orang lain.
    Mengenai Theravada dan Mahayana , sekali lagi - Aliran2 ini telah dicampuri oleh opini orang lain.
    Di agama Kristen pun juga banyak kan aliran2 yang memiliki perbedaan?
    1 hal lagi , mohon maaf kalau menyinggung , jujur saja saya rasa tidak ada gunanya menulis artikel2 yang bisa memecah belah masyarakat kita. Sekarang saya tanya , apa keuntungan bapak menulis artikel2 seperti ini?
    Maaf kalo saya menyinggung
    Thx Pak :-D
    Salam Damai
    Blazetama(www.wihara.com)

    ReplyDelete
  50. Oh never mind, tidak usah takut-takut untuk mengutarakan pendapat di blog ini. Saya sangat berharap semua pengunjung blog ini bisa mengutarakan pendapat dengan bebas tanpa rasa khawatir ^^
    Saya tahu agama budha memang cukup rumit, terutama dikarenakan kitab suci tripitaka yang panjangnya sekitar 70 kalinya Alkitab itu.
    Selama ini saya belajar banyak mengenai perbandingan agama, termasuk di antaranya adalah agama budha. Saya pernah berdiskusi dengan banyak orang-orang yang mendalami teologi budha, membaca buku-buku tentang agama budha, dan juga pernah bergabung di forum budha.
    Saya tidak menyerang agama budha karena banyaknya aliran. Menurut saya, adalah hal yang wajar dalam agama muncul berbagai aliran karena yang namanya kebenaran tidak mungkin bisa dimuat seluruhnya oleh akal manusia yang terbatas sehingga wajar jika timbul berbagai penafsiran.

    Mengenai tujuan saya menulis artikel-artikel seperti ini, tentu saja untuk mencari kebenaran. Kita diberi akal budi oleh Tuhan untuk memikirkan dan mencari kebenaran kan? Agama-agama di dunia ini sangat banyak, tidak mungkin semua agama tersebut benar. Kita perlu memikirkannya dengan baik. Kita harus berhasrat untuk kebenaran dan hidup untuk kebenaran itu.
    Bagi saya pribadi, agama budha adalah agama yang mengagumkan. Saya kagum dengan pribadi Gautama yang berusaha keras mencari solusi atas penderitaan manusia, karena itu saya tidak mungkin menjelek-jelekkan agama budha. Bagaimanapun agama budha adalah agama yang baik karena merupakan hasil pencarian manusia akan kebenaran. Namun agama yang baik bukan berarti agama yang benar. Saya menghormati agama budha, namun bukan berarti saya menganggap agama budha adalah agama yang benar.

    Salam damai juga ^^

    ReplyDelete
  51. Bapak yang budiman ,
    Mencari kebenaran itu hak masing2 , tapi tolong usahakanlah jangan memakai cara-cara yang berpotensi memecah belah masyarakat kita seperti ini.
    Mohon maaf kalau saya agak kasar,
    Mungkin Bapak juga sudah tau itu terdiri dari kata a(artinya tidak) dan gama(artinya kacau)
    Jadi arti dari agama adalah "tidak kacau"
    Saran saya , (mohon maaf bila menyinggung) bila Bapak mengaku sebagai umat beragama yang baik , janganlah buat kekacauan.
    1 hal lagi,
    Mari kita anggap Bapak sudah menemukan kebenaran melalui tulisan2 Bapak(tentunya setelah menimbulkan perseteruan he2)
    Lalu kita anggap Agama Bapak yang benar, agama saya yang salah.
    Lalu???
    Toh Bapak juga sudah percaya dari dulu kan kalau agama Bapak yang benar?
    Akhirnya yang tersisa hanya perseteruan masyarakat saja Pak.
    Ingat,agama adalah kacamata.
    Mencoba melihat dari dua kacamata sekaligus?ya pusing!
    Sudahlah Pak , menurut saya lebih baik bila kita introspeksi diri kita masing2,sehingga kita bisa menjadi lebih baik dan memberi kedamaian di sekitar kita,daripada membuat tulisan2 yang bisa bikin kacau.
    Salam damai

    ReplyDelete
  52. 1. Bisa tolong anda jelaskan kenapa anda menganggap saya memicu kekacauan dan memecah belah masyarakat?
    Kenyataannya, saya sedikitpun tidak pernah menghina agama budha. Lantas dari mana asal tuduhan anda itu?

    2. Jadi anda adalah orang yang mengorbankan kebenaran demi "ketidakkacauan" dan "persatuan"?
    Ingatlah, bahwa agama yang kita pegang sekarang ini tidak hanya mempengaruhi hidup kita yang sekarang, namun juga kehidupan yang akan datang. Sedangkan "ketidakkacauan" yang anda maksud itu hanya berlaku di dunia kini saja.

    Jangan salah paham. Saya bukanlah orang yang berusaha merusak persatuan. Saya tetap berusaha menghargai setiap agama di samping mengabarkan kebenaran. Saya tidak pernah memaksa orang untuk pindah agama atau menghina agama orang lain.

    ReplyDelete
  53. Salam Pak
    1.Karena Bapak membawa2 agama orang lain. Bapak kan sudah yakin agama Bapak yang benar , dan yang lain salah. Lantas?
    2.Cape deh Pak
    Sekarang gini deh,setiap agama(terutama 5 agama besar di Indonesia) itu gak ada ngajarin yang macem2 kan?(misal:membunuh/mencuri/dkk).
    Apasi salahnya kalo kita antar umat beragama berdamai aja?gakperlu lah memandang 1 hal dari 2 agama(karena emang pasti beda).
    Mencari perbedaan itu gampang Pak,cari persamaan yang sulit.
    Saya punya ide , saya lihat dari tulisan Bapak , saya yakin Bapak orang yang pintar. Gimana kalo Bapak gunakan kepintaran Bapak untuk mencari persamaan dari 5 agama besar?(karena mungkin saya tdk sepintar Bapak)
    Thx :-D

    ReplyDelete
  54. paulusteguh malulah sama tuhanmu yang sudah rela mengorbankan dirinya untuk mati demi keselamatanmu...

    ReplyDelete
  55. 1. ya lantas saya mengajak kita semua berpikir mengenai kebenaran tersebut. Kalau ada yang tidak mau menanggapi diskusi seperti ini, ya gak usah masuk ke blog saya ini kan beres ^^

    2. Saya beri analogi.
    Ada seorang bapak mempunyai 3 anak. Si Bapak menyuruh ketiga anaknya untuk tidak boleh makan permen.
    Suatu hari ada seorang teman yang mengajak ketiga anak ini untuk makan permen.
    Anak pertama menjawab, "gak mau deh, nanti saya dipukul bapak kalau ketahuan"
    anak kedua menjawab, "gak mau deh, ntar bapak gak jadi ngasih saya hadiah kalau saya gak taat"
    Tapi anak ketiga menjawab, "saya gak mau, karena saya tidak mau menyakiti bapak saya. Bapak saya sangat baik buat saya, saya tidak mau mengecewakan dia".

    Di antara ketiga anak ini, anda mau pilih anak yang mana? Saya rasa anda akan memilih yang ketiga.
    Inilah yang diajarkan oleh Kekristenan: Tuhan sudah sangat baik sampai rela mengorbankan diri demi menyelamatkan manusia. Kami orang Kristen berusaha berbuat baik untuk membalas kebaikan tersebut. Kami tidak mau berbuat dosa karena tidak ingin menyakiti hati Tuhan kami.

    Silahkan anda survei semua agama di dunia; hanya Kekristenan sendirilah satu-satunya yang mengajarkan ini.


    3. Saran yang sangat bagus. Namun perlu anda tahu bahwa salah satu latar belakang saya membuat blog ini adalah: karena orang-orang zaman sekarang selalu mengatakan bahwa semua agama itu sama. Padahal kita harus melihat persamaan dan perbedaan secara seimbang. Melihat persamaan saja tidaklah baik. Melihat perbedaan saja juga tidaklah baik. Melalui blog saya ini, saya ingin mendorong orang-orang untuk berpikir lebih jauh mengenai agama, tidak sekedar asal ngomong "semua agama itu sama".

    ReplyDelete
  56. Salam Pak
    Kalo boleh jujur saya memang bukan mau berdiskusi , hanya mau memberi saran saja untuk tidak perlu menulis tulisan2 ini karena (menurut saya) bisa menimbulkan perpecahan :-D
    Ah Bapak , coba Bapak perhatikan perang itu dari dulu sampai sekarang karena apa?terorisme dan semacamnya karena apa?
    Kalo saya si berpendapat kita lihat lah samanya...biar damai gitu loh..kayak Tzu Chi tu bagus :-D
    Sekarang gini aja Pak , coba Bapak pikirkan..kalo kita lihat perbedaan antar agama/memandang 1 sisi dari 2 agama yang berlainan ya pasti beda..orang agamanya aja beda he2
    Thx Pak :-D

    ReplyDelete
  57. mau donk karena saya gak punya bapak...

    ReplyDelete
  58. "1. Bisa tolong anda jelaskan kenapa anda menganggap saya memicu kekacauan dan memecah belah masyarakat?
    Kenyataannya, saya sedikitpun tidak pernah menghina agama budha. Lantas dari mana asal tuduhan anda itu?"

    Ga perlu muter sana muter sini. Pertanyaan anda cukup dijawab dengan satu jawaban. Karena kami umat buddhis yang membaca tulisan anda jd tidak nyaman dan tidak suka karena tulisan anda tidak sepaham dan tidak bedasarkan sumber2 yang cukup kredibilitasnya serta sudah disunting sebagian saja hingga mendukung teori anda bukannya ditampilkan secara apa adanya. Saya rasa itu saja cukup untuk memecah belah masyarakat terutama hubungan buddhis dan kristen yang selama ini selalu damai. Apakah anda cmn beraninya mencari agama yang damai untuk anda carikan gara2? Apakah alasan satu itu belum cukup? Kalo agama anda mengkedepankan cinta kasih tentunya tidak akan membuat orang lain tidak nyaman apalagi dalam skala besar hingga bisa dibilang memecah belah masyarakat.

    Setahu saya umat agama anda suka memaksa orang. Orang yang ga berniat mendengarkan ajaran dipaksa2 juga. Dengan alasan sudah mendapat perintah untuk mengkristenkan. Menurut saya dan saya yakin banyak yang setuju kristen sekarang fanatiknya sudah dalam taraf meresahkan. Menurut saya justru orang2 seperti anda inilah yang merendahkan nilai tuhan anda sendiri yg dikatakan maha pengasih.

    Salam.

    ReplyDelete
  59. "3. Saran yang sangat bagus. Namun perlu anda tahu bahwa salah satu latar belakang saya membuat blog ini adalah: karena orang-orang zaman sekarang selalu mengatakan bahwa semua agama itu sama. Padahal kita harus melihat persamaan dan perbedaan secara seimbang. Melihat persamaan saja tidaklah baik. Melihat perbedaan saja juga tidaklah baik. Melalui blog saya ini, saya ingin mendorong orang-orang untuk berpikir lebih jauh mengenai agama, tidak sekedar asal ngomong "semua agama itu sama". "

    saya baca pernyataan ini bikin saya tertawa. mengambil ayat agama lain sepotong2 membuat seakan2 tidak masuk akal. sebaliknya mengambil ayat agama sendiri yang masuk akal dan menutup2i sisanya. berkelit kesana kemari supaya yang salah jadi benar bisa anda katakan melihat persamaan dan perbedaan secara seimbang. salut bt anda

    ReplyDelete
  60. Terorisme dan berbagai masalah muncul di dunia ini karena orang hanya mau melihat perbedaan tanpa melihat persamaan.
    Sedangkan teori evolusi muncul karena Darwin hanya melihat kesamaan antara manusia dengan kera dan tidak melihat perbedaannya.
    Karena itulah saya katakan bahwa kita harus melihat persamaan dan perbedaan secara seimbang.

    Saya gak peduli anda mau menuduh saya buat keresahan atau berkelit atau apapun. Kalau anda orang yang akademis, anda tentu tahu bahwa dalam dialog yang akademis, yang harus anda serang adalah argumennya atau tulisannya, bukan orangnya.

    Anda merasa artikel saya ini salah? No problem, tapi jelaskan argumen anda! Anda merasa artikel ini mengambil ayat agama lain sepotong-sepotong? No problem, tapi jelaskan argumen anda! Anda mengatakan sumber-sumber yang digunakan tidak cukup kredibilitasnya dan sudah disunting? No problem, tapi jelaskan argumen anda! Kita akan berdialog secara sehat dan akademis di sini!

    Terakhir, saya memohon maaf jika memang ada orang-orang agama Kristen yang suka memaksa orang seperti itu. Saya tidak setuju dengan sikap seperti itu dan saya sangat menyesalkannya.

    ReplyDelete
  61. tulisan anda bagus tapi sayangnya si penulis kurang bagus tidak mencerminkan pengikut yesus sejati...

    ReplyDelete
  62. kurang setuju, pembahasan yang di lakukan penulis hanya berdasarkan pengetahuan, bahkan baru sampai kulit luarnya saja, dan memang banyak orng salah kaprah tentang Nibbana terutma orng di luar Buddhis, dan menjelaskan 4 kesunyataan sebatar nalar dari logika saja, sangat jauh dari pengertian Buddha

    Nibanna bukan tempat tapi keadaan batin, seperti apa ? silahkan praktek dan mencari tahu, tidak bisa di logikakan, hanya jadi omong kosong belaka

    Dukkha adalah ketidakpuasaan akan sesuatu yg menyebabkan penderitaan

    bencana alam atau kecelakaan diakibatkan oleh seseorang bersumber dari kamma
    ada bbrp jens kammaa silahkan baca di forum Buddhis, dhammacitta, dll

    Sidharta bukan Tuhan dan tidak ada yang men-Tuhan kan Beliau

    Buddha tidak mengenal Tuhan (personal) yang keadaan batinnya masih labil bisa marah, iri, suka mengancam, membuat mujikzat, dll

    Sidharta bukan nabi dan tidak dapat wahyu karena meditasi atau dari "Tuhan",

    ReplyDelete
  63. Salam Pak ,
    Lama kita tidak berjumpa :-D
    Saya ingin bertanya sesuat lagi
    (saya Blazetama)
    Apakah yang Bapak maksud dengan kata Ilahi?
    Karena sepertinya ada salah paham disini , konsep Ilahi dari Kristen itu berbeda dengan konsep di Buddhist.
    1 lagi , saya mengundang Bapak untuk berdiskusi secara langsung di www.wihara.com
    Thx Pak :-D

    ReplyDelete
  64. Anda blazetama? Blazetama yang mana ya? Saya belum pernah mengenal orang bernama blazetama...

    Dan mengenai pertanyaan anda: menurut saya "bersifat ilahi" artinya adalah "mengandung unsur suatu kuasa yang lebih tinggi".

    Bagaimana dengan anda sendiri?

    Dan mengenai undangan anda berdiskusi, saya sudah bergabung di forum budha yang lain.... Tapi saya akan bergabung di forum anda tersebut kalau saya sudah mempertimbangkannya baik-baik....
    Jujur saja saya lebih suka berdiskusi di forum diskusi agama yang lebih objektif (bukan milik 1 agama tertentu).

    ReplyDelete
  65. Blazetama yang di comment atas Pak :-D
    "mengandung unsur SUATU KUASA yang lebih tinggi"
    Boleh berikan contoh SUATU KUASA yang Bapak maksud?
    Thx :-D

    ReplyDelete
  66. halo paulus, salam kenal. Beragam tulisan anda di blog ini bagus sekali, ijinkan saya membookmarknya :)

    mengenai tulisan ini, yang ditulis oleh salah satu pendeta anda, saya ingin menanggapinya agar tidak terjadi kesalahpahaman mengenai makna buddhisme. Dari penjabaran awalnya, tulisan ini cukup mengetahui ajaran buddha, tetapi sayangnya kesimpulannya tidak menunjukkan ia memahami ajaran buddha. 2 poin yang ingin saya komentari adalah:

    point 1, tertulis bahwa:
    ------------------------
    Akan tetapi kontradiksi moralnya ialah: seseorang harus menginginkan untuk dapat diselamatkan dari keinginan atau selfishness. Sementara itu, menginginkan untuk menyelamatkan diri sendiri adalah sama egoisnya dengan tindakan-tindakan lain yang pada akhirnya ditujukan untuk kepuasan diri sendiri. Jadi, jikalau seserorang ingin mendapat pencerahan ia tetap harus “ingin”, sedangkan “ingin” itu sendiri adalah suatu kesalahan yang justru mencegah pencerahan.20 Disinilah kita melihat adanya problem kontradiksi dalam pengajaran mengenai jalan pembebasan dari penderitaan.
    ----

    Kita lihat baris "Sementara itu, menginginkan untuk menyelamatkan diri sendiri adalah sama egoisnya dengan tindakan-tindakan lain yang pada akhirnya ditujukan untuk kepuasan diri sendiri."

    Penulis artikel ini telah mengetahui bahwa ajaran buddha menganggap ke-aku-an adalah delusi, tapi gagal memahami bahwa tujuan pencerahan adalah menghapus delusi tersebut, jika tidak ada lagi "aku", bagaimana mungkin pencerahan pada akhirnya ditujukan untuk kepuasan diri sendiri? dugaan saya, penulis menyamaratakan tanha sebagai keinginan apa saja, walaupun sebenarnya penulis mengetahui definisi tanha. Ajaran buddha menghindari kemelakatan dan ingin melepas, dan keinginan melepas itu bukankah kemelekatan. Logikanya, bagaimana bisa melekat pada sesuatu yang melepas?

    poin 2, tertulis:
    -----------------
    Tidak ada penjelasan yang memadai mengenai penderitaan fisik yang diluar kontrol manusia seperti bencana alam, terbunuh secara tidak sengaja, dll. Budha tampaknya kurang membedakan berbagai kategori penderitaan.
    ------------------

    silakan baca hukum-hukum menurut agama buddha (ada 5 hukum), tidak hanya ada hukum karma. Ada penjelasan mengenai bencana alam dilihat dari sisi ajaran buddha, silakan di googling.

    demikian komentar saya, salam buat paulus dan pendeta anda. keep writing! :)

    ReplyDelete
  67. Terima kasih banyak ^^

    Saat ini kebetulan saya juga sedang mendalami lagi ajaran Budha. Saya berencana ikut berdiskusi di beberapa forum Budha dalam waktu dekat ini ^^

    Mengenai tanggapan anda tentang artikel ini, saya tidak ingin menjawabnya karena saya juga belum banyak tahu mengenai ajaran Budha jika dibandingkan anda, selain itu toh penulis artikel ini bukan saya. Hehe

    Terima kasih banyak ^^

    ReplyDelete
  68. wah bagus sekali paulus, semoga bisa dituliskan kesimpulan-kesimpulannya di blog ini sesuai pandangan anda, saya suka membaca tulisan anda, terlepas setuju tidaknya, harusnya banyak generasi muda seperti ada.

    ReplyDelete
  69. @blazetama: saya sudah membaca ini
    http://www.wihara.com/forum/topik-umum/10538-sebuah-tinjauan-kritis-dari-perspektif-kristen-terhadap-ajaran-buddha.html

    apakah ini anda yang memposting artikel dari blog saya ini?

    Well, saya sudah membaca komentar-komentar di sana. Sungguh saya merasa prihatin; Penulis artikel ini hanya dituduh dan difitnah berbagai hal. Padahal jelas-jelas judul artikel ini adalah "dari perspektif Kristen", sudah jelas bahwa tujuan artikel ini adalah pengajaran bagi orang-orang Kristen, sudah jelas bahwa artikel ini ditujukan bagi orang-orang Kristen, bukan orang Buddha; dari sudut pandang Kristen, ya jelas saja agama Buddha itu salah (karena Kristen berbeda dengan Buddha), dan tentu saja sebaliknya: Bagi Buddha, tentu agama Kristen itu salah. Jadi apa sebenarnya salah si penulis sehingga sampai dijelek-jelekkan seperti itu?

    @arrow: beberapa waktu lalu saya ikut berdiskusi di forum buddha, yaitu forum dhammacitta. Hmh, anda bisa melihat postingan-postingan saya di sana; silahkan anda baca. Saya datang karena begitu ingin tahu mengenai ajaran buddha, saya antusias menanyakan berbagai hal. Namun saya malah dituduh berbagai macam; mau kristenisasi lah, mau menyerang agama buddha lah, dsb. Padahal saya sedikitpun tidak membawa-bawa agama Kristen ataupun mengaku diri orang Kristen, seluruh postingan saya 100% merupakan pertanyaan tentang ajaran Buddha... dan saya juga tidak satu kalipun memberikan serangan atau tuduhan terhadap ajaran Buddha....

    Well, jujur saat ini saya sudah trauma untuk ikutan di forum Buddha....

    ReplyDelete
  70. Halo Paulus, saya sudah baca pertanyaan anda di forum dhammacitta, memang tidak semua member welcome, saya juga ngga tau kenapa, tapi ada beberapa member yang menerima dan menjawab pertanyaan anda juga kok :) mungkin bisa saya jawab 2 pertanyaan awal anda sebelum thread forum tersebut jadi "panas" hehehe..


    1. Apakah agama Budha mempercayai bahwa dosa bisa dibayar/dilunasi dengan perbuatan baik? Apakah semacam debet-kredit dalam akuntansi gitu?
    2. Agama budha mengajarkan tentang ketiadaan diri. Saya sangat kesulitan memahami konsep ini. Bisa tolong dijelaskan?

    Jawab:

    1. Tidak, karma buruk tidak dapat dihapus dengan karma baik. Tetapi jika kita memiliki banyak karma baik, karma buruk akan terasa ringan. Ibaratnya jika karma baik kita sebanyak air didalam cangkir teh, jika dicelupkan segenggam garam (karma buruk) akan terasa asin, tetapi jika karma baik kita sebanyak air di dalam kolam renang, maka rasa asinnya akan berkurang atau bahkan tidak terasa sama sekali.

    2. "Aku"/ego merupakan delusi dalam ajaran buddha, yang timbul karena kondisi-kondisi. Seperti "aku ingin kaya" timbul karena kondisi merasa miskin, sementara segala sesuatu yang terkondisi itu tidak ada yang kekal, selalu berubah. Jadi sebenarnya tidak ada inti yang kekal pada ajaran buddha, termasuk si "aku" sendiri. Hal ini hanya dapat dipahami dengan meditasi yang mendalam.

    ReplyDelete
  71. Terima kasih anda telah menjawabnya. Kalau boleh, saya ingin anda menjelaskan mengenai pertanyaan-pertanyaan saya berikutnya yang saya tanyakan di forum tersebut.... Yaitu,

    1. Apakah Buddha sudah berhasil mencapai nirwana saat dia berada di dunia? Lantas apakah dia sudah terlepas dari penderitaan?

    2. Apakah Buddha adalah manusia biasa atau memiliki benih ilahi?

    kemudian saya ingin menambahkan 1 pertanyaan lagi mengenai "aku"/ego:

    3. Jika "diri" itu tidak ada, apakah berarti umat manusia telah salah kaprah dengan memberi nama pada seseorang? Misalnya, memberi nama "Paulus" pada seseorang yang tinggal di Surabaya.

    ReplyDelete
  72. Hanya ingin ikutan dibagian ini :

    Paulus menulis : Dan tentunya sekarang kita harus mencari kebenaran di antara begitu banyak agama yang ada di dunia ini. Manakah yang benar? Manakah yang salah?

    Menurut ku : Semua Agama di dunia ini benar. "Agama" dibuat pastinya untuk sesuatu yang baik, jika "Agama" yang dibuat bukan untuk hal yang baik, apakah "agama" itu akan bertahan lama ?
    Semua itu tergantung bagaimana manusia itu membuat agama itu menjadi baik dan manusia lain pun dapat menjalankan perintah dan ajarannya dengan baik pula.

    Mohon maaf jika endapat ku salah...
    Dan semoga membantu jika ada yang setuju...

    ReplyDelete
  73. Jadi menurut anda, semua agama itu benar?
    Bagaimana dengan gereja setan? Apakah itu juga benar?
    Bagaimana dengan agama Hindu yang mengajarkan sistem perbedaan kasta yang sangat diskriminatif itu, apakah itu juga benar?
    Dan bagaimana dengan agama-agama suku pedalaman yang mengajarkan kanibal, apakah itu juga benar?

    Dan jika semua agama itu benar, lalu bagaimana anda menjelaskan ini:

    Agama Buddha dan Hindu mengajarkan adanya kehidupan yang bereinkarnasi terus-menerus, sedangkan Agama Islam dan Kristen mengajarkan bahwa hidup hanya 1 kali saja. Yang mana yang benar? Apakah dua-duanya benar?

    Agama Islam mengajarkan bahwa Yesus tidak lebih daripada seorang nabi, sedangkan Kristen mengajarkan bahwa Yesus adalah nabi sekaligus Tuhan. Yang mana yang benar? APakah dua-duanya benar?

    Agama Islam, Kristen, dan Yahudi mengajarkan 1 Allah yang esa, sedangkan Agama Hindu mengajarkan adanya ratusan juta dewa-dewi. Yang mana yang benar? APakah dua-duanya benar?

    ReplyDelete
  74. pinter sih pinter dlam bertuturkata tapi terlalu sok tahu agama orang lain...ckckckck

    ReplyDelete
  75. PIKIRAN anda itulah TUHAN sesungguhnya......jika anda berpikir tuhan itu ada maka seperti itulah tuhan itu, jika anda berpikir tuhan itu tidak ada maka seperti itulah tuhan itu, jika anda berpikir tuhan itu seperti mr.bean maka seperti itulah tuhan itu,jika anda berpikir tuhan itu seperti mak lampir maka seperti itulah tuhan itu....PEMIKIRAN Buddha gautama tentang tuhan adalah seperti itu ya seperti itulah tuhan itu....PEMIKIRAN yesus tentang tuhan adalah begini maka beginilah tuhan itu......konsep ketuhanan Hanya bisa anda dapatkan di PIKIRAN anda sendiri....itulah tuhan sesungguhnya......

    ReplyDelete
  76. nah gitu dong kalo anda mau menghargai umat agama lain kan enak keliatannya hehehee... jadi ntar ikita buktiin aja tuhan itu ada atau enggak tuhan itu seorang manusia atau bukan...

    ReplyDelete
  77. Mari kita semua berdoa sesuai dengan keyakinan kita masing masing ,percaya Yesus kristus berdioalah kepadaNYA

    Percaya kepada AlLLAH berdoalah kepadanya
    dan bagi yang percaya kepada ajaran Sidharta Gautama atau Buddha lainnya lakukanlah sesuai dengan ajarannya
    Semoga semua orang dapai menyucikan pikirannya, jauhkan kejahatan dan tambahkan kebajikan Sukses bagi semuanya

    ReplyDelete
  78. @semuanya: Paulus yang berkomentar di atas bukanlah saya. Saya tidak tahu apakah dia adalah orang yang kebetulan juga bernama paulus ataukah memang bermaksud memalsukan nama saya.

    @paulus: itu sungguh suatu komentar yang tidak masuk akal. Sekarang saya tanya deh: Tuhan itu SEBENARNYA ada atau tidak? Atau menurut anda Tuhan itu hanya khayalan saja??

    ReplyDelete
  79. @paulus : paulus!!! nampaknya anda masi tidak menyimak kata kata w sebelumnya... baca sekali lagi...."jika anda merasa tuhan itu ada ya maka akan ada lah tuhan itu, jika anda merasa tuhan itu tidak ada ya tidak akan pernah ada tuhan itu.." kembali lagi saya utarakan "PIKIRAN ANDA SENDIRI KUNCINYA"

    ReplyDelete
  80. @paulus : jadi untuk selanjutnya dan kedepannya janganlah pernah lagi kamu pertanyakan tentang "KETUHANAN" pertanyaan seperti itu cukup tanyakan pada diri sendiri dan kamu jawab sendiri dan tidak perlu di share...

    ReplyDelete
  81. Oke, jadi kuncinya adalah pikiran saya sendiri?

    Baiklah, bagaimana kalau saya berpikir bahwa anda adalah manusia setengah iblis yang gila dan terbelakang mental? Apakah lantas anda memang seperti itu?

    Argumen anda itu sangat konyol. Sebagai contoh: jika anda melihat komputer anda sendiri, lalu anda berpikir bahwa komputer anda itu tidak ada yang menciptakan, apakah lantas komputer itu memang tidak ada penciptanya, langsung ada begitu saja dengan sendirinya? Tidak mungkin. Komputer anda itu pasti ada yang menciptakan, tidak peduli apa yang anda pikirkan itu.

    Bagaimana jika misalnya anda berpikir bahwa bumi itu tidak ada? Apakah lantas bumi itu memang tidak ada? Kalau bumi itu tidak ada lalu bagaimana anda bisa hidup?

    ReplyDelete
  82. bagaimana mungkin anda bisa meyatakan dan membandingkan TUHAN itu sama dengan Subjek atau Benda tapi jika anda berpikir begitu maka akan seperti itulah tuhan bagi anda....

    Jika anda menyatakan segala sesuatu ada yang menciptakan lalu siapakan yang menciptakan TUHAN????

    tanya diri anda sendiri, jawab sendiri tidak perlu di share

    ReplyDelete
  83. anonim,

    Silahkan anda jelaskan dulu definisi "Tuhan" itu apa.

    Kami orang teis mendefinisikan "Tuhan" sebagai yang kekal, yang mahakuasa, yang menciptakan segala sesuatu, dan yang tidak diciptakan.

    Jadi kalau anda bertanya siapa yang menciptakan Tuhan, maka itu berarti anda perlu mendefinisikan ulang Tuhan dalam kamus anda. Kalau anda mendefinisikan Tuhan sebagai sesuatu yang diciptakan pula, maka tidak usah kita berdiskusi, karena kita memiliki pengertian yang berbeda tentang Tuhan.


    Kembali lagi ke argumen saya sebelumnya; kalau anda berkeras semua terserah pikiran saya, oke saya akan berikan lebih banyak contoh:
    Saya berpikir bahwa anda adalah orang berkelamin ganda. Lantas apakah anda memang berkelamin ganda?

    Saya berpikir bahwa anda adalah orang ber-IQ 40. Apakah lantas IQ anda memang 40?


    Kalau anda mengatakan bahwa Tuhan itu berbeda dengan anda, saya ingin bertanya: kenapa anda mengatakan Tuhan itu tergantung pikiran saya sendiri, sedangkan anda tidak tergantung pikiran saya? Atas dasar apa?

    ReplyDelete
    Replies
    1. "Tuhan" sebagai yang kekal, yang mahakuasa, yang menciptakan segala sesuatu, dan yang tidak diciptakan.

      Hati-hati dalam mendefinisikan Tuhan. Nanti timbul pertanyaan Apakah Tuhan mampu menciptakan benda yang sangat berat sehingga Tuhan sendiri tak mampu mengangkatnya ?

      Delete
    2. karna si anonim itu benar2 ada wujudnya,kalau anda mau melihatnya secara langsung tinggal janji ketemu aja kan??? lah kalau tuhan???sebelum melihat sendiri anda bisa saja berpikir si anonim itu tinggi atau mungkin si anonim itu pendek,saat melihat langsung anda baru akan tahu,lah tuhan???

      Delete
  84. saya sendiri tidak berani dan bisa mendeskripsikan tuhan itu selain dari pikiran saya sendiri...

    Bisakah anda buktikan tuhan itu menciptakan segala sesuatu?? Ada rekaman cctvnya gak???
    Bisakah anda buktikan bahwa tuhan itu tidak diciptakan??? Apa buktinya?
    Anda pernah melihat tuhan secara langsung?
    Anda pernah ngomong berdua secara langsung sama tuhan?
    Anda tau wujud tuhan?
    Anda tau jenis kelamin tuhan?

    Kalau jawaban anda semuanya “TIDAK” ya udah deh gak usah banyak cerita lagi berarti semuanya bulshit....

    Bagaimana mungkin anda bisa mendeskripsikan sesuatu yang seperti itu bahkan saya juga tidak boleh mengatakan itu “tidak berwujud” dan “tidak terdefinisi” selain dari pikiran dan imajinasi anda masing masing.....
    Oleh sebab itu maka muncullah agama yang akan menjawab semua tiu...tidak ada agama yang salah tapi juga tidak ada agama yang paling benar kembali lagi semua itu tergantung dari cara pemikiran dan persepsi anda masing masing.....

    ReplyDelete
  85. LUAR BIASA, CUKUP LOGIS!

    ReplyDelete
  86. engga usah susah-susah berdebat tentang tuhan...
    sekarang saya tanya saja, tuhan itu tinggal dimana??
    di surga??
    lalu, siapa yang nyiptain surga itu?? tuhan juga?? jadi sebelum surga itu ada, tuhan dimana?? di kubangan lumpur?? nah, kubangan lumpur itu siapa pula yang ciptain?? tuhan juga?? lalu, sebelum kubangan lumpur itu diciptain oleh tuhan dia tinggal dimana lagi??
    beginilah lingkaran setan kaum theist..

    ReplyDelete
  87. devilwalker,

    gampang saja menjawab pertanyaan anda itu. Saya tinggal balik tanya: kata siapa Tuhan itu butuh tempat tinggal? Emangnya Tuhan itu manusia yang butuh tempat kediaman?

    ReplyDelete
  88. lalu, dimana tuhan itu ada??
    tidakkah anda tahu bahwa wujud perlu menempati ruang??
    tidak ada ruang, gimana ada wujud??

    ReplyDelete
  89. devilwalker,

    jadi anda berpikir bahwa Tuhan itu membutuhkan ruang?
    Sekarang saya tanya, apakah mungkin Tuhan sang pencipta ruang dan waktu itu sendiri membutuhkan ruang untuk bisa eksis?

    Tuhan adalah sang pencipta ruang, tidak mungkin dia sendiri berada di dalam ruang tersebut.

    Sama seperti seorang tukang foto yang membuat foto, tidak mungkin dia sendiri berada di dalam foto tersebut.

    Sama seperti seorang pembuat aquarium, tidak mungkin dia sendiri hidup di dalam aquarium tersebut bukan?

    Atau sama seperti seorang yang membuat laci meja, apakah mungkin dia sendiri juga hidup di dalam laci tersebut?

    Demikianlah Tuhan sang pencipta ruang tersebut tidak mungkin juga ada di dalam ruang tersebut.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi lagi,

      Saya ingin bertanya pendapat anda mengenai pemahaman bahwa segala sesuatu harus ada yang menciptakan. dan dikatakan jika segala sesuatu harus ada yang menciptakan, siapakah atau apakah yang menciptakan Tuhan?

      Jika dikatakan Tuhan telah ada sejak lama dan tidak ada yang menciptakan. Mengapa sudut pandang seperti ini untuk pemikiran 'alam semesta telah ada sejak lama dan tidak ada yang menciptakan' tidak dapat diterima?

      Jika dikatakan bahwa hal seperti ini (Tentang awal keberadaan Tuhan) diluar nalar kita. Mengapa sudut pandang seperti ini untuk pemikiran 'awal dan akhir dari alam semesta ini diluar nalar kita' tidak dapat diterima?

      sebelumnya saya mohon maaf mungkin terasa lancang mempertanyakan Tuhan, dan bila memang tidak berkenan menjawab pertnyaan seperti ini saya sangat maklum.

      Terima kasih, Salam :)

      Delete
    2. salam,

      Langsung saja saya jawab.
      Sejak dulu sampai sekarang, tidak ada ahli filsafat yang mengatakan "segala sesuatu harus ada yang menciptakan". Filosofi yang ada adalah "segala sesuatu yang MEMILIKI PERMULAAN pasti ada yang menciptakan".
      Karena dunia ini memiliki permulaan, maka pasti dunia ini ada yang menciptakan.
      Tuhan tidak memiliki permulaan, jadi Tuhan tidak diciptakan.

      Terima kasih. :)

      Delete
    3. sorry, saya membalas via anonim.
      Menarik! anda membuat pengecualian untuk Tuhan, sehingga semua memiliki permulaan kecuali Tuhan. bagaimana jika saya membuat pengecualian selangkah kebelakang : alam semesta tidak memiliki permulaan. sudut pandang ini pun tidak dapat dibantah karena tidak bisa dibuktikan sebaliknya. Tetapi melalui jawaban anda saya sadar argumentasi ttg hal2 seperti ini ujung2nya stalemate karena kedua sudut pandang tidak bisa dibuktikan dengan nalar manusia, sehingga percuma berdebat ttg hal seperti ini. Terima kasih. :)
      regards,
      Caffeine_273

      Delete
    4. caffeine,
      Silahkan anda pelajari astrofisika dan anda akan tau bahwa hampir semua profesor astrofisika percaya bahwa alam semesta ini memiliki permulaan, yaitu big bang. Dan sebelum big bang tidak ada sesuatu apapun, tidak ada materi, tidak ada ruang-waktu, dsb. Jelas sekali bahwa alam semesta ini memiliki permulaan.

      Bukti paling jelas adanya big bang ini adalah ditemukannya bahwa alam semesta ini tidak statis/tetap, melainkan mengembang, bertambah besar. Hal ini telah dibuktikan karena jarak kita dengan bintang-bintang semakin lama semakin menjauh. Jika alam semesta ini terus mengembang semakin besar, maka pasti dulunya alam semesta ini berasal dari 1 titik kecil, singularitas.

      Saya bukan ahli astrofisika, saya hanya suka membaca buku-buku astrofisika. Tapi saya berani mempertanggungjawabkan perkataan saya ini: bahwa terlalu banyak bukti yang mendukung adanya big bang, dan bahwa hampir semua profesor astro fisika percaya pada teori big bang.

      Delete
  90. haha anda memberi analogi aquarium tahukah anda siapa yang mengungkapkannya pertama kali yaitu syekh ibnu arabi seorang tauhid sejati... anda arusnya malu...

    ReplyDelete
  91. dan tahukah anda sidartapun mengajarkan kita untuk menjadii seekor kura kura bukan seekor ikan yang sudut pandangnya terbatas pada air laut sehingga jika kura kura menyampaikan ada keindahan lain diluar sana anda tidak percaya. oleh karena itu keistimewaan tidak hanya milik seseorang tapi milik semua orang. itulah perlunya memperlakukan orang lain seperti memperlakukan diri sendiri.

    ReplyDelete
  92. dear pak paulus,
    apa yang di sampaikan bapak paulus di atas pernah saya alami, sewaktu berkunjung ke tempat saudara di bandung,mereka sangat antusias mengajak saya ke geraja,yang dimana nb saya bukan umat kristen,setelah berpikir,tidak ada salahnya ikut,mungkin saja ada masukan baik yang di dapatkan disana,ehh ternyata si pembuka agama berkotbah dan berkata langsung bahwa agama si A tidak benar dimana agama A itu ternyata agama yang saya anut,bertapa terkejutnya saya disana,sangat di sayangkan padahal saya pengen membuka diri untuk mengetahui lebih dari agama kristen,setelah itu sang pembuka agama berbicara bahwa dia sering di minta bantuan oleh umat nya untuk mengusir mahluk halus,dan ternyata di dalam kebaktian tersebut ada yang kesurupan dan belum terobati sampai acara kebaktian bubar.sangat di sayangkan kenapa beberapa oknum di kristen malah membuat pernyataan yang tidak bijaksana,saya cuma merasa apa yang ada di blog ini sama persis dengan apa yang saya dengarkan di dalam gereja,cuma judul dari topik pembicaraanya berbeda saja.maaf jika apa yang saya tuliskan menyinggung persaan orang lain.

    ReplyDelete
  93. nah, sekarang saya tanya lag, di ayat mana dijelaskan kalau allah itu merupakan pencipta ruang dan waktu??
    setahu saya yang ada hanya "allah menciptakan langit dan bumi"

    ReplyDelete
  94. Langit dan bumi (hashāmayim we’ēt hā’āres). Frase ini tidak boleh dipahami secara terpisah, karena ini merupakan merisme, yaitu sebuah pernyataan kebalikan untuk menyatakan totalitas, misalnya “siang dan malam” berarti “sepanjang hari”. Pemakaian frase hashāmayim we’ēt hā’āres dalam PL selalu menyiratkan makna totalitas atau segala sesuatu (Kej 2:1; Ul 3:24; Yes 65:17; Yer 23:24). Dalam Yoel 3:15-16 frase hashāmayim we’ēt hā’āres mencakup matahari, bulan, dan bintang. Jadi jelas bahwa frase "langit dan bumi" di Kejadian 1 tersebut maksudnya menyatakan keseluruhan alam semesta.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cerita yang ada di Alkitab jelas jelas menerangan hari pertama sampai hari ke tujuh berserta perincian nya
      contoh binatang merata, manusia pertama dan sebagainya , alkitab tidak menulis tentang pelanet yang lain.
      Ingat aku kalimat Yesus aku datang bukan menghilangkan Taurat
      Martius 5.17 -21 -48 Lukas 6-27-36
      Yesus dan Hukum Taurat
      Jangan engkau menyangka bahwa aku datang untuk menghilangkan hukum Taurat atau kitab Para Nabi , aku datang bukan untuk meniadakan melainkan untuk menggenapi karena aku berkata kepadamu . Sesungguhnya sebelum lenyapnya langit dan bumi ini satu Iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat , sebelum semuanya terjadi karena siapa yang meniadakan dari hukum Taurat sekalipun yang paling kecil dan mengajar kepada orang lain , ia akan duduk di tempat yang paling rendah di dalam kerajaan sorga dan siapa yang mengajarkan segala perintah perintah hukum Taurat akan menduduki tempat yang paling tinggi di dalam kerajaan surga
      semua yang dituangkan oleh MR Paulus Teguh hanya penilai diri sendiri:
      bukti berbuat baik perlu dalam alkibat yg diyakinai:Roma 2-1-16
      6 Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya
      Yaitu hidup kekal kepada mereka yang dengan tekun berbuat baik,mencarin kemulian ,kehormatan dan ketidak binasaan
      9 Penderitaan dan kesesakan akan menimpa setiap orang yang hidup yang berbuat jahat
      Kehormatan dan damai sejahtera akan diperoleh semua orang yang berbuat baik, sebab Tuhan tidak pandang bulu

      Salam Metta Karuna dan agape

      Delete
  95. @kisah nyata:
    Saya heran dengan sikap anda dalam kisah anda itu. Kenapa anda heran kalau orang Kristen menyatakan bahwa agama anda itu salah? Kristen dan Buddha itu secara fundamental berbeda; tidak mungkin kedua-duanya benar. Maka orang Kristen sudah pasti menyatakan agama Buddha itu salah. Dan sebaliknya para bhante Buddha pun juga pasti menyatakan Kristen itu salah. Bahkan gautama sendiri saja pernah terang-terangan mengatakan agama Hindu itu salah, meskipun beliau tetap menyuruh pengikutnya untuk menghormati agama Hindu. Jadi sebenarnya apa salahnya di sini?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan mengatakan agama Kristen menghargai agama Hindu dan buddha , saya kira tidak ada , yang pasti istilah kafir dan fasik sudah menunjukan kenencian dan dan menghina.
      Pendapat saya : suatu keyakinan harus mendatangkan kemajuan dan kebaikkan bukan mendatangkan peperangan atau tahayul
      Saya katakan : Kristen sering menekankan keimanan, bukan pelaksanaan kebaikkan , maka dari itu tulisan Paulus Teguh menjelasan bahwa manusia tidak perlu berbuat baik , kita telah direncanakan oleh tuhan, kita cukup imani saja .
      Saya kira ,lama lama generasi muda kita akan menjadi malas dan tunggu mujizat dari Tuhan dan dunia ini makin hancur dan akan kehilangan suatu budaya yang beradab , jadi untuk mencapai suattu keselamatan hanya melalaui iman dan karunia dari Tuhan
      pasti masuk surga.( Dosa telah tebus oleh Yesus )
      Walaupun saya melakukan kejahatan dengan apa pun .

      Delete
    2. Konsep keselamatan Kristen dapat diringkas kurang lebih seperti ini: semua manusia telah berbuat dosa dan tidak akan bisa mencapai keselamatan, sebaik apapun dia, sekeras apapun usahanya. 1 dosa saja sudah harus dihukum dengan neraka, perbuatan baik tidak akan bisa membayarnya. Karena itu, Yesus turun ke dunia untuk menebus dosa manusia. Manusia yang percaya kepada penebusan Yesus, menjadi tertebus semuanya dosanya.

      BUkti kalimat anda yang mengatakan pada penulisan "Keselamatan melalaui berbuat baik "
      saya kira kalimat inilah yang tidak sepaham dengan anda
      Terima kasih

      Delete
  96. dear pak paulus,
    jika anda memang punya waktu,luangkanlah waktu untuk coba ke vihara mendengarkan dhamma,pengalaman saya puluhan tahun ke vihara, para pembuka agama tidak pernah menjelekkan agama lain,apalagi langsung menunjuk pada agama tertentu, apakah anda sering dipaksa oleh umat buddha untuk ke vihara?dan saya rasa ada agama tertentu lah yang suka memaksakan kehendaknya untuk datang maupun pindah ke agamanya.itu udah rahasia sangat umum.dan ingat,seorang anggota sangha sangat menjaga tutur katanya dalam memberikan dhamma.jika ada seorang umat yang mau membukakan hatinya untuk coba mendengarkan dan menerima ajaran agama lain/baru.pada saat ia datang dan agamanya di jelekkan oleh pembuka agama tersebut,apa yang akan terjadi? thanks bpk paulus

    ReplyDelete
  97. gak usah panjang lebar pak Paulus, semua pendapat yang anda berikan cenderung melihat sisi buruk agama orang lain untuk membenarkan agama yang anda anut, benar atau salah tergantung pemahaman masing2, dunia gak akan damai kalau banyak orang2 seperti anda, alibi cuma ingin mempelajari agama orang lain, ujung2nya ngatain penganut agama orang lain adalah domba yang tersesat, bla bla, munafik trilili juga anda ini.

    ReplyDelete
  98. "jelas bahwa Alkitab juga menyatakan tentang beberapa hal yang tidak berubah misalnya : (1) Firman Allah yang tidak berubah selama-lamanya (Mat 5:18); (2) Tuhan tidak berubah (Mal. 3:6)." pernyataan anda ini hanya berdasar alkitab saja tetapi anda tidak melalukan pembuktian atas hal itu, coba anda pikirkan dengan seksama, apakah benar firman itu tidak berubah? dan apakah anda benar benar yakin akan hal itu,? tuhan dalam agama Buddha dapat di manifestasikan sebagai kondisi yang sudah terbebas dari lingkaran samsara 31 alam kehidupan yaitu nibana jadi tidak akan mengalami perubahan,dan sebelum anda mengetahui apakah nibbana itu anda tidak akan mengenal ajaran Buddha, ingat segala sesuatu yang berkondisi dan yang nampak maupun yang tidak nampak selama masih didalam roda samsara 31 alam kehidupan mereka akan mengalami perubahan anicca, tidak perduli itu ajaran atau firman, lihat banyak buktinya yang mengatasnamakan dirinya sebagai nabi karena mendapatkan firman dari allah, dan ini adalah bukti bahwa firman itu tidak kekal selalu mengalami perubahan.

    ReplyDelete
  99. anonim,

    dalam debat akademis, anda seharusnya tahu bahwa yang harus membuktikan argumennya adalah pihak yang aktif. Sebagai contoh, jika anda menuduh Kristen itu salah, andalah yang harus membuktikan itu, bukan kami. Karena di sini anda adalah pihak yang aktif, kami yang pasif.

    Karena itu seharusnya di sini andalah yang membuktikan bahwa firman Allah itu berubah-ubah. Saya heran; hanya karena ada banyak nabi, lantas anda mengatakan firman itu mengalami perubahan. Ya tentu saja Tuhan menggunakan banyak nabi karena Dia harus menyampaikan firman yang begitu banyak selama berabad-abad. Nyatanya firman yang disampaikan nabi-nabi itu saling selaras dan tidak pernah berkontradiksi satu sama lain.

    Sebaliknya, Pernyataan Gautama bahwa segala sesuatu bersifat sementara itu sudah self destroyed, mengkontradiksi dirinya sendiri. Jika segala sesuatu bersifat sementara, maka berarti kata-kata gautama itu sendiri pun juga bersifat sementara.

    ReplyDelete
  100. @anonim:
    maaf, saya tidak tahu mengapa komentar anda terhapus, padahal jujur saya sama sekali tidak menghapusnya.

    Yang saya ingin tanyakan: KAPAN orang Kristen menggunakan istilah fasik dan kafir pada agama lain???? Itu istilahnya orang Islam kali.... kenapa malah kami Kristen yang dituduh??? Sana tuduh orang Islam aja...


    Dan KAPAN pula saya mengatakan orang yang sudah ditebus tetap masuk surga meskipun berbuat jahat seperti apapun????

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bagus bagus anda sekarng sudah berani katakan perbuatan juga peranan ,bagi saya sangat sangat pentimg untuk mencapai suatu tingkat tertentu alias keselamatkan , bukan hanya imani kan

      Buktinya Yesus sendiri juga mengatakan kasih lebih tinggi dari iman
      Saya pernah mengatakan kasih adalah action ,sebab action atau perbuatan

      contohnya kalau kita mau sampai sarjana ,pasti kita harus melewati suatu proses pendidikan, untuk proses pendidikan ,pasti kita sendiri yang harus belajar lebih giat dan tekun untuk menuju suatu tingkat kesarjanaan kita .

      Jadi anda mengatakan agama buddha adalah egois sangat tidak tepat, sebab setahu saya agama buddha sangat menyarankan orang berbuat baik untuk sesama dan melatih diri menjadi Baik, bukankah di Alkitab menyarankan agar kita sempurna seperti dengan Tuhan

      saya akan menyambung kata fasik, setahu saya orang fasik adalah orang yang melakukan perbuatan dosa,karena umat buddha tidak berpendapat keselamatan hanya melalaui satu orang saja.

      kalau dialkitab mengatakan tidak ada keselamatan kalau tidak melalaui Yesus .

      kalau saya memahami kata fasik adalah dosa atau jahat yang tidak mentaati Yesus

      Dan ada istilah keselamatan hanya datang melalaui karunia dari Tuhan, kebaikkan manusia tidak diperlukan lagi.

      itulah pandangan yg sangat absolut,tentang Ketuhanan Kristen dan ditambah lagi rencana dari Tuhan.

      Coba lihat bagaimana kejadian ulah manusia ,apakah ini termasuk rencana Tuhan

      Delete
  101. KALO YANG DITEBUS AJA BELUM TENTU SELAMAT BERARTI SAMA SAJA DONK DENGAN MEREKA YANG ANDA ANGGAP PERLU DISELAMATKAN ATAU MEREKA YANG TIDAK MENGENAL PENEBUSAN SEPERTI UMAT BUDDHA DAN MUSLIM TETAP SAJA TIDAK SELAMAT SIMPLE KAN......

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jadi kesimpulannya manusia harus melakukan perbuatan baik, dan perbutan baik itu adalah kehendak hal yang sangat disenangi oleh Tuhan
      Lakukanlah amal bakti/Soleh yang sebanyak mungkin
      Atau lakukan karma baik

      Hal perbuatan baik merupakan hal yang umum , jadi jangan dihalangi lagi

      Delete
  102. Mas Paulus, tulisan saudara dan teman-teman yang menanggapi telah saya baca dan saya berterimakasih karena secara pengetahuan telah membuat saya membaca tentang konsep ketuhanan berbagai agama. Hal di atas akan menjadi sebuah bacaan alternatif berkualitas bagi generasi setelah kita yang mencari tentang konsep ketuhanan dari berbagai agama. Saya hanya dapat menyarankan sebaiknya Mas Paulus menerbitkan dalam sebuah buku yang -enak dibaca dan perlu-. Dituangkan apa adanya tanpa harus di edit agar generasi setelah kita dapat belajar lebih arif dan santun dalam berdialog. Lanjutkan terus membahasnya tanpa harus terbelenggu dalam kaidah ilmiah atau kaidah lain. Sejarah menulis bahwa banyak temuan-temuan bermanfaat yang gagal ditemukan dengan cara berpikir ilmiah. Kita sendiri adalah hasil dari buah emosi (cinta dan nafsu) bukan dari hasil kerja ilmiah, kecuali bayi tabung.

    ReplyDelete
  103. 1. Kontradiksi mengenai “keinginan” dalam pengajaran Budha. Di satu sisi Budha menganggap bahwa keinginan pribadi untuk suatu pemenuhan tertentu adalah jahat

    Perlu diluruskan komentar mengenai "keinginan pribadi bukanlah jahat" namun mengikat (mengandung konsekuensi) yaitu bila tidak terwujud disitu muncul penderitaan.


    2. Mengapa Sidharta Gautama, sang Budha sendiri justru memasuki Nirwana? Bukankah dengan demikian ia bertindak egois? Para biarawan biasanya menjawab dengan mengatakan bahwa pertanyaan diatas tidaklah relevan karena Budha bukanlah manusia
    .....................
    Sidharta Gautama adalah Allah yang menunjukkan dirinya kepada dunia untuk memberitakan mengenai pencerahan.

    Pernyataan di atas mungkin oknum tertentu atau sekte sesat yang menyatakannya atau sengaja membiaskan (mirip gereja sesat gitu). Tolong dihapus saja.


    3. Akan tetapi kita bertanya sekarang, bagaimana dengan penderitaan akibat bencana alam, tertabrak oleh pengemudi yang mabuk dan tertembak peluru nyasar.

    Menurut pandangan ajaran Buddha, itu terjadi karena karma yang berbuah bagi orang tersebut. Adanya bencana belum tentu merupakan penderitaan, tergantung kesiapan batin invididu tersebut. Konsekuensi tertembak adalah jelas bagi seorang di bidang militer.

    ReplyDelete
  104. Dear Paulus Teguh : saya senang Anda buat blog ini khususnya berkenanan dengan Buddhisme. Saya tanpa sengaja membaca artikel tsb di web Wihara.com dan blog yg Anda buat ini beserta komentar2 dari umat Buddhis yg merasa keberatan dgn artikel tsb.

    Dan setelah melihat komentar2 diblog ini, terasa nasib kita tidak jauh berbeda. Bukan argumentasi logis dan akademis yg didapat, tetapi hinaan dan cacian yg ada. Hal ini menunjukan bahwa org2 tsb belum menjalankan
    dharma yg telah diajarkan. Jadi hanya bersifat pemahaman namun
    pelaksanaannya belum nyata( sesuai slogan ehipassiko ).

    Ada hal yg aneh disini, jika mereka keberatan, mengapa mereka tidak keberatan di web Dharmacitta yg nyata2 menghina ajaran Kristen? Dan kita tak perlu ke wihara atau cetya untuk membuktikan bahwa para bhante atau bikkhu selalu berbicara luhur dan tidak menyinggung ajaran agama lain. Cukup bisa kita buktikan dengan searching di google tulisan2 mereka yg berkaitan dengan ajaran Kristen utk membuktikan bahwa mereka juga melakukannya.

    Tahun lalu, kebetulan saya searching di web dan ketemu blog dedewijaya tentang buku Dari Buddha Hingga Yesus. Disana sedang terjadi komentar2 yg sgt panas. Dan saya yakin, bbrp yg memberi komentar juga ada diblog ini, salah satunya devil walker.

    Saya senang Anda membuat blog ini, setidaknya ada umat Kristen yg peduli dgn Buddhisme dan berusaha belajar tentang Buddhisme serta mampu menjawab hal2 yg selama ini orang Kristen tidak mengerti tentang Buddhisme menjadi lebih paham.

    Salam sejahtera;

    Buddha Josaphat
    buddhajosaphat@yahoo.com

    ReplyDelete
  105. @Buddha Josaphat
    jika umat Buddha mempunyai komentar yang pedas ttg suatu artikel yang menurut mereka tidak sesuai, itu hal manusiawi. Kecuali mereka sudah memiliki kebijaksanaan yang cukup. Saya kira kita tak hidup di mana masa Yesus hidup , jadi apa yang ada dalam alkitab , merupakan karangan yang belum dibuktikan otentiknya. Begitu juga dgn mereka yang beragama Buddha , tidak hidup di masa Buddha Gautama. Anda tidak memahami 'Dhamma' tapi berpikir seolah memahaminya. Saya sendiri telah membaca Alkitab ( perjanjian lama dan baru ). Ajarannya menurut saya bagus , tapi Bukan hal yang luar biasa .Karena tidak mengajarkan 'Menemukan Diri Sendiri' dan hakekat 'kehidupan' . Sejujurnya 'Dhamma' yang Buddha , bukan milik Buddha Gautama, tapi ada di Alam ini, seperti hukum Gravitasi ( bukan milik Newton ) .

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu karena anda hanya membaca Alkitab secara sepintas tanpa menelitinya lebih jauh.

      Saya adalah orang yang cukup mendalami filsafat; memang pada awalnya saya merasa filsafat buddhism sangat mendalam, lebih rumit dibanding Alkitab. Namun belakangan saya menemukan bahwa Alkitab mengandung kebenaran filosofis yang bahkan lebih mendalam lagi.


      Agama Buddha mengajarkan untuk mengosongkan diri, melenyapkan keinginan; Kristen lebih maju 1 langkah: Kristen mengajarkan untuk "mematikan manusia lama beserta keinginan duniawinya", lalu "dibangkitkan bersama Yesus". Bukan saya lagi yang hidup, namun Roh Kudus yang hidup di dalam saya.


      Kristen mengajarkan tentang menemukan hakikat kebenaran mutlak, hakikat kehidupan, dsb itu semua di dalam Sang Allah pencipta; sedangkan Buddhism mengajarkan dhamma itu hanya sebatas pada alam ini; alam yang tidak lebih dari ciptaan Tuhan.

      Delete
  106. Berbicara Roh Kudus, saya kira tidak semua itu roh kudus , sebab sering terjadinya keserupan di acara agama dianggap kemasukkan roh kudus ,pada hal belum tentu.
    Yang namanya roh kudus dalam pengalaman saya , sngat sedikit sekali terjadi pada manusia di jaman sekarang ini, manusia masih banyak yang membohong,masih mau lakukan tindakkan mengusai makluk yang lain.

    Untuk mimpi saja, bertemu kepada Yesus sudah sulit sekali, kalau dalam mimpi pun hanya dapat bisa mendengar suaranya atau melihat saja, saya yakin untuk komunikasi hampir tidak ada.

    Kalau ada yang bisa berbahasa roh juga bukan dari Roh kudus ,kemumgkinan adalah:
    1. Suasana yang trance yang terjadi akibat dari sering mendengar kata kata yang diucapkan oleh turun penurun ,sehingga terjadinya akumulasi di alam bawah sadar.

    Bahkan ada yang sengaja menghafal kalimatnya, agar dilihat seolah olah bisa berbahasa roh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam sejahtera! ^^
      saya tdk sengaja lewat dan penasaran dengan komentar di artikel ini yang buuuaaanyaak sekali, dan ternyata ada yang blm dijawab... :O
      saya coba jawab yaa...

      dear anonymous yg berkomentar pd 8 Mei 2012,
      mengenai Roh Kudus, bukan berarti orang yang bisa ngomel2 pake bahasa yang kita tidak mengerti itu adalah orang yang dipenuhi Roh Kudus. memang pendapat Anda masuk akal, mungkin saja seperti itu. sebetulnya, orang yang dipenuhi Roh Kudus adalah orang yang memiliki buah Roh di dalam hidupnya. spt tertulis di Galatia 5:22-26
      "Gal 5:22 Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan,
      Gal 5:23 kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.
      Gal 5:24 Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.
      Gal 5:25 Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh,
      Gal 5:26 dan janganlah kita gila hormat, janganlah kita saling menantang dan saling mendengki."
      begitu... :D

      dan kita tidak perlu cari wangsit dengan berusaha mimpi Yesus, karena:
      Ibrani 8:10 "Maka inilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu," demikianlah firman Tuhan. "Aku akan menaruh hukum-Ku dalam akal budi mereka dan menuliskannya dalam hati mereka, maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku."


      Yohanes 14:26 tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.

      Tuhan itu dekat dengan kita, selalu menyertai kita, kita bisa berkomunikasi kapanpun dan di manapun denganNya... nggak perlu lewat mimpi.. :)
      karena Tuhan yang menciptakan ruang dan waktu tidak terikat ruang dan waktu. Dia tau segala hal walau kita menyembunyikannya, Dia bahkan tau apa yang terbaik bagi kita.

      Delete
  107. saudara sedharma

    sang Buddha berpesan : jika suatu saat ada org menghina ajaran ataupun dirinya, jangan lah engkau marah,

    perhatikan apa yang sudah ataupun belum kita lakukan, jangan perhatikan apa / belum orang lain lakukan..

    look inside, waktu terus berjalan...

    akan lebih baik waktu yg ada di gunakan untuk mengembangkan diri , jangan karena benci mengharapkan org celaka, kembangkanlah cinta kasih

    bpk paulus, semoga anda selalu berbahagia,,

    semoga semua makhluk berbahagia..

    ReplyDelete