Wednesday, July 21, 2010

Kisah Para Martir (2)

Penganiayaan kali ini terjadi di masa pemerintahan Kaisar Marcus Aurelius Antoninus (162-180 M). Marcus Aurelius seorang filosof dan menulis Meditations, karya klasik stokisme, yang bersikap acuh tak acuh terhadap kesenangan atau penderitaan. Aia juga kejam dan tidak berbelas kasihan terhadap orang-orang Kristen. Kekejaman terhadap orang-orang Kristen dalam penganiayaan ini begitu tidak manusiawi sehingga banyak orang yang menyaksikannya merasa muak dengan kekejaman itu dan merasa takjub melihat keberanian orang yang mengalami siksaan itu. Beberapa martir, kakinya dihancurkan dengan alat penjepit dan kemudian dipaksa berjalan di atas duri, paku, kerang yang tajam, dan benda-benda tajam lainnya. Orang lainnya dicambuk sampai otot dan dan pembuluh darah mereka pecah. Kemudian setelah mengalami penderitaan melalui siksaan yang paling mengerikan yang bisa dipikirkan, mereka dibunuh dengan cara yang mengerikan. Namun, hanya sedikit yang berpaling dari Kristus atau memohon kepada penyiksa mereka untuk meringankan penderitaan mereka.
Polikarpus, seorang murid Rasul Yohanes dan penilik gereja di smirna. Ia mendengar bahwa para prajurit mencarinya lalu berusaha melarikan dirii, tetapi ia ditemukan oleh seorang anak. Setelah memberi makan para penjaga yang menangkapnya, ia meminta waktu satu jam untuk berdoa dan permintaannya dikabulkan mereka. Ia berdoa dengan begitu tekun sehingga para penjaga itu meminta maaf kepadanya karena mereka ditugaskan untuk menangkapnya. Namun, ia akhirnya dibawa ke depan gubernur dan dihukum bakar di tengah pasar. Setelah putusan hukumannya ditentukan, gubernur berkata kepadanya, "celalah Kristus dan aku akan melepaskan kamu."
Polikarpus menjawab, "Delapan puluh enam tahun aku telah melayani Dia; Ia tidak pernah berbuat salah kepadaku. Bagaimana mungkin aku mengkhianati Rajaku yang telah menyelamatkan aku?"
Di tengah pasar, ia diikat di tonggak dan tidak dipaku seperti kebiasaan pada saat itu karena ia menjamin mereka bahwa ia akan berdiri tanpa bergerak dalam nyala api dan tidak akan melawan mereka. Pada saat kayu-kayu kering yang diletakkan di sekitarnya dinyalakan, nyala api itu berkobar dan menyelubungi tubuhnya tanpa membakarnya. Maka pelaksana hukuman diperintahkan untuk menusuknya dengan pedang. Ketika ia melakukannya, darah yang sangat banyak menyembur keluar dan memadamkan api itu. Meskipun teman-teman Kristennya memohon agar tubuhnya diberikan kepada mereka supaya mereka dapat menguburkannya, musuh-musuh Injil bersikeras agar tubuhnya dibakar dengan api, dan itu dilaksanakan.



No comments:

Post a Comment