Wednesday, August 24, 2011

Eksposisi Kejadian 1:3-5 (oleh: Yakub Tri Handoko, Th.M.)

PEMAHAMAN ALKITAB GKRI-EXODUS (2010)
Eksposisi Kitab Kejadian
Ev. Yakub Tri Handoko Th.M.


KEJADIAN 1:3-5
Seandainya kita memahami 1:1-2 sebagai tindakan awal penciptaan, maka 1:3-31 harus dilihat sebagai tindakan lanjutan. Apa yang dilakukan di 1:3-31 tidak semuanya merupakan penciptaan dari sesuatu yang sebelumnya belum ada. Beberapa yang “diciptakan” jelas sudah ada sebelumnya, misalnya laut (air) di hari 3 (1:9-10) yang sudah ada di 1:2. Dalam kasus seperti ini, penciptaan yang dimaksud lebih ke arah “penataan”.


Struktur
Kisah penciptaan di Kejadian 1 dipaparkan dalam sebuah struktur 2-3 (two-triad structure). Artinya, hari 1-3 sejajar dengan hari 4-6. Apa yang dilakukan di hari 1-3 merupakan persiapan untuk hari 4-6. Perhatikan tabel berikut ini:
Hari 1 Hari 4
Terang: pemisahan terang & gelap Benda penerang: pemisahan siang & malam
Hari 2 Hari 5
Cakrawala: pemisahan air di atas & di bawah Binatang air (ikan) & udara (burung)
Hari 3 Hari 6
Tanah kering: pemisahan darat & laut Binatang darat & manusia
Tumbuh-tumbuhan Tumbuhan sebagai makanan


Beberapa frase penting
Sebelum membahas detil penciptaan pada masing-masing hari, ada beberapa kata atau frase yang muncul berkali-kali dalam bagian ini, sehingga layak untuk mendapat perhatian serius. Frase pertama yang perlu diteliti adalah “jadilah petang dan jadiah pagi” (1:5, 8, 13, 19, 23, 31). Frase ini selalu muncul pada setiap akhir hari penciptaan. Pertanyaan yang sering dimunculkan berkaitan dengan frase ini ada dua: (1) mengapa urutannya adalah petang – pagi, bukan sebaliknya?; (2) mengapa sudah ada petang – pagi di hari 1 padahal matahari dan bulan baru muncul di hari 4?
Dua persoalan di atas sangat berkaitan. Jika kita memberikan jawaban yang tepat untuk pertanyaan ke-1, maka hal itu sekaligus akan menjawab persoalan ke-2. Dalam hal ini kita perlu menentukan terlebih dahulu apa maksud dari “petang – pagi”.
Urutan “petang – pagi” telah dipahami secara berbeda oleh para teolog. Beberapa menganggap frase ini berkaitan dengan konsep orang Yahudi yang memahami bahwa sebuah hari dimulai pada waktu petang (Gordon J. Wenham). Sebagai dukungan terhadap hal ini, mereka mengutip beberapa teks Alkitab yang menyiratkan bahwa sebuah hari kadangkal dimulai pada petang hari, misalnya Mazmur 55:18 (“di waktu petang, pagi, dan tengah hari aku menangis”) dan Yohanes 11:9 (“Bukankah ada 12 jam dalam sehari”). Beberapa menanggap “petang – pagi” sebagai waktu luang antara penyelesaian suatu hari sampai permulaan hari berikutnya (Victor Hamilton; Cassuto).
Kelemahan utama dari dua pandangan di atas adalah mengabaikan nilai sastra dari kisah penciptaan. Semua kisah ini – sekalipun merupakan peristiwa historis – dilakukan dan disampaikan dalam gaya sastra yang indah. Urutan “petang – pagi” jelas tidak mungkin dipahami secara hurufiah seperti kita memahaminya sekarang, karena matahari dan bulan baru diciptakan pada hari 4. Sesuai dengan konteks yang ada, urutan ini sebaiknya dilihat secara retoris, untuk mengambarkan perubahan dari kegelapan (1:2) menuju terang (1:3), atau dari situasi yang tidak teratur (digambarkan dengan “petang”) menjadi lebih teratur (digambarkan dengan “pagi”). Dugaan ini diperkuat dengan fakta bahwa pada hari 7 tidak ada keterangan “petang – pagi”, karena pada hari itu memang tidak ada perubahan apapun yang dilakukan di bumi. Seandainya “petang – hari” berarti “satu hari”, bukankah kita berharap bahwa hari 7 pun akan diberi keterangan yang sama?
Pandangan di atas tidak bermaksud untuk menyanggah bahwa orang-orang Yahudi memahami petang sebagai permulaan hari. Beberapa contoh Alkitab yang sudah dikutip sebelumnya cukup untuk membenarkan hal itu. Bagaimanapun, bukan itu yang ada dalam pikiran Musa ketika ia menulis Kejadian 1. Lagipula, Alkitab juga memberikan beberapa contoh bahwa pagi hari dipahami sebagai permulaan sebuah hari (Kej 19:33-34; Hak 6:38; 21:4) atau keseluruhan hari disebut dengan ungkapan “dari pagi sampai petang” (Kel 18:13-14). Jadi, permulaan hari memang dipahami secara beragam (bukan kontradiktif) oleh orang Yahudi, tetapi hal itu tidak relevan untuk memahami frase “petang – pagi” di Kejadian 1 yang dimaksudkan secara retoris (sastra).
Frase kedua yang perlu dibahas adalah “Allah melihat bahwa yang dijadikan adalah baik”. Frase ini muncul berkali-kali (1:4, 10, 12, 18, 21, 25, 31), walaupun tidak muncul di setiap hari penciptaan (frase ini tidak muncul di hari 2). Dalam seluruh bagian Kitab Kejadian, aktivitas “melihat” (rā’â) yang dikenakan pada Allah memang memegang peranan penting: (1) sebutan pertama untuk Allah adalah “Allah yang melihat” (’ēl rŏ’î, 16:13); (2) Allah disebut Abraham sebagai Allah yang rā’â (22:14). Tindakan Allah melihat di pasal 1, sangat kontras dengan tindakan-Nya ketika melihat keberdosaan orang-orang pada zaman Nuh (6:5) atau para pembuat menara Babel (11:5). Hasil dari tindakan rā’â di Kejadian 1 adalah “baik”, sedangkan di tempat ain adalah “dosa yang serius”.
Ketika Allah melihat ciptaan-Nya, Ia memberi penilaian “baik” (tôb). Seperti sudah disinggung sebelumnya, kata ini terutama harus dipahami secara sastra sebagai kontras terhadap keadaan bumi yang “belum berbentuk dan kosong” (tōhû wābōhû). Dengan mengatakan sesuatu sebagai tôb, maka Allah sedang memberitahukan bahwa keadaan yang “belum siap didiami” (tōhû) sekarang perlahan-lahan mulai “siap untuk didiami” (tôb). Tôb lebih berarti “apa yang berguna bagi kehiduan manusia” (John Sailhamer).
Kata tôb juga harus dipahami dalam perspektif kosmologis kuno. Bangsa-bangsa kafir waktu itu cenderung melihat materi sebagai sesuatu yang jahat. Beberapa bagian dari ciptaan dianggap sebagai hal yang menakutkan, misalnya laut atau malam hari. Dalam perspektif Alkitab tidak ada satu ciptaan pun yang jelek atau jahat. Seluruh ciptaan menceritakan kemuliaan Allah (Mzm 19:2) dan menyatakan sifat Allah yang ilahi serta berkuasa (Rom 1:19-20). Tidak ada satupun dalam ciptaan yang pada dirinya sendiri adalah najis (Rom 14:14). Semuanya adalah baik (1 Tim 4:4) dan memberikan kegirangan pada manusia (Mzm 104:14-15; Pkt 3:12-13; Yer 31:12).
Kata tôb pun harus dipahami secara teologis. Hanya Allah yang berhak menentukan apakah sesuatu itu baik (1:4, 10, 12, 18, 21, 25, 31) atau tidak baik (2:18). Allah tidak membagi hak ini kepada manusia, karena itu Ia melarang Adam dan Hawa untuk memakan buah pengetahuan yang baik dan yang jahat (2:17). Kejatuhan manusia ke dalam dosa justru terjadi ketika mereka ingin “menjadi seperti Allah tahu tentang yang baik dan yang jahat” (3:5). Keberdosaan secara massal yang menyebabkan hukumam air bah juga terjadi karena anak-anak Allah mencoba “melihat” (rā’â) anak-anak perempuan manusia dan memutuskan sendiri bahwa perempuan-perempuan tersebut mereka adalah “cantik-cantik” (tôb).
Frase/kata berikutnya yang tidak boleh diabaikan adalah “hari” (yôm). Pengertian yôm di Kejadian 1 telah menimbulkan perdebatan yang panjang dan menghasilkan beragam usulan. Sebagaimana kita ketahui bersama, dari sisi jangkauan arti, kata yôm memang bisa berarti “siang” (Neh 4:22; Ay 3:3; Hos 4:5), “hari” (Kej 39:10; Yos 10:13; Est 4:16; ), “periode tertentu” (1 Sam 1:21; 2:19; 20:6), dsb. Di antara semua kemungkinan ini, arti manakah yang paling sesuai dengan konteks Kejadian 1?
Salah satu pandangan yang sempat diusulkan sebagai solusi adalah teori hari pewahyuan. Menurut teori ini yôm tidak merujuk pada hari penciptaan, tetapi hari ketika Musa mendapatkan pewahyuan dari Allah. Dengan kata lain, Musa menerima wahyu tentang penciptaan dunia selama 6 hari.
Walaupun teori ini terkesan sangat kreatif dan menarik, namun tidak didukung oleh bukti apapun. Teori ini hanyalah spekulasi belaka. Bagian Alkitab yang lain jelas memakai ungkapan 6 hari sebagai hari penciptaan (Kel 20:11; 31:17), bukan hari Musa menerima wahyu.
Pandangan lain yang paling populer adalah pandangan tradisional. Menurut teori ini kata yôm di Kejadian 1 memiliki makna hurufiah sebagai rujukan pada satu hari 24 jam. Argumen yang sering dipakai sebagai dukungan adalah peraturan untuk menghormati Hari Sabat yang didasarkan pada hari penciptaan (Kel 20:8-11). Di samping itu, frase “jadiah petang, jadilah pagi” (1:5, 8, 13, 19, 23, 31) ditafsirkan sebagai batasan 24 jam menurut konsep Yahudi.
Jika kita menyelidiki secara seksama, maka kita akan menemukan bahwa pandangan di atas sebenarnya tidak sekuat yang sering dipikirkan oleh banyak orang. Sebagaimana kita sudah bahas sebelumnya, frase “jadilah petang, jadilah pagi” tidak bisa dipahami secara hurufiah. Lagipula, frase tersebut di hari 7 tidak muncul sama sekali. Apakah ini berarti bahwa hari 7 bukan 24 jam? Bukankah lebih bijaksana untuk memahami durasi hari 1-7 sebagai sebuah periode yang tidak tertentu, bisa panjang atau pendek?
Penggunaan hari penciptaan sebagai dasar Hari Sabat pun tidak boleh dimengerti seperti yang dilakukan oleh penganut pandangan tradisional. Dalam Alkitab juga diajarkan tentang peraturan tentang Sabat yang lain, misalnya tahun Sabat (Kel 23:10-11; Im 25:3-7) dan Sabat pembebasan (7 x 7 tahun, Im 25:8-17). Data ini justru mendorong kita untuk memikirkan hari penciptaan yang dijadikan dasar Sabat secara figuratif merujuk pada periode tertentu yang tidak tertentu (bsa hari, tahun, atau lainnya).
Berikut ini adalah argumen positif yang mendukung bahwa yôm di Kejadian 1 harus dipahami sebagai suatu periode tertentu.
1. Kata yôm yang muncul di Kejadian 2:4b tidak mungkin diartikan sebagai 24 jam. Secara hurufiah kata ini berarti “pada hari (yôm) ketika TUHAN Allah menjadikan langit dan bumi (KJV “These are the generations of the heavens and of the earth when they were created, in the day that the LORD God made the earth and the heavens”, juga ASV/NKJV/NASB/RSV/NRSV, kontra LAI:TB “ketika”). Yôm di teks ini merujuk balik pada rentetan proses penciptaan di Kejadian, paling tidak setelah hari ke-5.
2. Kata yôm di Kejadian 1 tidak memakai kata sandang tertentu, sehingga durasinya pun seharusnya dipahami secara tidak tentu pula.
3. Kata yôm diikuti angka kardinal (1, 2, 3, dst), bukan ordinal (ke-1, ke-2, ke-3, dst). Penerjemah ASV, RSV, dan NASB dengan tepat memilih “one day” (kontra KJV/NIV/ESV/NLT/NRSV “the first day”, YLT “day one”).
4. Perhitungan hari sudah ada sejak hari 1-3, padahal matahari dan bulan baru diciptakan pada hari 4.
5. Pembacaan secara natural pasti memberi kesan bahwa proses penciptaan di tiap hari terjadi secara spontan atau cepat. Ketika Allah mengucapkan sesuatu, maka sesuatu itu langsung jadi, tanpa harus menunggu sekitar 24 jam. Sebagai contoh, terang di hari 1 (1:3-5) pasti tidak diciptakan dalam durasi 24 jam.
6. Secara logis lebih masuk akal untuk mempercayai bahwa tindakan Allah berada di luar waktu daripada dibatasi oleh waktu. Setiap kali Allah selesai mengerjakan sesuatu, itulah satu hari, begitu seterusnya.
7. Proses penciptaan di hari 6 kemungkinan besar membutuhkan waktu lebih dari 24 jam.
(a) Kejadian 2:18 menunjukkan durasi waktu tertentu selama Adam menjalankan tugasnya (memelihara dan mengusahakan taman Eden), hingga akhirnya Allah melihat „tidak baik manusia seorang diri saja‟ untuk melakukan perintah di 2:15.
(b) Rasa kesendirian yang dialami Adam (2:20) pasti merupakan suatu proses panjang.
(c) Tindakan Adam „menamai semua bintang‟ (2:19-20) pasti membutuhkan waktu lebih dari 24 jam.
(d) Dalam Kejadian 2:23 ada satu keterangan waktu yang tidak diterjemahkan dalam LAI:TB, yaitu kata zō’t happa’am, yang seharusnya diterjemahkan „sekarang setelah sekian lama” (bdk. 28:34-35; 30:20; 46:30, RSV/NRSV “this at last is”, juga NET/NJB). Penggunaan ungkapan zō’t happa’am dalam Kejadian selalu menyiratkan durasi waktu yang cukup lama, misalnya 29:34 “sekali ini (setelah melahirkan 3 anak) suamiku akan...”, 46:30 “sekarang (sejak peristiwa di pasal 37) bolehlah aku mati”.
Frase lain yang tidak kalah penting untuk dibahas adalah “Allah menamakan” (1:5, 8, 10). Tindakan memberi nama dalam kisah penciptaan memegang peranan cukup penting. Memberi nama berarti memiliki otoritas atas yang diberi nama. Adam diberi otoritas atas semua binatang (1:26, 28), karena itu ia juga diberi wewenang oleh Tuhan untuk memberikan nama kepada binatang (2:19-20). Adam juga diciptakan sebagai kepala dan sumber keberadaan perempuan (2:21-22; bdk. 1 Kor 11:7-8; 1 Tim 2:12-13), karena itu ia berhak memberi nama kepada Hawa (2:23). Tindakan Allah memberi nama pada kegelapan, cakrawala, darat, dan laut menunjukkan bahwa Ia memiliki otoritas atas semuanya itu. Hal ini cukup menarik, karena kegelapan, cakrawala dan laut seringkali menjadi obyek rasa takut dalam kosmologi kuno. Walaupun tidak dikatakan secara eksplisit bahwa Allah menciptakan kegelapan, namun Ia tetap berkuasa atas kegelapan itu.
Frase terakhir adalah “berfirmanlah Allah....maka Allah menjadikan....” Pola “Allah berfirman dan menjadikan” muncul beberapa kali (1:6-7, 14-16, 24-25). Pola ini menimbulkan kesulitan bagi sebagian penafsir, karena memberikan kesan bahwa penciptaan pada hari-hari tertentu melibatkan dua tindakan, yaitu “berfirman” dan “menjadikan”. Kesulitan ini semakin tampak karena pada saat Allah mengatakan sesuatu, apa yang dikatakan langsung terjadi (bdk. “dan jadilah demikian”, 1:15, 24) atau baru terjadi setelah “Allah menjadikan” (1:7). Seandainya dengan firman-Nya Allah sudah sanggup menciptakan sesuatu, mengapa Ia masih perlu menjadikannya lagi?
Dua tindakan Allah di atas sebaiknya tidak dipertentangkan seolah-olah Allah tidak konsisten dalam menciptakan dunia atau Ia perlu melakukan dua tindakan untuk menciptakan satu hal. Bagian Alkitab yang lain memberikan peneguhan bahwa Allah menciptakan melalui firman-Nya (Mzm 33:6). Firman Allah adalah kreatif dan efektif. Frase “berfirmanlah Allah...” merupakan narasi, sedangkan “maka Alah menjadikan...” adalah komentar penulis terhadap apa yang diceritakan. Gaya penulisan seperti ini paling jelas terlihat di 2:21-24. Ayat 21-23 merupakan narasi, sedangkan ayat 24 sebagai komentar. Gaya ini berguna untuk mengarahkan respon pembaca pada apa yang diceritakan. Dalam kasus Kejadian 1 gaya ini berfungsi untuk meyakinkan para pembaca bahwa yang menciptakan adalah sungguh-sungguh Allah, bukan yang lain.
Hari 1 (1:3-5)
Berfirmanlah Allah. Penciptaan pada hari 1 memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan hari lain. Penciptaan di 1:3-5 adalah satu-satunya kisah penciptaan yang memenuhi semua formula “standar” penciptaan yang terdiri dari: pendahuluan (“berfirmanlah Allah”), perintah (“jadilah”), penggenapan (“dan jadilah demikian”), pelaksanaan (maka....jadi), penilaian (“Allah melihat...”), penamaan (“Allah menamai...”), nomer hari (“hari...”). Yang lebih menarik, porsi untuk menceritakan narasi (tindakan Allah) dengan komentar penulis (narator) sangat kontras. Perkataan Allah di hari 1 sangat singkat, tetapi justru yang paling penting. Seorang teolog mengatakan, “Allah adalah penyanyi solo, narator hanyalah pengiring”.
Jika dibandingkan dengan kosmologi kuno, penciptaan melalui firman (di 1:26-27; 2:19-23 juga melalui tindakan langsung) termasuk unik. Walaupun dua cara penciptaan ini juga disinggung dalam kosmologi kuno, tetapi yang lebih menonjol adalah penciptaan melalui konflik para dewa atau kelahiran ilahi. Konsistensi Alkitab dalam menekankan penciptaan melalui firman menunjukkan bahwa kuasa Allah melampaui semua dewa kafir.
Terang. Pandangan populer seringkali melihat terang di hari 1 sebagai terang yang berbeda dengan sinar matahari, karena matahari baru diciptakan pada hari 4. Sebagian menyebut ini sebagai terang dari kemuliaan Allah atau sekadar terang tertentu yang terpisah dari matahari. Beberapa teks yang mengaitkan keberadaan Allah dengan terang pun dikutip sebagai dukungan (Mzm 104:2; Hab 3:3b-4; 1 Tim 6:16; 1 Yoh 1:5). Gambaran tentang langit dan bumi yang baru di akhir zaman juga menunjukkan bahwa terang eskhatologis tidak bergantung pada matahari (Yes 60:19-20; Yl 2:30-31; Zak 14:7; Why 22:5). Pandangan sains modern juga membuktikan bahwa keberadaan sinar dalam tata surya tidak bergantung sepenuhnya pada matahari. Matahari bukanlah satu-satunya sumber terang di langit.
Seperti sudah disingging dalam pembahasan di 1:1, frase “langit dan bumi” mencakup segala sesuatu, termasuk matahari. Pertimbangan konteks mendorong kita untuk melihat terang di hari 1 sebagai sinar matahari. Selain itu, “penciptaan matahari” di hari 4 (1:14-19) sebenarnya lebih ke arah “penataan” atau “peletakan” (lihat pembahasan di bagian tersebut). Kalau kegelapan dan terang di hari 1 bersifat konstan (dalam arti tidak ada perubahan atau pergeseran), maka di hari 4 keadaan ini mulai diubah. Keberadaan benda-benda penerang memungkinkan terjadinya pergeseran antara terang-gelap, siang-malam.
Lebih jauh, seandainya terang di hari 1 terpisah dari matahari, maka akan menimbulkan dua kesulitan: (1) mengapa terang dari Allah di hari 1 hanya menyinari bagian tertentu saja?; (2)jika terang di hari 1 bukan terang ilahi maupun sinar matahari, mengapa Allah perlu menciptakan sesuatu yang selanjutnya di hari 4 tidak akan memiliki fungsi lagi? Bukankah semua yang diciptakan di Kejadian 1 tidak ada yang mubazir?
Penciptaan terang di hari 1 merupakan sesuatu yang relatif mudah untuk dipahami. Alasan yang terutama berhubungan dengan keadaan bumi sebelum hari 1 yang masih gelap-gulita (1:2). Kekuasaan Allah atas kegelapan yang digambarkan dengan Roh Allah yang melayang-layang di atas permukaan air, sekarang menjadi lebih kentara. Allah bukan hanya berkuasa atas kegelapan, tetapi Ia juga berkuasa meniadakan kegelapan tersebut. Kehadiran Alah tidak hanya terbatas secara lokal, tetai juga relasional. Kehadiran-Nya membawa pertolongan.
Tindakan Allah yang menciptakan terang untuk mengatasi kegelapan memiliki arti yang lebih bagi bangsa Israel waktu itu. Mereka pasti mampu mengaitkan tindakan ini dengan kuasa Allah yang menghukum tanah Mesir dengan kegelapan tetapi tetap memberikan terang kepada mereka di Gosyen (Kel 10:23). Mereka juga dengan mudah menghubungkan terang ini dengan tiang api yang memimpin mereka di tengah malam di padang gurun (Kel 13:21). Keberadaan pelita di kemah suci yang harus menyala sepanjang waktu menjadi simbol kehadiran Allah yang terus-menerus di tengah umat-Nya (Kel 25:37; Im 24:2). Begitu pula dengan kehadiran-Nya di Gunung Horeb yang ditandakan dengan nyala api yang sangat besar dan tinggi serta mengatasi kegelapan di sekelilingnya (Ul 4:11).
Alasan yang kedua mengapa terang dijadikan lebih dahulu berhubungan dengan konteks sastra Kejadian 1. Terang diperlukan sebagai persiapan bagi tindakan ilahi “melihat” (1:4, 10, 12, 18, 21, 25, 31), walaupun secara teologis Allah tetap bisa melihat di dalam kegelapan (Mzm 139:11-12). Keberadaan terang juga menolong pembaca untuk mampu menggambarkan (mem-visualisasikan) proses penciptaan dengan lebih baik. Tanpa keberadaan terang maka semua proses tersebut menjadi mustahil untuk dipahami dengan baik (kita sulit mendapatkan visualisasi di dalam kegelapan).
Allah memisahkan terang dari gelap. Pemisahan merupakan fenomena yang umum dalam kisah penciptaan (1:4, 6-7, 14, 18). Allah memisahkan terang dan gelap (1:4, 18), air di atas dan di bawah (1:6-8), siang dan malam (1:14). Beberapa penafsir melangkah terlalu jauh dengan menafsirkan pemisahan ini sebagai nasehat bagi bangsa Israel untuk memisahkan diri dari bangsa-bangsa kafir di sekeliling mereka (Im 20:24). Dugaan ini membutuhkan pemisahan antara yang baik dan yang jahat, sedangkan dalam kisah penciptaan semua adalah baik (1:31). Dalam beberapa kasus ide tentang pemisahan dalam Pentateukh juga tidak menyiratkan kontras antara yang baik dan yang jahat, misalnya pemilihan Lewi (Bil 8:14; Ul 10:8), 3 kota perlindungan (Ul 4:41).
Pemisahan di atas seharusnya dipahami sebagai pemisahan yang positif sekaligus kontras terhadap pemisahan negatif yang muncul setelah kejatuhan ke dalam dosa. Dalam penciptaan, pemisahan menuju pada keteraturan dan keindahan. Dalam kejatuhan manusia ke dalam dosa, pemisahan menuju pada kekacauan: Allah dan manusia terpisah (3:7-10), Adam dan Hawa mengalami disharmonis (3:16), manusia terpisah dari kesempurnaan alam (3:17-19).
Allah menamai. Di 1:4 Alkitab memang tidak menyatakan bahwa kegelapan itu baik. Alkitab juga tidak menjelaskan bahwa Allah menciptakan kegelapan. Bagaimanapun, hal ini tidak berarti bahwa kegelapan berada di luar kontrol Allah. Tindakan Allah menamai kegelapan (1:5) dan mengaturnya (1:14-18) menunjukkan bahwa Ia berkuasa atas kegelapan. Kegelapan bukanlah sesuatu yang ada secara kekal (pada mulanya bukanlah kegelapan, tetapi Allah, bdk. 1:1). Kegelapan ada karena terang yang dijadikan di 1:1 belum diperintahkan Allah untuk memancarkan terangnya sampai ke bumi. Dengan demikian dalam taraf tertentu kita dapat mengatakan bahwa Allah menciptakan kegelapan (Yes 45:7), karena itu Ia berkuasa atasnya. Ia berkuasa mengubah (1:3) atau memakai kegelapan untuk menggenapi rencana-Nya (Kel 10:23; 14:20).

Sumber: http://www.gkri-exodus.org/image-upload/KEJADIAN%201%20ayat%203-5.pdf

No comments:

Post a Comment