Sunday, March 18, 2012

Yesus Usia 13-30 Tahun

Pendalaman Alkitab GKRI Exodus, 8 Agustus 2006
Yakub Tri Handoko, Th. M.


Catatan Alkitab tentang fase kehidupan Yesus:
1. Kisah kelahiran (Mat 1-2 dan Luk 1-2) sekitar tahun 6 SM.
2. Usia 12 tahun (Luk 2:41-52).
3. Usia 30 tahun (band. Luk 3:23) – mati (semua Injil kanonik) sekitar tahun 28 M
(seandainya Yohanes mencatat semua Paskah yang dihadiri Yesus).
Dari gambaran di atas terlihat bahwa Alkitab tidak memberikan keterangan apapun tentang kehidupan Yesus antara usia 12-30 tahun (sebenarnya kisah hidup Yesus antara usia 2-12 tahun juga tidak dicatat). Apa yang dilakukan Yesus selama usia 12-30 tahun? Di manakah Dia selama waktu tersebut?
Mengingat keterbatasan keterangan Alkitab tentang hal ini, tidak heran muncul berbagai spekulasi sejak abad-abad permulaan sampai jaman modern. Berikut ini adalah beberapa versi spekulatif tentang hidup Yesus di usia 12-30 tahun yang berasal dari kitab-kitab “injil” kanonik maupun literatur modern.
1. Injil Thomas.
Kitab ini paling banyak menceritakan tentang masa kecil Yesus. Salah satu cerita yang terkenal adalah ketika Yesus pada usia 5 tahun membuat 12 burung-burungan dari tanah liat pada hari Sabat. Ketika orang Yahudi dan ayahnya menegur Dia karena telah
melanggar Sabat, ia menepukkan kedua telapak tangan-Nya dan berseru kepada burungburungan tersebut “pergi!”. Seketika itu juga, burung-burungan tersebut menjadi burung sesungguhnya.
2. Injil Arabik tentang Kisah Masa Kecil Juru Selamat.
Kitab ini juga mencatat beberapa peristiwa spektakuler mulai dari kelahiran Yesus. Salah satu cerita menarik yang dicatat dalam kitab ini adalah ketika keluarga Yusuf-Maria kembali dari Mesir. Ketika mereka ada di kota Betlehem, seorang ibu membawa anaknya yang sakit kepada Maria yang waktu itu sedang memandikan Yesus. Maria memerintahkan ibu itu untuk mengambil sedikit air bekas air mandi Yesus dan
memercikkannya ke tubuh anaknya yang sakit. Setelah ia melakukan ini anaknya bebas
dari penyakit dan sehati kembali.
3. Yesus di Himalaya.
Salah satu isu modern yang paling populer seputar “tahun-tahun Yesus yang hilang” (the Lost Years of Jesus) adalah keberadaan-Nya di India pada usia 12-30 tahun dan setelah penyaliban-Nya. Isu ini mulai mencuat pada tahun 1894 dengan publikasi buku La vie inconnue du Jesus Christ (diterjemahkan dalam bahasa Inggris menjadi The Unknown Life of Jesus Christ, tahun 1907) yang dikarang oleh Nicolas Notovich. Setelah itu beragam tokoh dengan berbagai motivasi yang berbeda mengadakan penelitian ke India dan Tibet untuk mencari bukti tambahan yang telah disebut dalam buku Notovich.

Beberapa buku lain seputar isu ini segera dipublikasikan. Salah satu ciri khas dari semua buku tersebut – terlepas dari keberagam dan kontradiksi di antara buku-buku itu – adalah keyakinan bahwa Yesus belajar berbagai aliran keagamaan yang ada di India pada waktu itu.
Setelah Ia berumur 30 tahun, Ia kembali ke Israel. Setelah penyaliban, Ia kembali lagi ke India. Akhirnya, Yesus mati dan dikuburkan di Kashmir pada usia 120 tahun.
Semua catatan di atas hanyalah segelintir cerita dari sekian banyak spekulasi yang beredar seputar tahun-tahun hidup Yesus yang tidak dicatat oleh Alkitab. Bagaimana orang Kristen seharusnya menyikapi hal ini? Benarkah Yesus berada di beragam tempat dan melakukan berbagai mujizat seperti yang diceritakan dalam kitab-kitab tersebut? Untuk menjawab hal ini, ada beberapa hal yang perlu dipahami terlebih dahulu, yaitu genre kitab-kitab Injil, sikap bapa-bapa gereja awal dan doktrin tentang kecukupan ALkitab. Setelah itu, pembahasan akan difokuskan pada tanggapan terhadap isu tersebut.
Genre (jenis literatur) kitab Injil
Penyelidikan dan perbandingan yang teliti menunjukkan bahwa jenis literatur keempat kitab Injil kanonik (Matius-Yohanes) adalah unik menurut ukuran disiplin sastra pada waktu itu.
Kitab-kitab Injil memiliki perbedaan yang esensial dibandingkan jenis literatur lain yang populer waktu itu. Kitab-kitab Injil bukanlah sebuah bios (biografi tokoh terkenal), praxeis (kisah kepahlawanan kuno) maupun apomnhmoneumata (kumpulan perkataan tokoh terkenal). Kitab-kitab Injil juga tidak berupa kitab sejarah, walaupun kitab-kitab tersebut memiliki kredibilitas historis.
Berdasarkan keunikan ini, para penyalin Alkitab sejak abad ke-2 memberi label khusus untuk keempat kitab tersebut. Mereka menyebutnya sebagai kitab-kitab Injil (euangelion). Para sarjana modern memakai sebutan sejarah teologis (theological history) atau narasi teologis (theological narrative). Sebagai sebuah sastra “injil” atau narasi/sejarah teologis, kitab-kitab ini tidak menceritakan segala sesuatu yang dilakukan dan dikatakan Yesus (band. Yoh 20:30-31; 21:25). Sebaliknya, para penulisnya memprioritaskan pesan teologis yang ingin mereka sampaikan melalui cerita tentang perkataan dan tindakan Yesus.
Pesan teologis apa yang ingin disampaikan sangat berhubungan dengan tujuan khusus
penulisan suatu kitab. Injil Lukas ditulis supaya Teofilus dan kelompok orang Kristen non-Yahudi lainnya tahu bahwa apa yang mereka terima selama ini adalah benar (Luk 1:1-4). Injil Yohanes ditulis sebagai pedoman penginjilan bagi orang-orang Kristen Yahudi untuk membuktkan bahwa Kristus adalah Mesias, Anak Allah (Yoh 20:30-31).
Berangkat dari kekhususan tujuan penulisan ini, masing-masing penulis mengadakan
akumulasi data, seleksi data dan interpretasi data. Tidak semua cerita tentang Yesus yang beredar dianggap benar. Mereka hanya mengumpulkan data yang benar. Dari sekian data yang benar tentang Yesus, masing-masing penulis memilih data mana yang relevan dengan tujuan yang ingin mereka capai. Mereka kemudian menafsirkan berbagai data tersebut dari sudut pandang teologis tertentu dan mempresentasikan dengan cara tertentu yang paling efektif untuk mencapai tujuan itu. Semua proses penulisan ini sesuai dengan prosedur umum yang berlaku dalam penulisan kitab-kitab sejarah kuno.
Jadi, kenyataan bahwa tidak semua fase hidup Yesus dicatat dalam Alkitab merupakan
sesuatu yang bisa dipahami. Secara logika, tidak mungkin sorang penulis menceritakan
segala sesuatu yang dikatakan Yesus selama hidup-Nya. Secara teologis, Roh Kudus memang tidak mengilhami para penulis untuk menuliskan segala sesuatu. Pertanyaan yang relevan untuk direnungkan adalah, “kalau Roh Kudus saja tidak mendorong penulis Alkitab untuk mencatat semua yang mereka ketahui tentang Yesus, mengapa orang Kristen pada periodeperiode selanjutnya perlu berspekulasi tentang banyak hal seputar kehidupan Yesus?”.
Seandainya hal-hal tersebut adalah benar dan penting bagi iman gereja, Roh Kudus pasti akan mengilhami para penulis Alkitab untuk menceritakan segala sesuatu dengan detil.

Berkaca dari sejarah gereja
Setelah jaman para rasul berakhir, mulai abad ke-2 dimulailah masa yang disebut pascarasuli. Keberadaan gereja pada masa ini sangat dipengaruhi oleh bapa-bapa gereja awal yang merupakan murid atau cucu murid para rasul, misalnya Polykarpus, Irenaeus. Yang menarik untuk dicermati adalah bahwa para penerus rasul tersebut tidak terjebak pada berbagai spekulasi tentang hidup Yesus, terutama kehidupan-Nya waktu usia 12-30 tahun. Tidak ada satu pun bapa gereja awal yang membahas tentang tahun-tahun Yesus yang hilang. Sebagian dari mereka memang membahas beberapa konsep tentang Yesus yang salah yang disebarkan oleh berbagai bidat waktu itu (misalnya Irenaeus menulis Against Heresies), namun pembelaan ini terbatas pada hal-hal yang memang dicatat oleh Alkitab dan telah diputarbalikkan oleh para bidat. Berbagai kitab injil apokrif yang mencatat “kehidupan Yesus lain” di luar Alkitab umumnya ditulis bukan oleh penerus para rasul (bidat) mulai pertengahan abad ke-2 (Injil Yudas) sampai periode-periode selanjutnya (Injil Thomas, Filipus, Maria Magdalena, dsb). Pendeknya, para bapa gereja awal tidak mau menceburkan diri pada hal-hal yang tidak dicatat oleh Alkitab, padahal mereka kemungkinan besar mengetahui hal-hal itu dari penjelasan lisan para rasul yang menjadi guru mereka.

Alkitab bersifat cukup (sufficient), bukan lengkap
Para teolog injili mengakui satu maxim dalam teologi, yaitu the sufficiency of the Bible(kecukupan Alkitab). Alkitab tidak menuliskan segala sesuatu tentang diri Allah. Sebaliknya, Alkitab hanya mencatat hal-hal yang diperlukan untuk keselamatan manusia. Alkitab ditulis bukan supaya manusia memahami Allah sepenuhnya (semua hal tentang Allah), melainkan supaya manusia mengenal Allah dengan benar. God is knowable, yet He is incomprehensible.
Seandainya Allah menyatakan seluruh diri-Nya, manusia yang terbatas pasti tidak akan bisa memahami wahyu tersebut. Ulangan 29:29 mengajarkan “Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini”.
Dalam konteks kehidupan Yesus, Ia memang merupakan puncak dari wahyu Allah (Ibr 1:1-
2). Melalui inkarnasi-Nya manusia bisa melihat Allah pada tingkat wahyu yang paling tinggi (Yoh 1:18). Setiap perkatan dan tindakan Yesus dalam sejarah adalah sesuai dengan kehendak Allah dan merupakan penyataan diri Allah. Bagaimanapun, orang Kristen tidak dituntut untuk mengetahui seluk-beluk kehidupan Yesus secara detil. Roh Kudus hanya mengilhamkan hal-hal yang perlu untuk keselamatan orang Kristen.
Kitab-kitab injil non-kanonik Pada abad-abad permulaan beredar beragam sejumlah kitab yang membahas tentang perkatan atau tindakan. Kitab-kitab ini biasanya disebut dengan istilah “kitab injil non-kanonik” atau “kitab injil apokrif”. Istilah “injil” sebenarnya tidak tepat jika dipakai untuk menyebut kitab-kitab tersebut, karena kitab tersebut umumnya tidak membahas penebusan Kristus dengan lengkap dan benar. Karakteristik sastra dari kitab-kitab tersebut juga tidak identik dengan kitab-kitab kanonik.
Bapa-bapa gereja awal sudah mengetahui keberadaan kitab-kitab ini pada jaman mereka.
Mereka juga sudah menyatakan sikap mereka, yaitu menolak kitab-kitab itu sebagai firman Allah. Mereka hanya menerima keempat kitab injil dalam Alkitab dan memakainya dalam bacaan jemaat (public reading, band. 1Tim 4:13) pada setiap ibadah. Mereka menolak kitabkitab tersebut berdasarkan kriteria tradisi (apakah suatu kitab langsung diterima sebagai firman Allah oleh gereja secara umum sejak abad ke-1?), wibawa apostolik (apakah suatu kitab ditulis oleh atau bersumber dari para rasul?) dan ortodoksi (apakah suatu kitab tidak bertentangan dengan wahyu Allah sebelumnya?). Berdasarkan kriteria tersebut, kitab-kitab non-kanonik jelas tidak memenuhi persyaratan. Sikap resmi gereja terhadap kitab-kitab
tersebut selanjutnya dinyatakan dalam bentuk kanonisasi Alkitab pada abad ke-4, namun jauh sebelum proses kanonisasi resmi dilakukan, gereja abad permulaan sudah mengadakan evaluasi terhadap kitab-kitab non-kanonik tersebut.
Sekarang, mari kita bandingkan kredibilitas kitab-kitab injil kanonik maupun non-kanonik berdasarkan kriteria pengujian sebuah kitab kuno. Untuk menguji suatu kitab kuno biasanya diberlakukan tiga macam ujian: bibliographical test (apakah jarak antara peristiwa-penulisan dan penyalinan dekat? Apakah jumlah salinan yang cukup banyak untuk merekonstruksi autografa?), internal evidence test (apakah suatu tulisan menunjukkan keseriusan penulis terhadap kebenaran?) dan external evidence test (apakah bukti lain di luar kitab tersebut mendukung apa yang ditulis dalam kitab itu?).
Hasil dari pengujian tersebut adalah sebagai berikut:
1. Jarak peristiwa-penulisan-penyalinan Alkitab jauh lebih pendek daripada kitab-kitab nonkanonik
yang ditulis pertengahan abad ke-2 maupun abad sesudahnya.
2. Jumlah salinan Alkitab jauh lebih banyak dibandingkan salinan kitab-kitab non-kanonik tersebut. Alkitab memiliki lebih dari 5000 salinan. Catatan: poin ini sebenarnya tidak terlalu konklusif pada dirinya sendiri, karena jumlah penganut bidat memang jauh lebih sedikit dibandingkan penganut iman ortodoks, sehingga jumlah penyalin dari pihak bidat juga kurang. Bagaimanapun, poin ini tetap memiliki nilai apabila digabungkan dengan argumen lain.
3. Keseriusan para penulis Alkitab terhadap kebenaran terlihat dari beberapa teks yang sulit dipahami (difficult readings) dan rujukan historis yang melimpah.
4. Arkheologi dan para penulis kafir kuno turut mempertegas kebenaran kitab Injil.
Kita telah membahas bahwa tidak semua perkataan dan tindakan Yesus ditetapkan Allah
untuk diketahui sepenuhnya oleh orang Kristen pada periode selanjutnya. Dalam bagian ini kita juga telah melihat keunggulan kredibilitas kitab-kitab injil kanonik secara objektif dibandingkan kitab-kitab non-kanonik Pertanyaan bagi kita adalah “apakah kita lebih mempercayai “Yesus lain” yang dicatat dalam kitab-kitab non-kanonik?”. Apa yang ditulis dalam kitab-kitab itu mungkin tidak setiap detilnya salah, namun kita seharusnya lebih menerima kebenaran kitab-kitab injil kanonik, terutama pada saat kitab-kitab non-kanonik mengajarkan “Yesus yang lain”.

Yesus di India
Buku maupun film tentang Yesus di India sudah beredar luas (Jesus in the Himalaya).
Banyak orang sudah memberikan respon terhadap hal ini. Berikut ini adalah beberapa poin penting mengapa orang Kristen sebaiknya menolak pandangan ini.
1. Semua spekulasi seputar keberadaan Yesus di India terutama didasarkan pada pengakuan Notovich bahwa ia telah menuliskan ulang sebuah dokumen kuno di biara Hemis tahun 1887 yang dibacakan oleh seorang biarawan. Notovich tidak pernah membaca dokumen tersebut secara langsung. Dokumen ini sendiri sampai sekarang tidak pernah ditemukan dan dipublikasikan kepada publik. Beberapa peneliti mengaku sudah melihat dokumen yang ditulis ulang Notovich, namun tidak ada bukti untuk menunjukkan akurasi pengakuan tersebut. Seandainya mereka pernah melihatnya, bukankah mereka pasti akan mempublikasikan dokumen tersebut untuk mendukung pandangan mereka, sekalipun memperoleh berbagai keuntungan: uang dan popularitas? Seandainya para biarawan telah menolak untuk meminjamkan dokumen tersebut kepada mereka dengan alasan takut dokumen itu dimusnahkan gereja (seperti yang mereka biasa katakan), bukankah para biarawan bisa menyalin dokumen tersebut sebanyak mungkin dan mendistribusikannya secara publik?
2. Seandainya dokumen itu memang ada, mengapa orang modern harus lebih mempercayai
dokumen ini daripada kitab-kitab injil kanonik yang secara uji historis lebih bisa
dipercaya?
3. Di luar keberadaan dokumen yang sangat kontroversial dan spekulatif ini, data lain yang dipakai untuk mendukung pandangan ini terlalu dipaksakan, misalnya kuburan Yahudi dengan sebuah gambar tapak kaki dan rosario, jumlah rosario Katholik yang sama dengan ajaran Budha, kemiripan ajaran Yesus dengan Budha.
4. Beberapa penulis bahkan sangat dipengaruhi oleh The Aquarian Gospel of Jesus Christ karya Dowling yang diakui oleh penulisnya didapat melalui pengalaman mistis yang supranatural, bukan berdasarkan penelitian sejarah yang memadai.
5. Sebagian dari tradisi ini juga didapat dari kitab-kitab non-kanonik abad ke-4, misalnya The Acts of Thomas dan The Gospel of Thomas.
6. Yesus yang ditampilkan di beragam tulisan seputar isu itu berbeda-beda. Sebagian bahkan tampak kontradiktif.
7. Penyebutan Yesus sebagai Issa jelas mengindikasikan bahwa tradisi ini baru muncul
setelah agama Islam berkembang.
8. Ajaran Yesus sangat berakar pada konsep Perjanjian Lama (band. Mat 5:17-19), bukan pada ajaran agama-agama di India. Dalam berbagai buku yang mempercayai Yesus
pernah hidup di India pun dijelaskan bahwa Yesus menentang ajaran-ajaran tersebut.
9. Kepergian Yesus ke tempat yang jauh pada usia dini (13 tahun) tidak sesuai dengan kultur Yahudi yang sangat menekankan tanggung jawab anak untuk merawat ayahnya (Luk9:60).
10. Bagi orang Yahudi, asal-usul seorang nabi memegang peranan sangat penting (band. Yoh 7:52). Seandainya Yesus menimba ilmu dari negara kafir, hal itu terlihat sangat aneh dari sisi kultur Yahudi. Seandainya ia menimba ilmu dari luar Israel, para pemimpin agama Yahudi pasti akan menolak Dia berdasarkan faktor ini.
11. Seandainya Yesus memang pernah hidup dan mati di India, mengapa tidak ada satu
murid-Nya pun yang mengetahui dan mencatat hal ini? Seandainya murid-murid-Nya
berbohong tentang kehidupan Yesus yang sebenarnya (Yesus yang asli tidak sesuai
dengan Yesus dalam kitab-kitab injil kanonik), mengapa mereka mau mati hanya demi
sebuah kebohongan yang mereka ciptakan sendiri?

Yesus usia 13-30 tahun menurut Alkitab
Setelah membuktikan inferioritas nilai historis data non-kanonik tentang kehidupan Yesus,sekarang kita akan lebih mendasarkan konsep kita pada Alkitab (dengan keyakinan bahwa Alkitab adalah firman Allah dan memiliki kredibilitas historis yang jauh lebih tinggi daripada kitab-kitab non-kanonik). Seperti telah dijelaskan di bagian sebelumnya, Alkitab tidak memberikan catatan khusus tentang kehidupan Yesus di usia 13-30 tahun. Apa yang akan dipaparkan dalam bagian ini hanyalah beberapa ayat yang secara implisit memberi rujukan tentang hal itu. Dari penyelidikan teks-teks tersebut dapat disimpulkan bahwa Yesus kemungkinan besar menghabiskan seluruh hidupnya secara normal di Israel (Nazaret) sebagai orang Yahudi biasa.
(1) Markus 6:3.
Dalam teks ini Yesus tidak disebut sebagai anak tukang kayu (band. Mat 13:55), tetapi tukang kayu. Penyebutan “anak Maria” dalam ayat ini (bukan anak Yusuf seperti
kebiasaan Yahudi pada umumnya) sangat mungkin mengindikasikan bahwa Yusuf telah
meninggal pada usia muda (Yoh 19:25) dan Yesuslah yang meneruskan pekerjaan
ayahnya.
(2) Lukas 2:51.
Dalam teks ini disebutkan bahwa Yesus tetap hidup dalam asuhan mereka di Nazaret.
NASB secara tepat menerjemahkan “...He continued in subjection to them”. Dari sisi tata bahasa Yunani, ayat ini memang menyiratkan bahwa Yesus selama kurun waktu tertentu di masa lampau (bentuk imperfect hn) terus-menerus berada dalam ketundukan (bentuk present dari participle {upotassomenos) kepada mereka. Teks lain yang mendukung hal ini adalah Lukas 4:16 “Nazaret, tempat Ia dibesarkan”. Yesus sendiri juga menyebut Nazaret sebagai tempat asal-Nya (Luk 4:24). Tidak heran, penduduk Nazaret sangat mengenal Dia maupun seluruh saudara-Nya (Mat 13:55//Mar 6:3).
(3) Matius 11:5//Lukas 7:21-22, bandingkan Lukas 4:17-21.
Semua mujizat yang Yesus lakukan bukan sekedar menunjukkan bahwa Ia adalah orang
yang istimewa. Apa yang Dia lakukan merupakan tanda bahwa Ia adalah Mesias yang
dijanjikan Allah (Luk 4:17-21//Yes 61:1-2; Yoh 20:30-31). Lukas 4:17-21 secara eksplisit menunjukkan awal pelayanan Yesus dalam menggenapi nubuat ini (bandingkan Luk 3:23). Berdasarkan pemikiran ini, kita harus menolak semua cerita spekulatif tentang berbagai mujizat yang Yesus lakukan pada masa kanak-kanak-Nya. #

Sumber: http://www.gkri-exodus.org/image-upload/HIS%2018%20Yesus%20Usia%2012-30%20tahun.pdf

4 comments:

  1. Bagi saya Yesus itu Memang ada
    Yesus ada pada orang yang melakukan cinta kasih secara universal
    Yesus kadang kala melakukan hal yang berlawanan dengan adat istriadat yahudi adalah demi cinta kasih yang universal.
    Kalau memang dia ke India bagi saya adalah hal yang baik, karena disana banyak manusia yang sikap yang agape.

    Saya bukan Kristen Tapi saya mengenal Dia yang selalu bersama dengan saya, sebab dia lah salah satu bodhisatva yang luar biasa.
    Dia selalu bersama saya , membimbing saya

    Jadi Yesus bukan hanya membimbing orang kiristen saja

    Saya bukan menyesatkan ,tapi memang kenyataan memang apa adanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sayang sekali, namun pada kenyataannya ajaran Yesus sama sekali bertentangan dengan Gautama.
      Yesus tidak memberi manusia ratusan peraturan seperti yang dilakukan gautama; sebaliknya, Yesus sendirilah yang menebus dosa manusia dan memberi jaminan keselamatan.

      Delete
  2. Bertentangan menurut pandangan anda ,namun bagi saya tidak bertentangan, yang baik saya pilih, yang ragu ragu saya buang dahulu.

    Jadi janganlah memaksa orang untuk menerima doktrin secara kehendak diri mu sendiri, bukankah saya suka makan cincalok kalimantan, lalu saya maksa anda makan cincalok juga, itu tidak mungkin.
    Ada orang suka makan pisang dan ada orang tidak suka makan durian.

    Kehendak anda memang sudah ajaran dari sana, yang suka memaksa orang lain.
    contohnya di Inggeris orang tidak boleh cadar, lalu dipaksakan dengan kekuantan'

    Untung di INdonesia belum ada orang yang model seperti anda, mau memaksa kehendak sendiri.
    atau seperti di Korea, presidennya sengaja menghilangkan brosur pariwisata yang berhubungan dengan sejarah Buddha di hilangkan.

    Itulah menunjukan orang yang tidak bijak mau menang sendiri

    Saya sangat tahu jelas tulisan ini , mau di munculkan atau tidak.
    Bagi saya tidak masalah, yang pemnting apa yang saya alamai lebih berharga dari apa yang dituliskan belum tentu dirasakan oleh anda.

    Ratusan peraturan bagi saya itu bagus ,coba di hitung peraturan yang ada di masyarakat sudah ratusan banyaknya, masih banyak yang lakukan korupsi dan melanggarnya.

    Yang paling ringan saja, peraturan lalulintas dan buang sampah saja sudah tidak di jalanakan, apa lagi sedikit adanya.

    Salam damai untuk semuanya
    Semoga semua makluk dapat melakukan hal hal yang baik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya tidak pernah memaksa anda untuk mengikuti apa yang saya percayai. Silahkan anda memegang kepercayaan anda sendiri. Saya hanya memaparkan apa yang sudah saya ketahui dan pemikiran saya.

      Terserah anda mau mengakuinya atau tidak, namun faktanya ajaran Yesus dan Gautama banyak bertentangan. Yesus mengajarkan bahwa hidup hanya 1 kali, sedangkan Gautama mengajarkan tumimbal lahir yang sampai berkali-kali. Apakah itu sama? Yesus mengajarkan kita untuk berdoa pada Allah Bapa di surga, sedangkan Gautama tidak pernah mengajarkan adanya Allah, apakah itu sama?

      Mengenai banyaknya peraturan, anda bisa cek di universitas-universitas amerika dan eropa, di sana peraturan-peraturan sangat sedikit dibandingkan universitas di Indonesia, namun nyatanya mereka justru lebih bagus. Di sana, mahasiswa boleh bolos sesuka hatinya, boleh kuliah pakai tank top atau apapun, terserah. Namun nyatanya mereka terbukti lebih maju dan lebih bagus daripada kita.

      Delete